LANGIT7.ID, Jakarta; - Al-Qur’an menggambarkan gunung sebagai komponen penting dari tatanan bumi, tanda kekuasaan Allah ﷻ, serta unsur yang menjaga kestabilan alam. Beberapa ayat menyebut gunung dengan istilah rawāsi—yakni gunung-gunung yang kokoh dan tertancap. Firman Allah ﷻ dalam Surah an-Naḥl ayat 15 menyatakan:
وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak guncang bersama kamu, serta sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk."
Ayat ini menyajikan fungsi gunung dalam konteks keteraturan bumi dan keagungan penciptaan. Karena tidak menguraikan mekanika geologi, magma, atau aktivitas vulkanik secara spesifik, mengaitkan ayat ini dengan letusan gunung berapi memerlukan kedisiplinan tafsir agar tidak melampaui konteks teks.
Selain fungsi fisik, gunung juga digambarkan sebagai makhluk yang tunduk kepada ketetapan Ilahi. Dalam Surat al-Ḥasyr ayat 21, Allah ﷻ berfirman:
لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
"Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah."
Penggambaran tersebut bersifat perumpamaan (tamtsīl) untuk menunjukkan keagungan Al-Qur’an dan bobot amanah keimanan, bukan penjelasan teknis mengenai retakan geologi atau erupsi.
Al-Qur’an tidak menggambarkan bumi sebagai struktur yang selalu diam tanpa perubahan. Konsep guncangan hebat dan pergeseran alam disebutkan dalam berbagai teks wahyu, seperti firman Allah ﷻ dalam Surah az-Zalzalah ayat 1–2:
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
"Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya."
Secara eksplisit, konteks utama ayat ini merujuk pada peristiwa Hari Kiamat. Namun dari segi bahasa, teks tersebut memperlihatkan bagaimana wahyu menguraikan fenomena guncangan dan keluarnya materi dari dalam bumi. Penggunaan ayat ini dalam merenungi letusan gunung masa kini berfungsi sebagai bahan tadabbur atas kelemahan manusia dan dahsyatnya kekuatan ciptaan Allah, bukan sebagai klaim penafsiran langsung.Prinsip serupa berlaku pada peringatan dalam Surah al-Ḥajj ayat 1:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ
"Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar."
Konteks esatologis ayat ini menegaskan bahwa wahyu menyediakan kerangka keagamaan bagi manusia untuk memahami keterbatasan dirinya di hadapan kekuatan alam yang digerakkan oleh kehendak Allah.
Relevansi Gambaran Al-Qur’an dengan Aktivitas Vulkanik Aktivitas gunung berapi melibatkan fenomena fisik yang kompleks: tekanan bawah tanah, keluarnya lava, abu, gas, gempa vulkanik, hingga perubahan bentang alam. Kendati Al-Qur’an tidak memuat penjelasan ilmiah teoretis mengenai mekanisme tersebut, beberapa gambaran fenomena alam dapat dijadikan titik paut tadabbur:
Surat at-Tūr ayat 10 menyebutkan, "Dan apabila gunung-gunung dijalankan" (wa-iżal-jibālu suyyirat), sementara Surat al-Wāqi‘ah ayat 5–6 menggambarkan hancurnya struktur gunung menjadi debu yang beterbangan (wa-bussatil-jibālu bassā, fa-kānat habā'am mumbaththā).
Surat al-Qāri‘ah ayat 5 menggambarkan gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan (wa takūnul-jibālu kal-'ihnil-manfūsy). Analogi ini memperlihatkan transformasi material keras menjadi ringan dan berhamburan di bawah kehendak Allah.
Meskipun ayat-ayat tersebut berada dalam konteks peristiwa akhirat, bahasa visual tentang gunung yang bergerak dan hancur membantu manusia membayangkan betapa rapuhnya tatanan fisik bumi yang paling kokoh sekalipun.
Sebagian kalangan mengaitkan kolom abu dan asap vulkanik dengan fenomena dukhān dalam Surah ad-Dukhān ayat 10:
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ
"Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang nyata."
Para mufasir memiliki silang pendapat mengenai apakah dukhān dalam ayat tersebut merupakan peristiwa yang telah terjadi pada masa Rasulullah ﷺ atau bagian dari tanda menjelang akhir zaman. Oleh karena itu, menyamakan fenomena dukhān dalam ayat tersebut dengan asap letusan gunung berapi tertentu—seperti letusan Anak Krakatau—merupakan bentuk penafsiran spekulatif yang tidak dapat dipastikan keberbenarannya secara ilmiah maupun metodologi tafsir.
Gunung Berapi sebagai Āyāt Kawniyyah Letusan gunung berapi dapat dipahami sebagai bagian dari āyāt kawniyyah (tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta). Fenomena ini memberikan beberapa ikhtibar penting:
Pertama, menegaskan keterbatasan dan ketidakberdayaan manusia dalam mengendalikan alam. Kedua, memperlihatkan hubungan langsung antara dinamika bawah permukaan bumi dengan perubahan ekosistem di permukaan.
Ketiga, menekankan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan, riset geologi, mitigasi bencana, dan perlindungan jiwa. Keempat, menumbuhkan sikap rendah hati (tawāḍu‘) di hadapan keagungan Sang Pencipta.
Kelima, memvonis suatu bencana alam secara pasti sebagai azab khusus atau bukti langsung prediksi ayat tertentu memerlukan dalil syari yang shahih. Bencana dapat berstatus sebagai ujian, peringatan, atau sekadar proses sunnatullah yang berlaku pada alam.
Al-Qur’an menempatkan gunung dan bumi sebagai tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ serta pengingat akan dinamika tatanan alam. Menghubungkan fenomena vulkanik dengan Al-Qur’an hendaknya dilakukan dalam koridor tadabbur dan pengakuan atas keagungan Pencipta, sambil terus muhasabah dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Wallahu a'lam.(zhd)