Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 01 Oktober 2026
home masjid detail berita

Tafsir Al-Baqarah Ayat 55: Kelancangan Bani Israil Menuntut Lihat Allah

ahmad zuhdi Kamis, 01 Oktober 2026 - 05:32 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 55: Kelancangan Bani Israil Menuntut Lihat Allah
LANGIT7.ID, Jakarta; - Ayat ke-55 dari Surat Al-Baqarah merekam peristiwa penting dalam rangkaian perjalanan Bani Israil yang dipaparkan sebagai pelajaran berharga bagi umat Nabi Muhammad ﷺ. Peristiwa ini terjadi ketika sekelompok Bani Israil—yang menurut mayoritas mufasir merupakan tujuh puluh orang pilihan yang diajak Nabi Musa ke bukit untuk mendengar kalam Allah—justru melontarkan permintaan yang menunjukkan kelemahan iman mereka.

وَإِذْ قُلْتُمْ يَٰمُوسَىٰ لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى ٱللَّهَ جَهْرَةًۭ فَأَخَذَتْكُمُ ٱلصَّٰعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya" (QS. Al-Baqarah (البقرة) : 55).

Al-Baghawi merinci bahwa mereka menuntut untuk melihat Allah ﷻ secara langsung dan terang-terangan (jihārah) sebagai syarat agar mereka mau beriman. Peristiwa ini mengandung pelajaran besar terkait adab seorang hamba, kekuasaan Allah ﷻ dalam menghidupkan kembali orang yang mati tersambar petir, serta bantahan tegas terhadap kelompok Mu'tazilah yang menyalahgunakan ayat ini untuk mengingkari ru'yatullah atau kemampuan melihat Allah di akhirat kelak. Al-Shanqīṭī menegaskan bahwa penafsiran Mu'tazilah yang menjadikan ayat ini sebagai dalil ketidakmungkinan melihat Allah adalah argumen yang batil.

Awal penggalan ayat wa-idz qultum yā-Mūsā menjadi pengingat dari Allah ﷻ atas ucapan keliru Bani Israil di masa lalu. Al-Ṭabarī dan Ibn Katsīr menjelaskan bahwa frasa ini berfungsi mengajak mereka mengingat nikmat Allah ﷻ berupa kesempatan hidup kembali setelah disambar petir akibat kelancangan permintaan mereka sendiri.

Sementara itu, Al-Biqāʿī mengaitkan peristiwa ini dengan rangkaian dialog di bukit Thursina, di mana sebagian ulama menyebutkan bahwa Nabi Harun ﷺ turut mendampingi perjalanan tersebut. Hal ini memperjelas konteks sejarah di mana teguran tersebut dialamatkan langsung kepada sikap Bani Israil yang berulang kali meragukan kenabian.

Inti dari kelancangan mereka terungkap dalam penggalan lan nu'mina laka ḥattā narā Allāha jahrah. Al-Ṭabarī memaparkan bahwa mereka menolak untuk membenarkan risalah Nabi Musa sebelum mampu melihat Allah ﷻ secara langsung dengan mata kepala sendiri tanpa adanya penghalang atau tabir. Secara bahasa, Al-Ṭabarī dan Al-Baghawi menjelaskan bahwa kata jihārah digunakan untuk menegaskan penglihatan fisik secara nyata (ʿiyānan), bukan sekadar keyakinan atau pengetahuan dalam hati.

Al-Biqāʿī menggambarkan bahwa sikap menjadikan penglihatan fisik sebagai syarat beriman ini mencerminkan kerapuhan ikatan iman mereka, yang pada akhirnya mendatangkan hukuman mendadak bagi kelompok tersebut. Akibat dari kelancangan dan tuntutan yang melampaui batas tersebut digambarkan dalam penggalan fa-akhadhatkumu aṣ-ṣāʿiqatu wa-antum tanẓurūn.

Al-Baghawi menceritakan bahwa sesaat setelah mereka menyampaikan tuntutan tersebut, petir langsung menyambar mereka. Mengenai hakikat sambaran tersebut, Ibn Katsir meriwayatkan sejumlah pendapat ulama, mulai dari suara teriakan dahsyat dari langit hingga kobaran api yang menewaskan mereka secara nyata. Kematian mereka dalam peristiwa ini bukanlah pingsan biasa, melainkan kematian fisik yang kemudian disusul dengan peristiwa kebangkitan kembali atas izin Allah ﷻ sebagaimana ditegaskan pada ayat berikutnya.

Al-Shanqīṭī memberikan penekanan penting bahwa keterbatasan manusia untuk melihat Allah ﷻ di dunia tidak serta-merta berlaku di akhirat. Permintaan Bani Israil untuk melihat Allah di dunia memang mustahil dan mendatangkan azab, namun bagi orang-orang beriman, kesempatan melihat Allah ﷻ pada hari kiamat adalah janji yang pasti berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis mutawatir. Beliau secara keras membantah pandangan Al-Zamakhsharī yang menolak ru'yatullah, dan menegaskan bahwa pendapat tersebut merupakan kekeliruan yang nyata dalam memahami prinsip aqidah Ahlus Sunnah.

Di sisi lain, Al-Rāzī menambahkan bahwa tindakan hukum yang diterima oleh Bani Israil merupakan bagian dari ketentuan syariat Nabi Musa yang memiliki karakteristik tersendiri, namun tetap memberikan pesan moral yang berlaku universal. Dari seluruh pembahasan ini, dapat dipetik ikhtibar mendalam bahwa keimanan sejati menuntut kepasrahan total dan adab yang baik kepada Sang Pencipta tanpa mengajukan syarat-syarat yang melampaui batas.

Tuntutan Bani Israil yang berujung pada bencana ini menjadi peringatan bagi umat Islam agar tidak bersikap plin-plan dalam beriman serta senantiasa memelihara ketundukan terhadap wahyu Allah ﷻ. Rangkaian peristiwa ini membuktikan kekuasaan mutlak Allah ﷻ atas kehidupan dan kematian, sekaligus menguatkan iktikad bahwa keridaan dan kenikmatan tertinggi bagi hamba-Nya yang beriman kelak adalah melihat wujud-Nya yang Maha Mulia di akhirat.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 01 Oktober 2026
Imsak
04:13
Shubuh
04:23
Dhuhur
11:46
Ashar
14:51
Maghrib
17:50
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan