LANGIT7.ID, Jakarta - Di era digital, seorang anak memiliki dunianya sendiri yang ada dalam genggaman di gadgetnya. Sebagian orang tua merasa kecanggihan teknologi membawa dampak buruk pada anak. Padahal, kecanggihan itu tidak bisa dihindari. Menekan anak dengan cara yang keras justru akan menimbulkan perlawanan dari anak. Maka orang tua harus bisa mengawasi dan mendidik anak dengan bijak agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Baca Juga: Sekum Muhammadiyah: Internet Ruang Bebas, Generasi Muslim Harus Isi dengan Konten Positif
Dokter Spesialis Neuroparenting, Aisah Dahlan, menjabarkan cara bijak mendidik anak di era digital sesuai kerja otak dan Al-Qur’an. Orang tua harus mendidik anak sesuai zamannya. Berikut 3 tips agar orang tua bisa mendidik anak dengan bijak:
1. Berkata Lemah LembutMendidik anak dengan berkata lemah lembut merupakan perintah Al-Qur’an. Di sisi lain, sering memarahi membawa dampak negatif dalam tumbuh kembang anak. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Ali Imran ayat 169:
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”
Kata-kata atau ucapan yang diterima otak akan dialirkan ke seluruh tubuh untuk menjadi tingkah laku. Otak merekam apa yang ditangkap telinga, dirasakan hati, dan dilihat mata.
“Ketika melihat anak main gadget dan ibu berkata ‘main terus, main terus’, maka itulah yang akan dilakukan anak,” kata dr. Aisah Dahlan melalui kanal youtube Ibnu Umar Atjeh, dikutip Jumat (29/10/2021).
Respon anak berbeda ketika anak menegur dan mengajak anak menggunakan kata-kata yang baik. Misalnya mengajak anak shalat. kata-kata yang keluar dari mulut orang tua akan didengarkan telinga sang anak dan masuk ke dalam otak.
“Kemudian, ketika mengajak, orang tua juga memperlihatkan kepada anak sedang bersiap shalat, sehingga mata menangkap hal tersebut dan masuk ke dalam otak. Selanjutnya, anak akan lebih lebih cepat bergerak melakukan shalat, karena otak yang mendengar dan melihat langsung memberikan aliran ke tubuh untuk bergerak,” ucap dr. Aisah.
2. Memaafkan dan MengampuniTerkadang mengajak dengan kata-kata yang baik tak berhasil. Namun orang tua tak perlu terbawa emosi, maafkan dan ampuni anak. Kehidupan anak akan mendapatkan keberkahan karena orang tua ridha.
“Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka,” (QS. Ali Imran: 159).
Maaf dan ampunan dari orang tua dengan tetap bersikap lemah lembut akan membuat hati anak terkutuk. Cara ini jauh lebih efektif ketimbang memarahi anak, yang pada akhirnya hanya akan menjadi beban psikologis, sehingga berpengaruh pada masa depan anak.
3. Bermusyawarah dan DiskusiDalam Islam, bermusyawarah merupakan aktivitas pencarian solusi yang diwajibkan dalam Al-Qur’an. Termasuk dalam hal ini mengajak anak bermusyawarah dan berdiskusi. Allah Ta’ala berfirman: “Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”
Anak zaman now yang hidup di era serba digital berbeda dengan anak zaman dahulu yang cenderung penurut. Jika anak mendapati masalah, ajak dia bermusyawarah dan berdiskusi. Itu menjadi cara ampuh. Selain itu, bermusyawarah juga menciptakan kedekatan antara orang tua dan anak.
“Jika hasil diskusi anak hanya diizinkan bermain dengan gadgetnya selama 3 jam dan hendak bernegosiasi, ajaklah untuk berdiskusi kembali. Tanyakan alasan anak meminta tambahan waktu,” ucap Aisah Dahlan.
Setelah melakukan tiga langkah di atas, maka orang tua harus bertawakal kepada Allah Ta’ala. Sekuat apapun usaha manusia, tetap Dia yang menentukan. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa, segala keputusan menjadi hak prerogatif.
“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 159)
(jqf)