LANGIT7.ID, Jakarta; - Memasuki usia ke-81 tahun kemerdekaan Indonesia, momen sejarah ini menjadi waktu yang sangat tepat bagi seluruh elemen bangsa untuk merenungi hakikat perjuangan, ujian, dan pergiliran masa. Kemerdekaan yang dinikmati hari ini bukanlah hadiah gratis, melainkan buah dari pengorbanan darah, air mata, serta keteguhan iman para pahlawan dan ulama yang pantang menyerah dalam menghadapi kezaliman kolonialisme.
Memahami perjalanan bangsa yang penuh pasang surut mengantarkan kita pada hikmah Ilahi yang terkandung dalam firman Allah SWT pada Surat Ali 'Imran ayat 139 dan 140. Petunjuk Al-Qur'an ini memberikan landasan yang sangat kuat tentang bagaimana seorang mukmin harus bersikap dalam menghadapi dinamika peradaban.
Ketetapan dan dorongan iman dari Allah SWT tersebut terpatri jelas di dalam Al-Qur'an:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١٣٩) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ (١٤٠)
Artinya: "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu pada perang Uhud mendapat luka, maka sesungguhnya kaum kafir itu pun pada perang Badar mendapat luka yang serupa. Dan masa kejayaan dan kehancuran itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran, dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada."
Secara historis, Surat Ali 'Imran ayat 139 diturunkan sebagai bentuk penghiburan atau tasliyah langsung dari Allah SWT kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW. Setelah mengalami ujian amat berat dan kekalahan taktis dalam Perang Uhud yang merenggut nyawa banyak syuhada, timbul duka mendalam di hati kaum muslimin.
Imam at-Tabari menegaskan bahwa ayat ini turun untuk mengobati luka fisik dan mental para sahabat agar mereka tidak berkecil hati apalagi berpaling dari kewajiban berjihad. Melalui penjelasan Syekh as-Sa'di, larangan dalam ayat ini mencakup dua dimensi penting, yaitu kelemahan pada fisik dan kesedihan pada hati. Larangan ini menjadi peringatan keras bahwa ratapan berlebihan dan rasa minder hanya akan menambah beban musibah serta memberi keuntungan psikologis bagi pihak musuh.
Lebih lanjut, penggalan ayat yang menegaskan bahwa kaum beriman adalah pihak yang paling tinggi kedudukannya mengandung pesan tauhid yang amat mendalam. Imam at-Tabari menjelaskan bahwa keunggulan ini merujuk pada janji kemenangan akhir serta akibat yang baik bagi orang-orang yang konsisten di atas kebenaran.
Sebagaimana diuraikan oleh Imam ar-Razi, jika seseorang mencermati perjalanan sejarah umat-umat terdahulu, para pengikut kebatilan mungkin saja sempat meraih keunggulan semu di suatu waktu, namun akhir dari perjalanan mereka selalu bermuara pada kehancuran dan kelemahan.
Sebaliknya, kedudukan dan kebenaran yang dibawa oleh kaum beriman akan tetap luhur dan abadi. Keimanan dalam ayat ini bertindak sebagai syarat mutlak sekaligus sebab utama yang melahirkan ketenangan jiwa dan keteguhan sikap dalam mengarungi ujian zaman.
Memasuki ayat 140, Al-Qur'an memaparkan prinsip sunnatullah dalam pergiliran masa atau mudawalah. Para ulama tafsir memaparkan analisis mengenai kata qarh yang merujuk pada luka dan pembunuhan. Jika kaum muslimin merasakan kepedihan dan duka pada Perang Uhud, maka pihak musuh pun pernah merasakan penderitaan dan kekalahan serupa saat Perang Badar.
Imam al-Baghawi dan Syekh as-Sa'di menjelaskan bahwa kehidupan dunia merupakan negeri fana yang dipergilirkan Allah kepada siapa saja, baik kepada orang mukmin maupun orang kafir, orang baik maupun orang jahat. Kemenangan dan kekalahan dipergilirkan secara bergantian sebagai media ujian untuk menyaring kejujuran iman serta memilih hamba-hamba pilihan yang dianugerahi kehormatan tertinggi sebagai syuhada.
Pesan universal dari kedua ayat ini memberikan pelajaran yang sangat relevan bagi bangsa Indonesia di usia kemerdekaan yang ke-81 ini. Kemerdekaan dan kejayaan suatu bangsa tidak pernah diraih melalui ratapan, rasa minder, atau keluh kesah yang melemahkan.
Sejarah telah membuktikan bahwa kebatilan dan penjajahan pada akhirnya akan runtuh tersapu oleh hukum pergiliran sejarah. Berbekal keimanan yang kokoh, optimisme yang rasional, perjuangan yang istiqamah, dan kesadaran akan sunnatullah, umat Islam dan seluruh elemen bangsa diajarkan untuk pantang menyerah, terus memperbaiki diri, serta menjaga martabat bangsa agar senantiasa berdiri tegak dan tinggi di panggung peradaban dunia.
(zhd)