Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 08 September 2026
home global news detail berita

Bukan Soal Usia, Ini Cara Gen X, Milenial, dan Gen Z Bisa Kompak di Dunia Kerja

tim langit 7 Selasa, 08 September 2026 - 13:08 WIB
Bukan Soal Usia, Ini Cara Gen X, Milenial, dan Gen Z Bisa Kompak di Dunia Kerja
LANGIT7.ID-Jakarta; Perbedaan generasi di tempat kerja kerap dianggap sebagai sumber konflik. Generasi senior dinilai terlalu kaku, sementara generasi muda dianggap kurang sopan, mudah bosan, atau terlalu bergantung pada teknologi.

Padahal, perbedaan tersebut justru dapat menjadi kekuatan organisasi jika dikelola dengan tepat. Kepemimpinan lintas generasi atau Intergenerational Leadership menempatkan perbedaan pengalaman, cara berpikir, nilai, gaya komunikasi, hingga preferensi kerja sebagai modal untuk menciptakan kolaborasi dan keunggulan kompetitif.

Founder & CEO Inspark Indonesia, Dr. Wahyu T. Setyobudi, mengatakan dunia kerja saat ini mengalami perubahan yang semakin nyata karena organisasi harus mengelola tenaga kerja dari beberapa generasi secara bersamaan.

“Banyak organisasi harus mengelola tenaga kerja yang berasal dari beberapa generasi secara bersamaan.”

Baby Boomers, Gen X, Millennials hingga Gen Z kini hadir dalam ruang kerja yang sama dengan pengalaman, cara berpikir, ekspektasi, serta gaya kerja yang berbeda.

Menurut Wahyu, kepemimpinan modern tidak lagi semata-mata ditentukan oleh senioritas atau jabatan.

“Sekarang, leadership tidak lagi hanya berbicara tentang siapa yang paling senior atau siapa yang memiliki posisi paling tinggi, tetapi tentang bagaimana setiap pemimpin mampu menjembatani perbedaan dan mengubahnya menjadi kolaborasi yang menghasilkan.”

Karena itu, keberagaman generasi tidak semestinya dipandang sebagai gap yang harus dihilangkan. Sebaliknya, perbedaan tersebut perlu dikelola agar setiap generasi dapat saling belajar, memahami, dan melengkapi.

Pelajaran Apollo 13

Salah satu ilustrasi yang digunakan untuk menjelaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi adalah kisah Apollo 13.

Pada 11 April 1970, NASA meluncurkan Apollo 13 dengan misi melakukan penerbangan ke Bulan. Setelah 56 jam penerbangan, ledakan pada tangki oksigen menyebabkan kegagalan sistem utama pesawat. Misi pendaratan di Bulan pun dibatalkan dan berubah menjadi misi penyelamatan awak.

Kondisi tersebut memaksa seluruh tim mengambil keputusan di bawah tekanan tinggi tanpa prosedur yang secara khusus dirancang untuk menghadapi situasi tersebut.

Di tengah krisis, setiap divisi diminta mengajukan analisis dan alternatif berdasarkan bidang keahlian masing-masing. Namun, para ahli memiliki prioritas teknis yang berbeda sehingga muncul perbedaan pendapat mengenai tindakan yang harus segera diambil.

Konflik tersebut bukan konflik personal, melainkan task conflict, yaitu perbedaan pandangan profesional mengenai solusi terbaik di tengah keterbatasan waktu.

Gene Kranz sebagai flight director yang memimpin Mission Control di Bumi menyadari penyebab terbesar kegagalan bukanlah perbedaan pendapat, melainkan apabila setiap divisi bekerja secara terpisah.

Ia kemudian menegaskan:

“Let’s work the problem, people. Let’s not make things worse by guessing.”

Perlahan, hubungan antaranggota tim berubah dari sekadar kumpulan spesialis menjadi sistem kolaborasi yang saling melengkapi. Perbedaan kompetensi yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber konflik justru berkembang menjadi sumber solusi.

Keberhasilan penyelamatan Apollo 13 menunjukkan keragaman cara berpikir bukan hambatan, melainkan aset strategis dalam menyelesaikan persoalan kompleks.

Dalam buku Failure Is Not an Option karya Gene Kranz pada 2000, digambarkan bagaimana setiap divisi di Mission Control membawa perspektif berbeda sehingga NASA dapat mengevaluasi berbagai kemungkinan secara komprehensif hingga menemukan solusi yang tepat.

Inovasi dalam kasus tersebut tidak lahir dari kesamaan cara berpikir, tetapi dari kemampuan mengintegrasikan berbagai perspektif menjadi sebuah keputusan.

