LANGIT7.ID, Yogyakarta - Pakar epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Riris Andono Ahmad, M.P.H., Ph.D., menilai kebiasaan seluruh elemen masyarakat mengabaikan protokol kesehatan akan menjadi pemicu gelombang ketiga Covid-19. Ini menyusul prediksi Indonesia akan mengalami gelombang ketiga corona pada Desember 2021-Januari 2022.
Dia menyebut kemungkinan gelombang Covid-19 merupakan sebuah keniscayaan. Tidak ada yang bisa menentukan waktu peristiwa itu terjadi, semua tergantung pada situasi yang berkembang di masyarakat.
Riris mengatakan, mobilitas interaksi sosial dan kepatuhan dalam implementasi 3 M yakni menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker merupakan situasi menjadi pemicu paling menonjol. Virus corona masih terus ada dan tidak sedikit orang yang tak memiliki kekebalan. Sementara, pada orang yang telah divaksin, kekebalan yang didapat pun akan menurun seiring berjalannya waktu.
Baca Juga: DPR: Pelandaian Kasus Covid-19 Harus Dipertahankan dengan 5T dan 3T
“Jadi, tidak hanya satu kali gelombang tiga lalu stop, tapi akan terjadi lagi selama virus masih ada dan bersirkulasi secara global,” ucap Riris, dikutip laman resmi UGM, Selasa (26/10/2021).
Terkait vaksin, kata dia, beberapa negara dengan cakupan vaksinasi relatif tinggi seperti Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa saat ini pun tengah berjuang kembali dengan corona akibat varian Delta. Varian Delta memiliki tingkat penularan lebih tinggi membutuhkan cakupan imunitas yang lebih tinggi dalam populasi.
Dia mencontohkan, keberadaan varian Delta mengharuskan 70 persen populasi harus sudah divaksin. Namun, sejak varian itu mewabah, maka cakupan vaksinasi ditingkatkan menjadi 80 persen. Kondisi itu dengan anggapan bahwa vaksin yang diberikan memiliki efektivitas 100 persen.
Artinya, di Indonesia, pemerintah harus memvaksin 230 juta penduduk untuk mencapai angka 80 persen tersebut. Dalam pelaksanaannya pun seyogyanya dilakukan dalam waktu kurang dari 6 bulan agar bisa terwujud kelompok.
“Ini kan sulit, misalnya sanggup pun kekebalan kelompok hanya bertahan beberapa saat dan akan terus berkurang,” ucapnya.
Baca Juga: Penerima Dua Dosis Vaksin Covid-19 di Indonesia Capai 67,17 Juta Orang
Maka itu, Riris meminta pemerintah dan masyarakat tetap waspada dan tidak lengah. Meskipun saat ini kondisi membaik, tetapi pandemi belum usai. Ini karena risiko penularan masih ada, terlebih saat adanya pelonggaran aktivitas masyarakat.
“Saat penularan tinggi dilakukan intervensi besar-besar dengan PPKM. Begitu terkendali aktivitas dilonggarkan karena tidak mungkin terus PPKM karena akan melumpuhkan perekonomian. Namun, pelonggaran ini berisiko penularan akan meningkat lagi,” ucapnya.
Maka itu, dia menawarkan solusi agar masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan. Sementara pemerintah diminta memperkuat 3T yakni
testing, tracing, dan treatment.(jqf)