Langit7, Jakarta - Pemulihan ekonomi sering dianggap sebagai pertumbuhan ekonomi. Bahkan parahnya pemulihan ekonomi juga sering salah kaprah dipahami dengan menganggapnya sebagai pertumbuhan PDB nasional.
Kepala Ekonomi Pusat Belajar Rakyat, Awalil Rizky mengatakan hal itu merupakan kekeliruan yang sering terjadi di masyarakat.
"Padahal dalam ekonomi, pertumbuhan PDB sebetulnya tidak sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan ekonomi. Sebab, pertumbuhan PDB biasanya diukur dalam jangka waktu tertentu, seperti kurun waktu triwulan atau tahunan. Sementara pertumbuhan ekonomi merupakan PDB riil per kapita dalam jangka panjang," jelasnya di Webinar Pemuliuan Ekonomi di Tengah Kenaikan Inflasi Dunia, Jumat (26/11).
Baca juga: Ekonom Sebut Terjadi Masalah Supply Chain di Situasi PandemiUntuk itu, perlu diamati lebih lanjut terkait pemulihan ekonomi. Apalagi, pemulihan ekonomi juga bakal tersendat akibat inflasi yang terjadi di negara maju.
Pemulihan ekonomi mestinya juga diukur dari kondisi ketenagakerjaan. Sehingga, tidak hanya bisa dilihat dari pertumbuhan PDB.
"Selain itu, kita juga perlu melihat faktor perkembangan kondisi kemiskinan. Juga kredit perbankan yang menjadi 'darah' dalam perekonomian," jelasnya.
Baca juga: Pemerintah Dinilai Kurang Tegas Atasi Pandemi Covid-19Ia menambahkan, jika betul terjadi pemulihan ekonomi, maka terdapat tanda peredaran 'darah' yang semakin lancar.
Lebih lanjut, Awali juga menyebutkan tolak ukur pemulihan ekonomi juga perlu dilihat dari indeks penjualan riil.
"Berikutnya yakni indeks keyakinan konsumen dalam komponen tentang lapangan kerja. Ditambah lagi dengan kondisi ketahanan eksternal, seperti transaksi berjalan," tambahnya.
Ia menyebutkan, dampak inflasi yang tinggi yang sudah mulai melanda banyak negara maju. Hal itu disebut bakal berdampak pada pemulihan ekonomi nasional.
Baca juga: Pertahankan Ekonomi Saat Krisis, Pemerintah Perkuat Peran UMKM(zul)