Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 18 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Luar Biasa, Kakek Ini Tuntaskan Kuliah S3 Ketiga Kalinya di Usia 89 Tahun

Muhajirin Selasa, 09 November 2021 - 11:33 WIB
Luar Biasa, Kakek Ini Tuntaskan Kuliah S3 Ketiga Kalinya di Usia 89 Tahun
Manfred Steiner telah mengambil S3 di bidang medis dan biokimia, lalu S3 ketiga kalinya di bidang fisika kuantum (foto: brown.edu)
LANGIT7.ID - Menuntut ilmu tak pernah mengenal usia. Sebagaimana nasehat bijak yang sering kita dengar, tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat. Kalimat itu cocok menggambarkan sosok Manfred Steiner. Pria ini menuntaskan kuliah jenjang S3 atau doktoral untuk ketiga kalinya di usia 89 tahun.

Sebelumnya, ia merupakan Doktor di bidang medis dan biokimia, lalu ia bermimpi menjadi seorang fisikawan. Setelah menempuh kuliah S3 yang tak mudah kini ia telah menjadi doktor di bidang fisika kuantum.

Pada 15 September 2021, Steiner berhasil memperoleh gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) setelah mempertahankan disertai berjudul “Corrections to the Geometrical Interpretation of Bosonization” di Departemen Fisika Brown University.

Perjalanan Steiner mendapat gelar Ph.D tidak mudah. Pada saat masih muda, ia harus meninggalkan kota kelahirannya, Wina, ke Amerika Serikat untuk menghindari pertikaian perang dunia II.

“Saya tahu fisika adalah impian saya yang sebenarnya saat lulus SMA. Tetapi setelah perang, paman dan ibu saya menyarankan saya untuk terapi, karena itu akan menjadi pilihan yang lebih baik di tahun-tahun setelah perang yang penuh gejolak ini,” kata Steiner, dikutip laman Brown University, Selasa (9/11/2021).

Meski memiliki keunggulan di bidang fisika, Steiner harus mengikuti saran keluarga. “Nasehat keluarga saya adalah bahwa terapi adalah jalan terbaik bagi saya. Jadi saya mendamaikan diri saya, ‘mereka lebih tua dan lebih bijaksana’, dan saya mengikuti saran mereka,” ucapnya.

Kendati begitu, Steiner tetap melanjutkan pendidikan. Pada 1955, Steiner memperoleh gelar doktor medis dari Universitas Wina. Setelah mendapat gelar itu, dia berangkat ke Washington untuk magang sebagai spesialis penyakit dalam.

Setelah itu, dia magang di bidang hematologi di Universitas Tufts di bawah Dr. William Damashek, yang merupakan ahli hematologi terkemuka pada masanya. Pelatihan tersebut, termasuk pelatihan dalam bidang biologi selama tiga tahun di Massachusetts Institute of Technology mengantarkan Steiner memperoleh gelar Ph.D dalam biokimia pada 1967.

Steiner lalu pindah ke Rhode Island saat ditawari posisi sebagai ahli hematologi di Program Kedokteran yang baru didirikan di Brown University (sekarang Warren Alpert Medical School). Pada 1968, ia diangkat sebagai Asisten Profesor Kedokteran, terutama dalam penelitian dan diangkat sebagai Profesor Kedokteran penuh pada tahun 1978.

Pada 1985, Steiner diangkat sebagai kepala bagian hematologi sekolah kedokteran hingga 1994. Ketika mendekati pensiun, seorang rekan mengajak Steiner mendirikan pusat penelitian di bidang hematologi hingga 2000.

Meski sukses menggapai cita-cita sebagai dokter, ia tak bisa memendam impian untuk menjadi fisikawan.

“Bahkan ketika saya masih di sekolah kedokteran, saya kadang-kadang menghadiri kuliah oleh fisikawan terkenal Walter Thirring. Ceramahnya selalu membuat saya terpesona. Saya terpikat oleh fisika kuantum dan berharap bisa membahas lebih detail dalam hal ini,” ucapnya.

Namun sayang, pada saat itu dia tidak dapat mendalami misteri fisika kuantum seperti yang dia inginkan. Namun sepanjang karirnya di bidang kedokteran, ia selalu memikirkan fisika. “Fisika selalu menjadi bagian dari diri saya. Ketika saya pensiun dari kedokteran dan mendekati 70, saya memutuskan untuk memasuki dunia fisika,” tuturnya.

Steiner mulai mengambil kelas fisika di MIT, namun ia tak bisa bolak-balik melakukan perjalanan ke Boston. Akhirnya dia memutuskan mengambil kelas fisika di Brown University. Dia mendaftar sebagai mahasiswa khusus pada 2000 dan mulai mengambil program sarjana.

"Saya memperkenalkan diri kepada para guru dan memberitahu mereka 'Saya seorang mahasiswa yang lebih tua' dan mereka mengatakan mereka senang memiliki saya di kelas,” katanya.

Sebenarnya, Steiner tidak merencanakan untuk mengambil kuliah doktoral ketiga ketika memulai studi di Brown. Ia awalnya hanya ingin mengambil kelas untuk mengobati rasa dahaga terhadap fisika. Namun pada 2007, ia menyelesaikan cukup banyak kelas dan diterima di kelas pascasarjana sebagai Ph.D.

“Butuh waktu lama karena saya hanya mengambil satu atau dua kelas setiap semester. Tetapi akhirnya, saya telah menyelesaikan semua persyaratan untuk masuk ke sekolah pascasarjana,” ungkapnya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 18 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)