LANGIT7.ID, Blitar - Eka Irawan pemilik peternakan Sadar Muda Farm asal Blitar. Petenakan ini terdiri dari peternakan kambing perah, kambing pedaging, sapi, domba dan ayam petelur. Detailnya, menampung kambing sekitar 500 ekor, sapi 100 ekor, domba 300 ekor, dan ayam 8 ribuan ekor.
Dari peternakannya ini, Eka mampu menghasilkan susu kambing yang menjadi tambahan penghasilannya selain dari penjualan hewan. Namun, Eka mengaku di peternakannya tetap fokus pada pengembangbiakkan hewan.
Sementara peternakan sapinya, Eka melakukan proses pembesaran. Bibit sapi yang ia beli, berkisar Rp10 juta, nantinya selama 1 sampai 2 tahun dibesarkan, kemudian dijual kepada tukang jagal atau bertepatan pada Idul Adha.
Peternakan domba awaalnya diniatkan hanya untuk pembesaran, kini Eka mulai berpikir untuk melakukan pengembangbiakan domba. Domba yang tadinya dibeli dari bobot 10-15 kilogram baru akan dijual setelah mencapai bobot 30 kilogram.
Untuk peternakan ayamnya sendiri, berawal dari usaha orangtuanya yang memang memiliki usaha ayam petelur. Harga ayam yang sempat goyah, membuat Eka mencari ide lain untuk menutupi kekurangan dari hasil penjualan telur ayam.
“Kita coba kambing, setelah itu baru coba mengurus sapi, ke sininya kita tambah domba. Jadi sebenarnya, peternakan kambing, sapi dan domba ini tadinya untuk menopang usaha ayam yang sudah ada sejak lama,” jelasnya dikanal Youtube PecahTelur.
Eka mengatakan, di antara sekian jenis usahanya ini akan digunakan untuk saling menutupi kekurangan. Sehingga kekurangan yang ada di satu sektor peternakan akan dibantu dari jenis peternakan lainnya.
Sebelumnya, Eka pernah bekerja di sebuah pabrik lampu selama dua tahun hingga menjadi TKI di Taiwan dan bekerja di pabrik peleburan baja selama tiga tahun. Setelah pulangnya ke tanah air dan menikah, ia mulai beternak usaha kambing kecill-kecilan, memelihara 20 ekor kambing.
Seiring berjalannya waktu, kambing yang ada di peternakan mulai beranak dan menambah jumlah kambing di peternakannya. Ia mengakui, kambing yang ada di Sadar Muda Farm merupakan hasil dari kandangnya sendiri.
“Paling kami beli jantannya saja, agar tidak inbreeding. Kalau masuk Idul Adha hasil dari peranakan yang jantan kami jual, sementara yang betina nanti akan dikembangbiakkan lagi,” katanya dikanal Youtube PecahTelur.
Menurut Eka, adanya media sosial sangat membantu pemasaran hewan ternaknya. Dari postingan di media sosial banyak pembeli yang datang ke lokasi melakukan transaksi.
“Jadi tidak perlu bingung soal pasar, tapi juga harus memperhatikan momen yang ada agar penjualan bisa dilakukan dengan harga yang lebih tinggi, seperti pada masa Idul Adha,” ujarnya.
Eka dalam mengelola usaha dibantu beberapa orang pekerja. Ada empat orang pekerja membantu mengurus sapi dan kambing. Pengalaman Eka, dalam usaha peternakan ini, hewan perlu mendapatkan perhatian khusus. Jika tidak diperhatikan akan menimbulkan masalah ditahap produksi, seperti hewan sakit. Perawatan kambing yang baru lahir juga penting dan proses pemerahan susu tidak bisa semberangan.
Eka sempat putus asa karena selama empat tahun belum mendapatkan hasil dari peternakannya. Saat itu, minimnya pengetahuan membuatnya merugi karena kematian yang cukup banyak dari hewan ternak.
“Empat tahun saya beternak, itu seperti tidak ada hasilnya. Jadi selama itu juga sambil belajar, buat saya kambing mati itu sudah menjadi hal yang biasa,” katanya
Walaupun masih mengalami kerugian dari kematian ternak, tapi Eka mengaku jumlah kematian hewan saat ini sudah tidak sebanyak dulu. Hal ini berkat ilmu dan pelajaran yang ia dapatkan dari para peternak lain untuk mengatasi masalah yang ada dalam usaha peternakan.
“Obatnya paling tidak kita sudah mengerti, kalau ada hewan sakit juga tetap kita panggilkan dokter hewan. Yang penting usahanya dulu, untuk hasilnya bagaimana urusan belakangan,” ujarnya.
Eka berharap ke depan bisa mempunyai peternakan yang besar dan bisa menyerap tenaga kerja lokal lebih banyak. Sehingga, kata dia, bisa memperbaiki taraf hidup masyarakat dan peternak lokal di Blitar.
“Untuk peternak Indonesia, jangan lupa tetap semangat , kita harus bisa mewujudkan Indonesia swasembada daging. Jangan sampai negara kita impor lagi dari negara lain,” imbuhnya.
(zul)