LANGIT7.ID, Jakarta,- - Indonesia masuk dalam daftar 15 besar negara tujuan terpopuler bagi
nomad digital dunia menurut laporan
Digital Nomad Friction Index 2026 yang dirilis
Holafly. Para pekerja jarak jauh menilai Indonesia memiliki sejumlah kelebihan mulai dari gaya hidup yang fleksibel hingga biaya hidup yang kompetitif.
Meski popular, namun para
pekerja remote menyebut Indonesia mempunyai beberapa hambatan operasional harian. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Indonesia menempati posisi keempat dengan
tantangan adminstratif tertinggi bagi
pekerja digital.Baca juga: DPR: Revisi UU Ketenagakerjaan Harus Akomodasi Pekerja DigitalSementara Kolombia menempati posisi pertama, disusul Meksiko di urutan kedua dan Jerman di posisi ketiga. Indonesia berada di urutan keempat, diikuti Argentina, Bulgaria, Spanyol, Uni Emirat Arab, Kroasia, dan Hungaria.
Birokrasi hingga Koneksi Internet Jadi TantanganPenelitian Holafly menyoroti berbagai kendala yang kerap dihadapi
pekerja digital saat berpindah negara.
Tantangan tersebut tidak berhenti pada proses masuk ke negara tujuan, tetapi berlanjut ketika mereka harus mengurus rekening bank, pendaftaran alamat tempat tinggal, kewajiban pajak, dokumen lokal, hingga akses layanan kesehatan.
Berbagai urusan administratif tersebut dapat menyita waktu, biaya, dan energi. Kondisi ini menjadi persoalan tersendiri bagi pekerja jarak jauh yang harus tetap memenuhi target pekerjaan meski berada di negara berbeda.
Kendala koneksi internet juga menjadi faktor penting. Dalam penelitian tersebut, sebanyak 86,5 persen pelancong yang mengalami burnout mengaku merasa sangat cemas ketika kehilangan koneksi internet.
Selain itu, 35 persen responden menghadapi masalah koneksi yang cukup serius hingga mengganggu pekerjaan mereka dalam sebagian besar perjalanan atau setiap kali bepergian.
Dampak gangguan perjalanan juga terlihat pada pendapatan. Sebanyak 46,8 persen pekerja jarak jauh dan digital nomad menyatakan gangguan selama perjalanan pernah membuat mereka kehilangan jam kerja yang dapat ditagihkan kepada klien atau kehilangan pendapatan.
Baca juga: 5 Pekerjaan Remote yang Diminati 2023, Jadi Tren PascapandemiSementara itu, 89,1 persen pelancong yang mengalami burnout merasa kewalahan menghadapi urusan birokrasi, seperti pengurusan visa, perbankan, dan dokumen lokal.
Negara Eropa Juga Menghadapi HambatanHasil penelitian tersebut turut menunjukkan bahwa negara-negara Eropa tidak selalu menawarkan proses administrasi yang lebih mudah bagi pekerja digital.
Jerman berada di posisi ketiga dalam daftar negara dengan hambatan tertinggi. Salah satu faktor yang disoroti adalah proses pendaftaran alamat tempat tinggal yang dinilai ketat.
Bulgaria, Spanyol, Kroasia, dan Hungaria juga masuk dalam 10 besar negara dengan tingkat hambatan tertinggi. Menurut laporan tersebut, negara-negara Uni Eropa yang dianalisis, termasuk Jerman, Spanyol, dan Portugal, sama-sama mewajibkan pendaftaran alamat serta kepemilikan nomor identitas pajak lokal.
Temuan ini menunjukkan bahwa infrastruktur yang berkembang baik tidak serta-merta membuat proses administrasi bagi pekerja digital menjadi sederhana.
Di sisi lain, Georgia dinilai sebagai negara dengan hambatan keseharian paling rendah di antara destinasi yang dianalisis. Pekerja jarak jauh tidak diwajibkan mendaftarkan tempat tinggal atau mengurus nomor identitas pajak lokal.
Baca juga: Sistem Remote Working Makin Dilirik, Apa Manfaat dan Kendalanya?Warga negara asing juga dapat membuka rekening bank hanya dengan paspor, dengan proses yang kerap selesai dalam beberapa jam.
Tantangan Pekerja DigitalChief Operating Officer Holafly, Metin Kastro, mengatakan tantangan terbesar pekerja jarak jauh sering kali muncul setelah mereka tiba di negara tujuan.
Menurutnya, urusan birokrasi, hilangnya jam kerja, dan koneksi internet yang tidak stabil dapat memicu kelelahan bagi para profesional yang bekerja lintas negara.
“Kami melakukan penelitian ini untuk menyoroti berbagai hambatan tersembunyi tersebut, karena mobilitas jangka panjang hanya dapat berjalan ketika urusan sehari-hari tidak terus menggerus penghasilan dan ketenangan pikiran seseorang,” ujar Kastro.
Digital Nomad Friction Index 2026 membandingkan 17 destinasi populer berdasarkan sejumlah indikator, meliputi kompleksitas visa, birokrasi lokal, akses perbankan, konektivitas internet, layanan kesehatan, serta risiko gangguan perjalanan.
Penelitian tersebut menjadi bagian dari kajian Holafly mengenai kebutuhan pekerja digital dan pelancong yang menjalani kehidupan lintas negara dalam jangka panjang.
(est)