Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 07 September 2026
home masjid detail berita

Makna Kalimat Taubat Nabi Adam dalam Surat Al-Baqarah Ayat 37

ahmad zuhdi Senin, 07 September 2026 - 08:09 WIB
Makna Kalimat Taubat Nabi Adam dalam Surat Al-Baqarah Ayat 37
LANGIT7.ID, Jakarta; - Surat al-Baqarah ayat 37 menegaskan salah satu prinsip teologis mendasar dalam Al-Qur'an: Allah ﷻ mengajar secara langsung kalimat-kalimat taubat kepada Nabi Adam 'alaihissalam, lalu menerima penyesalannya. Ayat ini menempatkan Adam sebagai nabi pertama yang menerima wahyu.

Wahyu awal tersebut bukan berisi syariat, melainkan petunjuk kata-kata (kalimāt) yang menjadi sarana (wasīlah) untuk bertaubat. Posisi ayat ini berada dalam rangkaian kisah penciptaan Adam hingga peristiwa penurunannya dari surga, sekaligus menjadi pembuka risalah Al-Qur'an mengenai petunjuk dan kasih sayang Ilahi.

Imam al-Biqāʿī menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi pascapenurunan (hubūṭ) Adam. Penerimaan (talaqqī) tersebut terjadi di dalam kalbu secara batiniah sebagai wahyu atau yang menyerupainya. Proses ini lebih mendalam daripada sekadar pertuntunan lafaz (talqīn) yang bersifat lahiriah (al-Biqāʿī, Naẓm al-Durar). Ayat ini tidak memerlukan konteks sebab turunnya ayat (asbāb al-nuzūl) khusus karena tergolong kisah Qur'ani yang berdiri sendiri.

Imam al-Ṭabarī menjelaskan bahwa akar kata talaqqī berasal dari bentuk tafaʿʿul (mutālaʿah) dari kata liqāʾ. Maknanya menyerupai seseorang yang menyambut kedatangan saudaranya dari perjalanan jauh dengan menghadapinya secara langsung.

Dalam konteks ayat ini, Allah ﷻ membimbingkan (laqqā) kalimat-kalimat taubat kepada Adam, lalu Adam menyambut dan mengamalkannya (talaqqā) dengan penuh penyesalan. Atas dasar penerimaan dan pengucapan kalimat tersebut, Allah ﷻ mengampuni dosa-dosanya (al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān).

Imam al-Baghawī menambahkan dimensi lain: talaqqī merupakan penerimaan yang didasari oleh kecerdasan (fiṭnah) serta pemahaman (fahm), yang sebagian ulama mengartikannya sebagai proses belajar (taʿallum) (al-Baghawī, Tafsīr al-Baghawī).

Sementara itu, al-Harālī (sebagaimana dikutip al-Biqāʿī) memberikan definisi yang lebih mendalam. Ia menyebut talaqqī sebagai wahyu yang diserap langsung oleh hati, tingkatannya lebih batin dibandingkan talqīn yang sebatas pengajaran lafaz dan ilmu lahiriah (al-Biqāʿī, Naẓm al-Durar).

Syaikh as-Saʿdī menyimpulkan secara ringkas bahwa talaqqā berarti menangkap, mempelajari, dan menerima ilham kalimat dari Allah ﷻ (as-Saʿdī, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān).

Jumhur ulama membaca kata Ādamu dengan tanda rafaʿ (sebagai subjek/pelaku) dan kalimātin dengan tanda khafaḍ/jasr. Namun, Qari Ibn Katsīr membaca kata Ādama dengan tanda naṣab (objek) dan kalimātun dengan tanda rafaʿ (subjek). Dalam bacaan Ibn Katsīr, makna gramatikalnya bergeser menjadi: kalimat-kalimat taubat itulah yang mendatangi Adam dari Tuhannya dan menjadi sebab penerimaan taubatnya (al-Baghawī, Tafsīr al-Baghawī). Al-Ṭabarī menilai variasi bacaan ini tetap sah secara kaidah bahasa Arab (al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān).

Beda Pendapat Ulama Mengenai Makna al-Kalimāt

Jumhur mufasir—di antaranya Mujāhid, Saʿīd bin Jubair, al-Ḥasan al-Baṣrī, Qatādah, Muḥammad bin Kaʿb al-Quraẓī, Khālid bin Maʿdān, ʿAṭāʾ al-Khurāsānī, ʿAbd al-Raḥmān bin Zayd bin Aslam, dan Abū al-ʿĀliyah—berpendapat bahwa kalimāt tersebut adalah doa dalam Surah al-A'raf ayat 23:

"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (Ibn Kathīr, Tafsīr Ibn Kathīr; as-Saʿdī, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān).

Menurut riwayat dari Mujāhid dan Muḥammad bin Kaʿb al-Quraẓī, lafaz yang diajarkan adalah: "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Ya Tuhanku, aku telah berbuat jahat dan menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku. Sungguh Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (al-Baghawī, Tafsīr al-Baghawī).

ʿUbayd bin ʿUmayr meriwatkan bahwa Nabi Adam bertafakur dan bertanya: "Ya Rabbi, apakah kesalahan ini timbul murni atas inisiatif diriku sendiri, ataukah telah Engkau takdirkan sebelum aku diciptakan?" Allah ﷻ menjawab bahwa hal itu telah ditakdirkan sebelum penciptaannya. Adam lalu memohon: "Jika demikian ketetapan-Mu, maka ampunilah aku." Pengakuan atas takdir dan permohonan ampun inilah yang menjadi sebab penerimaan taubatnya (Ibn Kathīr, Tafsīr Ibn Katsīr).

Sebagian ulama menyebutkan bahwa kalimāt tersebut mewakili tiga sikap batin Nabi Adam, yaitu rasa malu (al-ḥayāʾ), panjatan doa (al-duʿāʾ), dan ratapan penyesalan (al-bukāʾ) (al-Baghawī, Tafsīr al-Baghawī).

Dalam riwayat Abū Isḥāq al-Sabīʿī dari seorang pria Bani Tamim, Ibn ʿAbbās pernah menjelaskan bahwa kalimat-kalimat yang diajarkan kepada Adam mencakup pengetahuan tentang tata cara serta keagungan ibadah haji (shaʾn al-ḥajj) (Ibn Kathīr, Tafsīr Ibn Kathīr).

Makna Fa-Tāba ʿAlayhi

Syaikh as-Saʿdī menjelaskan bahwa setelah Nabi Adam mengakui kesalahannya dan memohon ampunan menggunakan kalimat-kalimat petunjuk tersebut, Allah ﷻ mengabulkan permohonannya, menerima taubatnya, serta melimpahkan rahmat kepadanya (as-Saʿdī, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān).

Penerimaan taubat Nabi Adam 'alaihissalam memberikan pelajaran keimanan mendasar bagi umat manusia. Pengampunan Allah ﷻ tidak hadir begitu saja, melainkan diawali oleh rasa penyesalan yang jujur, pengakuan atas dosa, serta penggunaan tata cara berdoa yang diajarkan langsung oleh Sang Pencipta. Ayat ini menegaskan sifat Allah Yang Maha Penerima Taubat (at-Tawwāb) sekaligus memperlihatkan betapa besarnya rahmat-Nya kepada hamba yang mau kembali kepada-Nya.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 07 September 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:54
Ashar
15:10
Maghrib
17:55
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan