LANGIT7.ID-Jombang; Ada pemandangan berbeda di halaman Pendopo Kabupaten Jombang, Senin pagi. Ratusan becak berwarna cerah berjejer rapi. Bukan becak tua dengan rangka berkarat, melainkan becak listrik mulus yang baru saja tiba. Ini adalah hadiah langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk para tukang becak di kota santri itu.
Sebanyak 200 unit becak listrik resmi diserahkan pada hari itu. Bagi para penerima, ini bukan sekadar kendaraan baru. Ini adalah pengakuan atas kerja keras mereka selama ini — sekaligus tanggung jawab besar menyambut tamu istimewa: ribuan peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Bupati Jombang, Warsubi, tak sekadar menyerahkan kunci secara simbolis. Ia ikut duduk di jok becak, menginjak pedal listrik, dan merasakan sendiri bedanya.
"Enak, dan sangat kencang sekali," katanya sambil tersenyum. Ia pun langsung mengingatkan para tukang becak: "Pakai helm, hati-hati di jalan."
Becak listrik ini memang beda. Tanpa kayuhan berat, tanpa keringat membasahi punggung. Tapi kecepatan ekstra juga butuh kewaspadaan ekstra. Sebuah pesan yang disampaikan dengan hangat, bukan dengan nada menggurui.
Warsubi menegaskan satu hal dengan tegas: becak ini tidak boleh dijual, tidak boleh digadaikan.
"Ini pemberian Bapak Presiden untuk meringankan beban tukang becak, supaya tidak terlalu capek mengayuh," ujarnya.
Selama empat hari pelaksanaan muktamar, para pengemudi becak listrik ini akan bertugas mengantar-jemput peserta — secara gratis. Sebagai gantinya, panitia menyiapkan kompensasi Rp150 ribu per hari untuk setiap pengemudi. Total selama empat hari, masing-masing mendapat Rp600 ribu.
"Peserta muktamar tidak boleh dipungut biaya. Tapi kalau ada yang memberi sukarela, ya silakan diterima," imbuhnya.
Dengan tambahan 200 unit ini, total becak listrik bantuan Presiden untuk Jombang kini mencapai 360 unit. Sebelumnya, 60 unit datang pada tahap pertama, lalu 100 unit pada tahap kedua. Kini genap 360.
Ketua Panitia Lokal, KH Abdurrozaq atau yang akrab disapa Gus Rozaq, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Alhamdulillah, kami sangat bergembira dan berterima kasih kepada Presiden," tuturnya.
Panitia telah menyiapkan 200 tukang becak yang akan bertugas. Mereka akan diregistrasi, lalu ditempatkan di empat titik pos strategis di sekitar lokasi muktamar. Dari pos-pos itulah mereka akan mengantar para muktamirin menuju venue utama.
Cerita di balik becak-becak ini bukan hanya tentang kemudahan transportasi. Ada dua makna besar: pelayanan untuk tamu muktamar, dan penghidupan bagi para pengemudinya.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan muktamar terbesar warga NU, becak listrik ini menjadi simbol kecil namun nyata — bahwa perhatian negara bisa datang dalam bentuk roda, baterai, dan setang kemudi. Dan di balik setiap becak, ada seorang bapak atau ibu yang hari itu bekerja dengan lebih ringan, lebih cepat, dan lebih bangga.(*/saf/kabarjombang)
(lam)