LANGIT7.ID-, Yerusalem - Ada lebih dari 4.200 pemukim Israel dan anggota kelompok sayap kanan menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki mereka. Salah satu aksi penerobosan terbesar tahun ini tersebut dilakukan mereka saat memperingati hari raya Yahudi.
Menteri Keamanan Nasional Israel dari kelompok sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, juga memasuki lokasi tersebut dengan pengawalan ketat polisi pada hari Kamis (23/7) dalam rangka Tisha B’Av, hari berkabung Yahudi yang menandai peristiwa hancurnya kuil kuno Yahudi sebanyak dua kali di lokasi yang dikenal oleh umat Muslim sebagai Al-Aqsa dan oleh umat Yahudi sebagai Temple Mount (Bukit Bait Suci).
Otoritas Palestina untuk wilayah kegubernuran Yerusalem menyatakan bahwa sejauh ini, 4.288 warga Israel telah memasuki kompleks tersebut.
Baca juga: Walikota Muslim New York Zohran Mamdani Sungguh Pemberani: Mau Menangkap PM Israel, Benjamin NetanyahuAngka tersebut diperkirakan akan terus meningkat hingga matahari terbenam. Ada yang menyebut bisa mencapai 5.000 orang, yang berarti melampaui jumlah yang tercatat pada hari raya Yahudi di tahun-tahun sebelumnya.
Tidak hanya melakukan aksi penerobosan, para pejabat Palestina menyatakan bahwa pasukan Israel memberlakukan pembatasan ketat di gerbang-gerbang masjid, melarang masuknya banyak jemaah dan pelajar Palestina, serta melakukan kekerasan terhadap sejumlah jemaah.
Nour Odeh, koresponden
Al Jazeera di Ramallah, Tepi Barat yang diduduki, mengatakan bahwa otoritas Israel telah mengambil langkah-langkah ekstrem di Kota Tua Yerusalem, termasuk melarang akses ke kompleks Al-Aqsa bagi siapa pun kecuali lansia serta memperketat pemeriksaan di pos-pos seperti Qalandiya dan di sekitar Yerusalem Timur.
Pihak gubernur Yerusalem menyatakan bahwa para pemukim Israel tersebut melakukan ritual Talmud di dalam kompleks tersebut, termasuk bersujud, bernyanyi, dan berdoa.
Baca juga: Negara Uni Eropa Ramai-ramai Boikot Perdagangan Produk Asal Pemukiman Ilegal IsraelMedia Israel melaporkan bahwa polisi mengizinkan lebih dari 1.000 warga Israel untuk berdoa di lokasi tersebut pada hari Kamis(23/7). Meskipun non-Muslim diizinkan mengunjungi situs tersuci ketiga dalam Islam itu, mereka dilarang berdoa di sana berdasarkan kesepakatan tahun 1967.
Ben-Gvir mengatakan bahwa orang-orang Yahudi yang mengunjungi lokasi tersebut pada hari Tisha B'Av "merasa seperti pemiliknya". Ia juga memuji apa yang disebutnya sebagai "kemajuan luar biasa" di sana, demikian dilaporkan surat kabar Haaretz. (*/lsi/Al Jazeera)
(lsi)