LANGIT7.ID, Lamongan - Sekilas tak ada yang istimewa dari Pondok Pesantren Sumber Pembinaan Mental Agama Allah (SPMAA) yang berpusat di Lamongan. Seperti pesantren pada umumnya, letaknya berada di wilayah pedesaan. Namun ketika sudah masuk ke dalam pesantren di Desa Turi, Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan ini, kita tidak akan menemukan santri bersarung seperti santri pada umumnya. Seragam yang dikenakan santri malah lebih mirip taruna militer atau taruna sekolah kedinasan ketimbang pakaian seorang santri.
![Ponpes SPMAA, ‘Kopassus’-nya Santri untuk Layani Umat]()
Pengasuh Ponpes SPMAA, Gus Khosyi’in Kocoworo Brenggolo mengungkapkan bahwa seragam santri sengaja didesain seperti taruna untuk mengangkat citra santri dan pesantren yang biasa dipandang sebelah mata.
“Santri itu kelak harus jadi pemimpin bangsa, maka harus dikondisikan mulai sekarang lewat pakaian yang membanggakan. Penampilan seperti taruna militer juga disengaja agar para santri sadar bahwa mereka adalah tentaranya Allah,” ungkap Gus Khosyi’in saat ditemui LANGIT7.ID, Senin (22/11/2021).
Militansi santri SPMAA tidak hanya ada pada seragamnya, namun pada pendidikan di pesantren serta pengabdiannya. Gus Khosyi’in menuturkan para santri dididik untuk menjadi TPU (Tenaga Pelayan Umat) untuk mengabdi di seluruh daerah di Indonesia.
Setelah menempuh pendidikan di level sekolah menengah yakni Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, santri SPMAA akan menempuh jenjang pendidikan di level taruna 1 dan 2 selama dua tahun. Setelah lulus dari jenjang taruna, santri akan dikirim untuk mengabdi dalam program BBM (Belajar Bersama Masyarakat) ke daerah terluar di Indonesia. Jenjang waktu pengabdian tidak menentu, bisa berlangsung dalam jangka waktu bulanan hingga tahunan, bergantung kepada kebutuhan masyarakat di daerah pengabdian.
“Indikator kelulusan santri dalam program BBM adalah ketika mereka sudah digandoli oleh masyarakat di daerah itu saat hendak pulang, artinya kehadiran mereka betul-betul dibutuhkan,” kata Direktur Yayasan SPMAA Gus Ashabun Na’im kepada LANGIT7.ID.
Tak hanya pasca nyantri, saat sedang menempuh pendidikan di Pesantren para santri dibiasakan belajar melakukan pengabdian dan pelayanan umat. Salah satunya adalah merawat lansia yang ada di Panti Werdha Mental Kasih milik Yayasan SPMAA serta merawat ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang direhabilitasi di pesantren itu.
![Ponpes SPMAA, ‘Kopassus’-nya Santri untuk Layani Umat]()
Saat mengunjungi Panti Werdha, LANGIT7.ID melihat sendiri bagaimana santri maupun santriwati merawat dengan telaten para lansia yang dititipkan hingga diabaikan oleh keluarganya. Kondisi para lansia pun beragam, mulai dari yang masih lancar beraktivitas hingga tak bisa bergerak sama sekali. Semua kebutuhan mereka dipenuhi oleh santri dan pesantren. Termasuk ketika sakit, Yayasan SPMAA yang membiayai untuk berobat dan operasi.
Santri juga dibiasakan hidup mandiri dengan mengelola sendiri kebutuhannya. Misalkan untuk makan sehari-hari, para santri mengelola sendiri dapur umum. Santri putra mencari kayu untuk bahan bakar untuk memasak dan santri putri memasak di dapur. Tidak main-main, jumlah nasi yang harus dimasak pernah harinya bisa mencapai jumlah hingga 1 kwintal yang disediakan untuk lebih dari 300 santri serta puluhan anak yatim piatu dan lansia.
Kemandirian santri tersebut tak muncul tiba-tiba, namun dibiasakan sejak kecil. Gus Khosyi'in menuturkan sejak Madrasah Ibtidaiyah (MI) para santri biasa dilepas ke pasar dengan tangan kosong, namun ditugaskan untuk pulang dengan keuntungan.
"Dari tantangan itu, muncul kreatifitas santri. Ada yang membantu berjualan dengan membawa dagangan penjual keliling pasar, ada yang melayani kebutuhan pembeli, macam-macam. Begitu pulang rata-rata mereka sudah mengantongi uang Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu," tutur Gus Khosyi'in.
Pembelajaran Bersistem SKS dengan Ekstrakurikuler ala MiliterDari segi kurikulum, Ponpes SPMAA cukup unik dibanding pesantren pada umumnya. Para santri bisa bebas memilih mata kuliah yang disajikan sama seperti sistem perkuliahan di level perguruan tinggi yang menggunakan Sistem Kredit Semester (SKS).
"Jadi jadwal kegiatan pembelajaran santri di sini beragam sesuai mata kuliah yang diambil. Ada yang belajar dari pagi sampai siang saja, ada pula yang sampai malam," kata Gus Khosyi'in.
Namun di antara mata kuliah yang bebas dipilih, ada pelajaran dan kegiatan wajib yang harus diikuti para santri yang terangkum dalam 8 rukun santri, yakni terdiri dari sholat Fardhu Berjamaah, Sholat malam, Sholat Dhuha, Kajian Tafsir Al-Quran, Kajian Tafsir Al-HadistKajian Umum Jumat sampai Ahad, Puasa Senin dan Kamis serta Renungan Suci atau Tafakkur.
Dalam kegiatan ekstrakurikuler, Ponpes SPMAA juga terbilang unik. Menurut penuturan Gus Ashabun Na'im, para santri bisa memilih ekstrakurikuler seperti Tri Matra TNI yakni darat, laut dan udara. Untuk angkatan darat, SPMAA menyediakan ekstrakurikuler Santri Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup yang menempa santri untuk memperbaiki lingkungan.
Para santri tak hanya diajak mengenal alam lebih dekat, tapi juga melakukan advokasi kelompok tani hutan hingga menjadi dai bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman hutan.
"Para santri ini sudah biasa kita didik untuk hidup survival bertahan hidup di alam, mereka bisa berhari-hari hidup di hutan hanya berbekal sebotol air," tutur Gus Naim.
Selain itu, untuk yang semacam angkatan laut ada ekstrakurikuler Santri Bahari. Di ekskul ini para santri dilatih untuk menjadi penyelam profesional dengan latihan bersama Detasemen Jalamangkara (Denjaka) TNI Angkatan Laut.
Lalu untuk yang sejenis angkatan udara, santri bisa bergabung dalam ekstrakurikuler Santri Dirgantara. Di mana para santri dilatih untuk jadi penerjun payung profesional hingga penerbang gantole profesional. Mereka langsung dilatih oleh TNI Angkatan Udara.
Ketiga ekstrakurikuler ini dilakukan santri bukan sekadar untuk kesenangan atau menambah skill semata. Namun dipelajari santri untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat, terutama untuk evakuasi dalam bencana. Aktivitas tanggap bencana santri SPMAA terhimpun dalam sebuah wadah bernama Santri Tanggap Bencana (SANTANA).
Dalam setiap bencana, SANTANA selalu tanggap turun untuk membantu para korban bencana. Mulai dari tsunami Aceh, gempa Lombok hingga gempa dan likuifaksi di Palu dan berbagai bencana lain.
Dari proses pendidikan yang secara khusus ditargetkan agar santri dapat melayani umat, hingga atribut maupun ekstrakurikuler yang serupa militer, tak berlebihan kiranya jika SPMAA dijuluki sebagai Komando Pasukan Khusus atau 'Kopassus'-nya santri. Sebab kemampuan dan keterampilan lulusan pesantren yang telah berdiri setengah abad ini, telah teruji di lapangan.
(jqf)