Namun, keberagaman perspektif tidak otomatis menghasilkan solusi. Komunikasi efektif dan disiplin kepemimpinan tetap diperlukan. Gene Kranz membangun budaya diskusi yang berorientasi pada fakta, bukan status personal. Setiap anggota memiliki kesempatan menyampaikan analisis berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan, kemudian diarahkan pada tujuan bersama, yakni menyelamatkan awak Apollo 13.

Fenomena serupa dapat ditemukan dalam organisasi modern yang dihuni berbagai generasi. Generasi senior umumnya memiliki pengetahuan kontekstual dan pengalaman praktis yang kaya, sedangkan generasi muda menghadirkan perspektif baru, literasi digital, dan keberanian bereksperimen.

Jika perbedaan dipandang sebagai konflik, organisasi akan kehilangan banyak peluang berkembang. Sebaliknya, ketika karakter setiap individu dipahami, komunikasi dibangun berdasarkan saling menghormati, dan seluruh anggota memiliki tujuan yang sama, keberagaman lintas generasi dapat menjadi sumber pembelajaran, inovasi, dan keunggulan kompetitif.

Dengan demikian, kinerja terbaik bukan lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan organisasi mengubah perbedaan menjadi resonansi yang menghasilkan solusi bernilai tinggi.

Setiap Generasi Tumbuh dalam Zaman Berbeda

Perbedaan karakter antargenerasi tidak muncul begitu saja. Setiap generasi lahir dan tumbuh dalam lingkungan, perkembangan teknologi, serta peristiwa besar yang berbeda.

Baby Boomers (1946-1964) tumbuh di era Perang Dingin, televisi analog, dan urbanisasi.

Generasi X (1965-1980) menyaksikan krisis ozon, perkembangan satelit, serta tragedi Chernobyl.

Generasi Y atau Millennials (1981-1996) mengalami masa awal internet, telepon seluler, email, dan meningkatnya isu perubahan iklim.

Generasi Z (1997-2012) dibentuk oleh pandemi COVID-19, media sosial, smartphone, dan fenomena heatwave.

Sementara itu, Generasi Alpha (2013-2025) mulai tumbuh pada era kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence.

Pengalaman historis tersebut membentuk cara berpikir, nilai, gaya komunikasi, dan preferensi kerja yang berbeda pada setiap generasi.

Setiap masa juga memiliki generasi yang mendominasi dunia kerja. Akibatnya, cara berpikir, gaya kepemimpinan, dan budaya organisasi banyak dipengaruhi karakter generasi yang sedang dominan.

Generasi yang lebih senior dapat memandang cara kerja generasi muda kurang relevan. Sebaliknya, generasi muda dapat menganggap pendekatan generasi sebelumnya terlalu kaku dan kurang adaptif.

Jika setiap pihak memaksakan sudut pandang dan pengalaman pribadi, perbedaan tersebut justru dapat memunculkan konflik destruktif.

Karena itu, organisasi tidak dapat memaksakan perspektif generasi terdahulu untuk menjawab tantangan masa kini. Pada saat yang sama, pengalaman generasi senior juga tidak boleh diabaikan hanya karena muncul pendekatan baru.

Keberagaman perspektif harus menjadi modal untuk membangun pemahaman, memperkuat hubungan antargenerasi, serta menghasilkan kolaborasi yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.

Urgensi tersebut semakin besar karena komposisi angkatan kerja global terus berubah. Saat ini sekitar 34% tenaga kerja global didominasi Generasi Y atau Millennials. Berbagai proyeksi menunjukkan pada 2035 posisi tersebut akan bergeser kepada Generasi Z yang diperkirakan mencapai sekitar 31% dari total angkatan kerja global, disusul mulai masuknya Generasi Alpha sekitar 19%.

Pergeseran tersebut membuat organisasi perlu mempersiapkan model kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan seluruh generasi sebagai talenta terbaik.

Bonus Demografi Indonesia Jadi Peluang

Indonesia memiliki peluang lebih besar melalui bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2030.

Data Badan Pusat Statistik atau BPS yang dicantumkan dalam kajian tersebut menunjukkan sekitar 68-71% penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Kompetensi kemudian menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing organisasi melalui representasi tenaga kerja.

Namun, bonus demografi hanya akan menghasilkan manfaat apabila organisasi mampu mengelola keberagaman generasi sebagai sumber kolaborasi, bukan sumber konflik.

Persoalan lainnya adalah stereotip antargenerasi.

Millennials kerap dipersepsikan sebagai generasi kolaboratif, kreatif, dan purpose-driven, tetapi juga dianggap kurang sabar serta memiliki loyalitas rendah.

Generasi Z dikenal sebagai generasi yang melek teknologi, inklusif, dan peduli terhadap isu sosial. Namun, mereka juga sering diberi label memiliki rentang perhatian pendek, kurang sopan, atau terlalu bergantung pada teknologi digital.

Stereotip tersebut dapat menciptakan prasangka yang menghambat komunikasi, menurunkan kepercayaan, serta mengurangi efektivitas kolaborasi apabila tidak dikelola dengan tepat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, dibutuhkan kerangka kepemimpinan yang mampu menjembatani perbedaan karakter, preferensi komunikasi, nilai kerja, dan cara belajar antargenerasi.

Inspark Model: Character dan Performance

Inspark Indonesia mengembangkan Inspark Model of Intergenerational Leadership, sebuah model terintegrasi yang tidak hanya ditujukan untuk mengurangi konflik antargenerasi, tetapi juga menciptakan budaya kerja yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.

Intergenerational Leadership didefinisikan sebagai kemampuan pemimpin membangun koneksi nilai lintas generasi ke dalam karakter individu dan kinerja organisasi.

Dalam konteks tersebut, pemimpin tidak hanya menjadi pengarah pekerjaan, tetapi juga penghubung yang mampu memoderasi perbedaan antargenerasi agar tetap selaras dengan tujuan organisasi.

Framework tersebut dibangun atas dua sasaran utama, yakni Character pada tingkat individu dan Performance pada tingkat organisasi.

Character merupakan proses pembentukan kualitas kompetensi individu lintas organisasi yang merefleksikan bagaimana individu mengembangkan proses kerja positif yang paling relevan bagi dirinya untuk kemajuan organisasi.

Sementara Performance berfokus pada kemampuan organisasi mengatur arah berorientasi hasil sehingga kompetensi individu yang telah dibangun dapat diarahkan menjadi pencapaian yang terukur, produktif, dan berkelanjutan.

Dengan demikian, kepemimpinan lintas generasi merupakan pendekatan sistemik. Pembentukan karakter individu sebagai fondasi perlu terkoneksi dengan orientasi kinerja organisasi sebagai tujuan akhirnya.

Fungsi pemimpin lintas generasi adalah menjembatani keduanya agar pengembangan kompetensi tidak berhenti pada proses, tetapi benar-benar terkonversi menjadi hasil organisasi yang nyata.

Lima Hal yang Harus Dipahami Pemimpin

Tahap pertama adalah Zone of Understanding, yakni pemahaman karakter personal.

Ada lima aspek yang perlu dipahami pemimpin.

Pertama, Meaning of Work, yakni makna dan esensi pekerjaan bagi setiap individu. Sebagian orang memandang pekerjaan sebagai sumber penghasilan, sementara lainnya melihatnya sebagai sarana aktualisasi diri dalam menjalankan karier.

Kedua, Communication Style, yakni cara individu menerima, mengolah, dan menyampaikan informasi dalam lingkungan kerja. Preferensi komunikasi dipengaruhi media, jenis bahasa, serta kondisi lingkungan yang dianggap nyaman untuk berdiskusi.

Ketiga, View of Leadership, yaitu bagaimana setiap individu memandang sosok pemimpin ideal berdasarkan pengalaman hidup dan konteks generasinya.

Keempat, Motivation Driver, yakni keinginan yang mendorong seseorang memberikan kinerja terbaik.

Kelima, Learning, yang menggambarkan bagaimana individu memperoleh pengetahuan, mengembangkan kompetensi, dan beradaptasi terhadap perubahan.

Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut membantu pemimpin merancang pendekatan yang lebih personal dalam meningkatkan keterlibatan dan produktivitas anggota tim. Pemimpin juga perlu memahami apa yang ingin dicapai setiap individu agar dapat menghubungkan aspirasi personal dengan tujuan organisasi.

Setelah karakter individu dipahami, pemimpin memiliki tanggung jawab menyelaraskan seluruh potensi tersebut ke dalam arah dan tujuan yang sama. Tahap ini disebut Zone of Resonance.

Resonansi tidak berarti setiap individu harus memiliki cara berpikir sama, tetapi bagaimana keberagaman dapat menghasilkan sinergi bagi kinerja organisasi.

Lima aspek yang membentuk resonansi adalah productivity, engagement, growth, innovation, dan organizational adaptability.

Productivity merupakan kemampuan tim dan organisasi menghasilkan produk maupun layanan secara efektif dan efisien melalui pemanfaatan sumber daya secara optimal.

Engagement menggambarkan kemampuan tim dan organisasi membangun keterikatan emosional sehingga setiap individu terdorong memberikan kontribusi terbaik.

Growth merupakan kemampuan meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan kinerja secara berkelanjutan.

Innovation menunjukkan kemampuan menciptakan ide, metode, proses, maupun model bisnis baru yang memberikan nilai tambah.

Sedangkan Organizational Adaptability merupakan kemampuan tim dan organisasi merespons perubahan lingkungan bisnis, teknologi, maupun dinamika sosial secara cepat dan tepat.

Zone of Connection Jadi Jembatan

Setelah Zone of Understanding dan Zone of Resonance terbentuk, Zone of Connection berperan sebagai jembatan yang menghubungkan keduanya.

Pemimpin bertugas menciptakan hubungan yang menyelaraskan kebutuhan individu dengan tujuan organisasi sehingga setiap generasi merasa memiliki ruang untuk berkembang sekaligus memberikan kontribusi terbaik.

Ada lima unsur utama dalam Zone of Connection.

Shared Purpose merupakan kemampuan pemimpin membangun tujuan bersama yang menghubungkan kepentingan organisasi dengan aspirasi setiap generasi. Seluruh anggota tim perlu memahami bagaimana kontribusi mereka mendukung visi organisasi sekaligus memberikan manfaat bagi perkembangan dirinya.

Presence menggambarkan kesediaan pemimpin hadir secara nyata ketika anggota tim menghadapi berbagai tantangan. Kehadiran bukan hanya secara fisik, tetapi melalui perhatian, keterlibatan, aksesibilitas, serta kemauan mendengarkan dan membantu menyelesaikan persoalan.

Clarity merupakan kemampuan menyampaikan informasi secara jelas, konsisten, dan mudah dipahami. Tujuan, ekspektasi, peran, serta proses kerja harus dipahami secara seragam agar seluruh anggota dapat bekerja selaras.

Empathy berarti memahami perspektif, kebutuhan, serta tantangan yang dialami individu dari generasi berbeda. Empati tidak berarti menyetujui semua pendapat, tetapi melihat persoalan dari sudut pandang orang lain sebelum mengambil keputusan.

Terakhir, Mutual Respect, yakni kemampuan menghargai perbedaan pengalaman, nilai, cara berpikir, maupun gaya kerja setiap individu tanpa dipengaruhi usia atau latar belakang generasi.

Penghargaan tersebut diwujudkan melalui kesediaan mendengarkan pendapat, memberikan kesempatan setara untuk berkontribusi, serta mengakui bahwa setiap generasi memiliki kekuatan yang dapat saling melengkapi.

Empat Tahap Membentuk Tim Lintas Generasi

Membangun koneksi antargenerasi tidak terjadi secara instan. Prosesnya berkembang melalui interaksi dan pengalaman bersama.

Framework Intergenerational Leadership mengadopsi model Team Development yang diperkenalkan Bruce Tuckman, yakni Forming, Storming, Norming, dan Performing.

Pada tahap Forming, pemimpin membentuk fondasi kerja sama. Anggota masih saling mengenal, memahami peran masing-masing, dan mencoba menyesuaikan diri dengan karakter serta cara kerja anggota dari generasi berbeda.

Pemimpin perlu menjelaskan visi organisasi, tujuan tim, ekspektasi kinerja, serta aturan kolaborasi secara jelas dan mudah dipahami.

Storming merupakan fase ketika perbedaan mulai terlihat dan berpotensi menimbulkan konflik. Perbedaan nilai, gaya komunikasi, kebiasaan bekerja, maupun cara menyelesaikan masalah dapat menciptakan ketegangan.

Pemimpin perlu mengubah konflik interpersonal menjadi task conflict, yakni diskusi yang berfokus pada penyelesaian pekerjaan dan pencarian solusi terbaik.

Pada tahap Norming, anggota tim mulai membangun kesepahaman mengenai cara bekerja bersama. Pengalaman menghadapi tantangan menghasilkan kebiasaan, norma, serta pola komunikasi yang disepakati secara kolektif.

Kepercayaan mulai tumbuh, setiap anggota memahami kontribusi satu sama lain, dan kolaborasi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada arahan pemimpin. Peran pemimpin bergeser dari mengarahkan menjadi memfasilitasi.

Terakhir, Performing merupakan tahap ketika tim mencapai tingkat kematangan yang memungkinkan seluruh anggota bekerja produktif dan saling melengkapi.

Kolaborasi berlangsung lebih alami, kualitas pengambilan keputusan meningkat, dan organisasi memperoleh dampak berupa produktivitas, inovasi, serta kemampuan beradaptasi yang lebih baik.

Perbedaan pendapat tetap dapat muncul, tetapi umumnya bersifat konstruktif dan tidak berkembang menjadi konflik yang merusak hubungan kerja. Pemimpin tetap perlu melakukan evaluasi, memberikan umpan balik secara berkala, serta menjaga komunikasi dan kepercayaan.

Ratu Eneng: Strategi Bisa Gagal Jika Kompetensi Tak Selaras

Associate Expert in Organization Learning & Talent Management Ratu Eneng Kusumaningrat menyoroti persoalan lain yang berkaitan dengan organisasi, yakni kegagalan eksekusi strategi.

Rapat strategi tahunan dapat berjalan penuh energi, menghasilkan dokumen tebal, KPI terukur, dan visi fantastis. Namun, setahun kemudian target tetap dapat meleset.

Masalahnya jarang terletak pada strategi itu sendiri, melainkan pada ketidakmampuan organisasi menerjemahkannya menjadi keputusan, perilaku, dan tindakan nyata.

Ratu mengatakan:

“Tugas perusahaan bukan sekadar merekrut orang hebat.”

Menurutnya, competency alignment atau penyelarasan kompetensi dari tingkat eksekutif hingga level teknis menjadi kunci untuk memastikan strategi benar-benar dapat dijalankan.

Ia menjelaskan:

“Strategi menentukan ke mana organisasi bergerak, kapabilitas memastikan kemampuan bergerak ke sana, dan kompetensi memastikan kapabilitas itu benar-benar dapat dieksekusi.”

Jenjang eksekutif merumuskan prioritas bisnis, middle manager menerjemahkannya menjadi proses kerja, supervisor memastikan standar dijalankan, dan level operasional berhadapan langsung dengan pelanggan.

Ketika kemampuan antarlevel terputus, strategi hanya menjadi tumpukan kertas. Sebaliknya, alignment yang kuat membuat keputusan lebih konsisten, sekat antardepartemen melebur, dan sumber daya terserap efisien.

Penyelarasan juga bukan berarti menyamakan seluruh kompetensi. Yang diperlukan adalah kapasitas berbeda di setiap level yang bermuara pada satu tujuan strategis yang sama.

Di Indonesia, kesadaran mengenai hal tersebut disebut sudah tinggi, tetapi eksekusi masih kerap terjebak pola top-down yang kaku. Di tengah dinamika bisnis yang semakin menuntut integrasi dan standar global, waktu untuk mendongkrak kapabilitas SDM semakin menyempit.

Studi The Economist Intelligence Unit yang dicantumkan dalam kajian menyebut 60% strategi bisnis gagal dieksekusi bukan karena cacat konseptual, melainkan akibat buruknya koordinasi dan ketidakselarasan kapabilitas lintas fungsi dalam organisasi.

Riset Harvard Business Review yang juga dicantumkan menyebut lebih dari 70% karyawan lini bawah gagal memahami kaitan peran harian mereka dengan strategi besar perusahaan, sehingga tercipta jurang antara rencana manajemen puncak dan realitas lapangan.

Menurut Ratu, perusahaan sering keliru karena langsung merespons masalah performa melalui program pelatihan instan agar terlihat produktif.

Urutannya justru perlu dibalik: pastikan arah jelas, turunkan ke target konkret, lalu bangun kompetensi berkelanjutan.

Visi dan prioritas bisnis harus dirumuskan secara transparan tanpa asumsi abstrak. Arah besar kemudian dipecah menjadi metrik terukur di setiap jenjang. Setelah itu, pengembangan SDM harus langsung mendukung pencapaian target bisnis hingga lapisan operasional terbawah agar kemacetan eksekusi tidak sekadar berpindah ke bawah.

Kegagalan eksekusi merupakan jarak antara apa yang dirumuskan di atas kertas dan kapasitas orang-orang yang harus mewujudkannya. Jarak tersebut sering tidak terlihat dalam laporan bulanan dan baru muncul ketika target gagal dicapai.

Bagi organisasi yang berpacu dengan standar global, pertanyaannya bukan lagi apakah alignment diperlukan, tetapi seberapa cepat harus dibangun.

Langkah pertama bukan menyusun program pelatihan, melainkan memastikan arah perusahaan benar-benar jelas, dipahami, dan hidup di seluruh lini.

Arnold Yustom: Konflik Generasi Sering Kali Bukan Soal Usia

Associate Expert in Multigenerational Leadership Arnold Yustom melihat persoalan dari sisi komunikasi.

Di banyak perusahaan, konflik antargenerasi sering terlihat seperti masalah klasik: senior merasa generasi muda kurang sopan, sedangkan generasi muda merasa senior terlalu kaku.

Arnold menegaskan:

“Yang sebenarnya terjadi bukan benturan generasi, tapi benturan cara berkomunikasi.”

Menurutnya, perusahaan juga terlalu cepat memberikan label berdasarkan generasi tanpa memahami faktor yang membentuk gaya komunikasi seseorang.

“Kita terlalu cepat memberi label “beda generasi”, tanpa benar-benar memahami bahwa setiap orang datang dengan cara komunikasi yang dibentuk oleh banyak hal: keluarga, lingkungan saat bertumbuh, budaya kerja yang pernah dialami, bahkan konten yang mereka konsumsi setiap hari.”

Dua orang dengan usia sama dapat memiliki gaya komunikasi yang sangat berbeda. Sebaliknya, dua orang dengan usia jauh berbeda justru bisa sangat nyambung.

Artinya, usia bukan faktor utama. Cara seseorang berkomunikasi menentukan apakah dia dapat diterima atau tidak dalam sebuah tim.

Peran pemimpin kemudian menjadi sangat penting. Budaya komunikasi perusahaan hampir selalu mencerminkan siapa pemimpinnya. Cara orang berbicara dalam rapat, menyampaikan pendapat, bahkan keberanian untuk berbicara atau memilih diam, terbentuk dari budaya yang dibangun.

Masalahnya, banyak pemimpin tidak menyadari bahwa mereka sedang membentuk budaya tersebut melalui cara komunikasi yang mereka bawa dari masa lalu.

Salah satu pola yang sering muncul adalah pemimpin yang terjebak dalam euforia keberhasilan masa lalu. Cara berpikirnya sederhana: sesuatu yang dahulu berhasil dianggap pasti berhasil sekarang.

Gaya komunikasi yang dulu dianggap profesional, tegas, kaku, dan terstruktur dibawa mentah-mentah ke konteks kerja yang jauh lebih dinamis.

Gaya tersebut mungkin efektif di masa lalu, tetapi dalam kondisi sekarang dapat terasa menciptakan jarak karena konteks telah berubah.

Yang lebih berbahaya adalah ketika pemimpin mulai menarik timnya untuk berpikir dengan cara yang sama. Komunikasi tidak lagi menjadi alat untuk memahami, tetapi alat untuk menyamakan.

Ketika semua orang dipaksa menjadi sama, kolaborasi justru mulai berhenti.

Arnold juga menilai banyak perusahaan merasa kekurangan talenta yang bisa beradaptasi. Padahal, yang kurang sering kali bukan talentanya, melainkan kemampuan untuk saling memahami.

Organisasi terlalu fokus mencoba mengubah orang lain, mulai dari gaya komunikasi, cara berpikir, hingga karakter. Padahal, mengubah karakter membutuhkan waktu panjang dan sering kali tidak realistis dalam konteks kerja yang dinamis.

Yang jauh lebih relevan adalah kemampuan membaca dan menyesuaikan.

Pemimpin efektif saat ini bukan yang hanya memiliki satu gaya komunikasi kuat, melainkan yang mampu menyesuaikan cara komunikasinya dengan orang yang diajak berbicara.

Hal tersebut tidak berarti kehilangan identitas. Setiap orang menerima pesan dengan cara berbeda.

Di sinilah emotional intelligence menjadi penting. Bukan sekadar memahami emosi, tetapi memahami bagaimana orang lain berpikir, merespons, dan memaknai komunikasi.

Dalam konteks global, kemampuan tersebut bukan lagi sekadar nice to have, tetapi menjadi keunggulan kompetitif.

Perusahaan yang mampu menjembatani perbedaan komunikasi lintas generasi akan bergerak lebih cepat, adaptif, dan kolaboratif. Sebaliknya, perusahaan yang masih melihat persoalan tersebut sebagai masalah usia akan terus terjebak dalam konflik yang sama dengan wajah berbeda.

Pieter Maruli: Senior Harus Jadi Jembatan untuk Junior

Direktur PT Oto Multiartha Pieter Maruli Panjaitan menilai tantangan terbesar dalam membangun kolaborasi lintas generasi adalah menyatukan mindset dan culture yang berbeda.

Pieter mengatakan:

“Tantangan terbesar membangun kolaborasi dalam kepemimpinan lintas generasi adalah menyatukan mindset dan culture yang berbeda.”

Perbedaan dapat terjadi dalam cara memandang waktu kerja, cara berpakaian, hingga perilaku dalam berinteraksi.

Senior terkadang merasa paling bisa atau paling tahu, sementara junior merasa memiliki ilmu yang lebih up to date. Kondisi tersebut membuat jarak antara kedua kelompok semakin lebar.

Dampaknya, senior dianggap kaku, old style, dan ingin menang sendiri. Sementara junior dianggap ingin dipahami, dibantu, dan terkadang cepat bosan.

Menurut Pieter, tidak ada cara baku dalam memahami junior dan senior.

“Sehingga, tidak ada cara baku dalam memahami junior dan senior, cara paling efektif adalah memahami kedua belah pihak dengan satu visi yang sama, tidak membedakan dalam berkreasi, produktivitas kerja, dan penerapan reward and punishment.”

