LANGIT7.ID - , Jakarta - Dua tahun telah berlalu,
pandemi Covid 19 kian membaik di seluruh dunia termasuk Indonesia. Budaya baru pun muncul, bahkan menjadi tren anak muda saat ini. Sebut saja
hybrid, yakni sistem yang menggabungkan antara online dan offline.
Dalam dunia kerja, hybrid tampaknya telah menjadi budaya kerja baru, di mana sebagian karyawan bekerja dari kantor, sementara karyawan lainnya bekerja dari rumah atau dari jarak jauh (
remote working) secara bergantian.
Lantas, apa sebenarnya keuntungan dari kerja hybrid ini?
Baca juga: Bisa Jajal Veloz hingga Ioniq 5, Begini Cara Test Drive di IIMS Hybrid 2022Senior VP PT Pegadaian, Anung Anindita mengatakan ada banyak keuntungan hybrid yang didapat karyawan maupun maupun perusahaan. Menurut Anung dengan sistem kerja hybrid otomatis meningkatkan kesehatan masyarakat. Sebab, tingkat
stres menjadi berkurang.
"Untuk hybrid ini diharapkan kesehatan karyawan menjadi lebih baik," ujar Anung dalam webinar bertajuk Tema "Penerapan Hybrid Working untuk Produktivitas Kerja" dikutip dari kanal YouTube Kagama Human Capital, Selasa (24/5/2022).
Selanjutnya, dari sistem
hybrid work membuat keseimbangan kehidupan kerja jadi lebih baik.
"Jika misal WFH dan WFO otomatis bisa jadi menjadi satu titik tolak, menjadi satu kunci bagaimana kita melakukan
improvement terhadap
work-life balance," ungkapnya.
Berikutnya, produktivitas yang lebih luas. Sebelum pandemi, kerja jarak jauh tentu belum terbiasa. Sebab paradigma yang tertanam adalah kerja di rumah lebih santai. Karena itu, di awal pandemi produktivitas pekerja
remote working lebih turun.
Baca juga: Sistem Remote Working Makin Dilirik, Apa Manfaat dan Kendalanya?"Pengusaha juga tentu melihatnya, jika seandainya
WFH produktivitas lebih turun, tentu ini akan mengganggu produksi, pekerja dan lainnya. Sekarang dengan adanya hybrid, produktivitas menjadi lebih baik," ucapnya.
Kemudian perubahan budaya sangat signifikan, menggabungkan antara generasi saat ini dengan generasi dulu.
"Dulu ketika tidak melihat timnya, tidak melihat anak buahnya atau tidak melihat orang lain, kesannya sangat sepi. Tapi sekarang lebih modern, ketika ingin melihat timnya bisa melalui zoom, Gmeet atau apapun. Jadi tidak harus di depan mata ada timnya, kemudian untuk menjadi lebih enak dan lebih mudah dan lainnya," tutur Anung.
Lebih lanjut, adanya hybrid sama saja melakukan penghematan biaya kantor. Anung menuturkan tentu ini menjadi ukuran-ukuran finansial yang memang harus diukur. Apakah seandainya ketika melakukan
remote working, kemudian karyawan tidak masuk kantor menjadi lebih menghemat biaya kantor, listrik, AC dan lainnya.
Baca juga: Generasi Milenial Inginkan WFH, Paling Enggak Satu Kali SemingguTerakhir adalah kepuasan karyawan. Menurut Anung hal ini berhubungan dengan
work life balance atau keseimbangan kerja.
"Dengan work life balance otomatis
employee satisfaction menjadi lebih naik. Karyawan tidak mengeluh lagi nih, kalau WFH full lalu kapanpun diajak rapat, dan tidak boleh jika tidak bawa laptop saat jalan-jalan dan lainnya. Ini terjadi di semua kantor. Maka itu, dengan adanya hybrid ini semuanya menjadi lebih baik," pungkasnya.
(est)