LANGIT7.ID, Jakarta - Guru harus memiliki metode khusus dalam mengajar, salah satunya dengan mengembangkan pendekatan bercerita. Untuk mendukung hal tersebut, maka tenaga pendidik harus beradaptasi dengan teknologi.
Hal tersebut disampaikan Putri Wakil Presiden RI Siti Nur Azizah Ma’ruf Amin. Selain itu, kata dia, guru harus mumpuni dan inovasi metode mengajar agar sesuai dengan kondisi belajar siswa pada masa pandemi.
Pendidik harus bisa bercerita secara menarik, minimal secara lisan, akan lebih baik lagi secara tulisan. Karya cerita dalam bentuk tulisan akan menjadi penanda kemajuan zaman.
"Dengan tantangan keterbatasan ruang gerak kita saat ini, sesungguhnya merupakan kesempatan terbaik bagi para penulis cerita untuk unjuk diri membangun ruang imajinasi. Di saat para siswa tersandera belajar di rumah dan tidak boleh kemana-mana, maka waktunya kita menjemput mimpinya dengan cerita-cerita inspiratif menuju ruang imajinasi yang luasnya tiada tara," kata Azizah, dikutip dari laman Kemenag, Sabtu (17/7/2021).
Menurut Azizah, salah satu tema yang bisa menjadi pilihan terbaik adalah cerita Islami. Melalui cerita itu, guru bisa mengasah semangat anak di tengah pandemi.
"Pun dengan adanya genre cerita Islami (ceris), kita berkesempatan membantu mereka mempersiapkan masa depannya secara optimis dan gemilang," ucapnya.
Azizah menilai merawat imajinasi anak sangat penting. Dia mengutip kata-kata Albert Einstein yang masyhur,
imagination more important than knowledge (imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan).
Imajinasi tidak dibatasi ruang fisik. Dia lebih luas bahkan mungkin tak terbatas. Bila pengetahuan hanya melangkah, maka imajinasi mengajak seseorang melompat jauh ke depan. Maka itu, merusak imajinasi anak dapat disamakan dengan upaya merusak masa depan bangsa.
Azizah mengatakan, guru harus menitipkan imajinasi kolektif bangs kepada anak-anak Indonesia melalui cerita-cerita yang baik dan berkualitas. Melalui cerita islami, guru bisa menumbuhkan rasa cinta, keberagaman, kebersamaan, kemanusian, dan semangat menjaga lingkungan kepada anak-anak Indonesia dalam setiap kata yang ditulis.
"Melalui Cerita Islami pun kita bisa menyisipkan pesan moral penting keberagamaan yang lebih sejuk dan rahmatan lil ‘alamin, bukan membakar semangat kebencian dan kekerasan yang bisa merusak persatuan," ungkapnya.
Di sisi lain, para penulis cerita harus lebih mengenal ragam kecerdasan anak secara psikologis. Misalnya teori kecerdasan majemuk yang dikembangkan oleh seorang psikolog perkembangan dan professor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard Univercity, Amerika Serikat Howard Gardner, mengajarkan setiap anak memiliki potensi kecerdasan yang berbeda-beda.
Ada kecerdasan berhitung, gerak tubuh, bahasa, interaksi dengan alam raya, interaksi dengan manusia, musikal, dan lain sebagainya yang harus dilayani dalam naskah cerita yang berbeda. Cerita Islam dapat menjadi panggung imajinasi anak Indonesia, jadi meski memiliki jenis kecerdasan yang berbeda, mereka diharapkan dapat menikmati. Kelihaian seorang penulis cerita akan diuji di sini. Cerita-cerita yang berkualitas sangat penting dalam membentuk karakter bangsa dan sumberdaya manusia Indonesia yang unggul.
(asf)