Ia menilai lingkungan kerja perlu menjadi seperti rumah kedua agar karyawan merasa nyaman, aman, tidak terpaksa, dan merasa dihargai.

Leader menjadi kunci dalam membentuk culture di tempat kerja. Jika pemimpin tidak mampu memahami kondisi tersebut, keharmonisan akan sulit tercipta.

Pieter juga menekankan bahwa penilaian seseorang seharusnya tidak semata-mata berdasarkan senioritas.

Karena itu, lingkungan kerja, kebebasan berkreasi, dan hasil kerja yang dihargai menjadi kunci agar junior dapat bertahan. Sementara senior harus menjadi jembatan bagi junior untuk berkreasi, bukan menghambat.

Keharmonisan dapat terjadi jika pemimpin mampu memahami situasi dan menjadi fasilitator bagi semua pihak.

Proses tersebut membutuhkan waktu. Aktivitas di luar pekerjaan dapat menjadi jembatan untuk menyatukan generasi, mengaktifkan semangat junior, dan melibatkan senior sebagai culture champion.

Pemimpin juga harus menjadi supervisi yang aktif dan tidak berpihak.

Ketika pengalaman senior bertemu energi dan perspektif junior, organisasi bukan hanya menciptakan keharmonisan, tetapi juga membuka ruang lebih besar untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Survei 78 Responden Ungkap Kepuasan terhadap Gen X, Milenial dan Gen Z

Untuk melihat bagaimana berbagai generasi memaknai kepemimpinan lintas generasi, dilakukan jejak pendapat sederhana secara online terhadap 78 responden.

Responden terdiri dari 55% Generasi Z, 37% Generasi Millennial (1981-1996), dan 8% Generasi X (1965-1980).

Untuk generasi pimpinan, responden menyebut pimpinan yang paling banyak menjabat saat ini berasal dari Millennial sebesar 49%, disusul Gen X sebesar 36% dan Gen Z sebesar 5%. Sebanyak 10% responden berada pada kategori tidak memiliki atasan langsung.

Pada bagian komposisi tim atau anggota, narasi hasil survei menyebut 27% responden tidak memiliki bawahan langsung, sementara 33% merupakan Gen Z dan 21% Millennial. Namun, grafik pada laporan menampilkan angka 45% untuk kategori tidak memiliki bawahan langsung, 33% Gen Z, 21% Millennial, dan 1% Gen X.

Hasil survei menunjukkan 18,6% responden merasa sangat puas dan 55,7% merasa puas terhadap kualitas kepemimpinan yang dirasakan di tempat kerja.

Secara umum, tingkat kepuasan terhadap pemimpin Generasi Y sebesar 63%, sedangkan Generasi X mencapai 89%, dengan gap 23 poin persentase.

Pada kepemimpinan Gen Y, kualitas yang dinilai paling unggul adalah bersedia membantu jika ada kesulitan (76%), melibatkan dalam diskusi pekerjaan (74%), melibatkan dalam keputusan penting (66%), dan mendengarkan pendapat (66%).

Sementara kepemimpinan Gen X dinilai unggul dalam melibatkan bawahan dalam diskusi pekerjaan (86%), membantu jika ada kesulitan (86%), memberikan arahan jelas (82%), dan mendengarkan pendapat bawahan (79%).

Grafik survei juga mencatat perbandingan lain. Dalam indikator jarang mengkritik bawahan, angkanya 25% dan 42% dengan gap 17%. Untuk memberikan arahan jelas, tercatat 82% dan 61% dengan gap 22%. Pada mendengarkan pendapat bawahan tercatat 79% dan 66% dengan gap 13%.

Sementara indikator keselarasan pemahaman tercatat 64% dan 50% dengan gap 14%. Pada keterlibatan dalam diskusi pekerjaan tercatat 86% dan 74% dengan gap 12%.

Milenial Unggul dalam Kinerja Tim

Untuk kualitas anggota tim, 94% responden merasa puas terhadap kualitas anggota tim dari generasi Millennial, sedangkan 77% merasa puas terhadap Generasi Z.

Millennial memiliki keunggulan pada pemahaman instruksi sebesar 94% dan cekatan dalam tugas sebesar 94%.

Sementara Gen Z unggul dalam pemahaman instruksi sebesar 85% dan kemauan mendengarkan nasihat sebesar 85%.

Grafik survei kemudian menunjukkan perbandingan Millennial dan Gen Z pada sejumlah indikator.

Kepuasan terhadap kinerja bawahan tercatat 94% berbanding 77%, dengan gap 17 poin.

Cekatan dalam tugas mencapai 94% berbanding 69%, dengan gap 25 poin.

Tahan banting terhadap masalah tercatat 69% berbanding 35%, dengan gap 34 poin.

Belajar mandiri secara cepat mencapai 88% berbanding 65%, dengan gap 22 poin.

Keselarasan pemahaman tercatat 75% berbanding 42%, dengan gap 33 poin.

Sedangkan menerima kritik mencapai 81% berbanding 65%, dengan gap 16 poin.

Hasil tersebut disebut sebagai gambaran awal atau riset pendahulu yang menangkap fenomena interaksi antargenerasi. Untuk mendapatkan hasil yang lebih menyeluruh, masih diperlukan riset yang lebih dalam, sistematis, dan terstruktur.

Empat Kuadran Kepemimpinan Lintas Generasi

Kualitas Intergenerational Leadership ditentukan oleh kemampuan pemimpin menyeimbangkan dua dimensi utama, yakni Understanding, yang berkaitan dengan pemahaman karakter individu, dan Connection, yang berkaitan dengan penyelarasan tujuan organisasi.

Dari dua dimensi tersebut terdapat empat kuadran.

Fragmentation merupakan kondisi ketika Understanding dan Connection sama-sama rendah. Stereotip antargenerasi cenderung tinggi, komunikasi tidak efektif, dan konflik lebih sering dipengaruhi prasangka dibanding pemahaman objektif.

Akibatnya, kolaborasi sulit terbentuk, keterlibatan karyawan menurun, dan organisasi kehilangan peluang memanfaatkan keberagaman generasi sebagai sumber keunggulan.

Disconnect terjadi ketika Understanding rendah tetapi Connection tinggi. Kinerja organisasi hanya mengandalkan sistem, prosedur, dan target, tetapi tidak mampu memahami karakter serta potensi individu lintas generasi.

Di balik pencapaian kinerja, kondisi ini dapat memunculkan rendahnya keterikatan emosional, meningkatnya kelelahan kerja, tingginya turnover, maupun konflik yang tidak terselesaikan.

SILO menggambarkan kondisi ketika Understanding tinggi tetapi Connection rendah. Setiap individu atau kelompok generasi dapat bekerja efektif di lingkungannya masing-masing, tetapi kolaborasi lintas generasi masih terbatas dan cenderung terkotak-kotak.

Akibatnya, potensi besar tetap tersebar dalam berbagai kelompok dan belum menghasilkan dampak optimal bagi organisasi secara keseluruhan.

Sedangkan Resonance merupakan kondisi ideal ketika Understanding dan Connection sama-sama tinggi.

Organisasi mampu memahami karakter, motivasi, nilai, dan preferensi setiap generasi sekaligus menyelaraskannya menuju tujuan organisasi yang sama. Hasilnya adalah produktivitas tinggi dan engagement yang kuat karena terciptanya resonansi harmonis.

Self-Assessment untuk Mengukur Hubungan Antargenerasi

Untuk mengetahui posisi organisasi, pendekatan tersebut juga dapat digunakan sebagai self-assessment.

Organisasi dapat menggunakan skala 1-5, dengan angka 1 berarti Sangat Tidak Setuju atau Sangat Buruk, sedangkan 5 berarti Sangat Setuju atau Sangat Baik.

Pada aspek Understanding, terdapat lima hal yang perlu dinilai: apakah organisasi memahami perbedaan makna dan tujuan kerja berbagai generasi; perbedaan gaya komunikasi dan preferensi interaksi; perbedaan ekspektasi terhadap gaya kepemimpinan; faktor yang mendorong motivasi dan keterlibatan; serta perbedaan cara belajar, mengembangkan kompetensi, dan beradaptasi terhadap perubahan.

Sementara pada aspek Connection, organisasi menilai seberapa baik hubungan dibangun untuk menyatukan individu lintas generasi.

Pendekatan tersebut menempatkan keberagaman bukan sekadar sebagai tantangan. Setiap generasi memiliki peran penting yang dapat dioptimalkan menjadi kekuatan perusahaan.

Pada akhirnya, kepemimpinan lintas generasi bukan tentang membuat Gen X, Millennials, dan Gen Z berpikir dengan cara yang sama.

Kuncinya adalah memahami perbedaan, membangun koneksi, menciptakan resonansi, lalu mengarahkan seluruh kekuatan tersebut menuju tujuan bersama.

Dengan pendekatan tersebut, perbedaan generasi yang selama ini kerap dianggap sebagai sumber konflik justru dapat berubah menjadi modal bagi kolaborasi, produktivitas, engagement, inovasi, pertumbuhan, dan kemampuan adaptasi organisasi.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 08 September 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:54
Ashar
15:09
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan