LANGIT7.ID, Jakarta - Banyak cara untuk mengekspresikan cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Salah satunya lewat kesenian musik yang dipadu dengan Shalawat Burdah dan pembacaan maulid Nabi Muhammad.
Baru-baru ini, Komunitas Burdah di Randudongkal, Pemalang, Jawa Tengah menggelar perayaan Maulid Nabi Muhammad. Tak hanya diikuti masyarakat setempat, perayaan maulid juga menjaring anak-anak jalanan, punk, dan kelompok marjinal lainnya untuk bershalawat.
Komunitas Burdah memang komunitas anak jalanan, jamaah burdah yang dibina oleh Habib Ahmad bin Hasan Al Kaff. Berbeda dengan majelis shalawat pada umumnya, pembacaan maulid dan shalawat di majelis Komunitas Burdah dilakukan oleh tim qasidah yang mayoritas “santri” jalanan.
Baca Juga: Mahasiswa UI Raih Juara Pertama Lomba Cipta Puitisasi AlquranCiri yang biasa lekat dengan kelompok marjinal seperti tato dan penampilan yang urakan terlihat jelas. Namun, ketika mereka membacakan Shalawat Burdah, suasana majelis berubah 180 derjat menjadi sangat syahdu dan khusyuk.
Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin Hidayatul Quran, Randudongkal KH Fatul Munir yang memberi mauizah hasanah pun dibuat takjub dengan penampilan santri-santi jalanan binaan Habib Ahmad bin Hasan Al Kaff.
Baca Juga: Sabet 8 Gelar dalam Ajang Olimpiade Vokasi Indonesia 2021“Saya waktu datang ke sini kaget, terus terang ini baru pertama kali saya ke Komunitas Merah Putih yang suasananya ternyata luar biasa. Saya merinding ketika lantunan shalawat dikumandangkan oleh teman-teman kita yang bertato, teman-teman yang mungkin sering kita pandang sebelah mata,” katanya dikutip Youtube Komunitas Burdah, Kamis (2/12/2021).
Santi-santri dari kelompok marjinal terdengar begitu fasih ketika membaca maulid dan melantunkan Shalawat Burdah. “Maulaa ya shollli wasallim daaiman abada. ‘Alaa habiibika khoiril khalqi kullihimi…” melantun syahdu dengan iringan piano dan biola.
Kiai Fathul Munir menjelaskan, sebuah majelis yang didalamnya dibacakan dzikir, shalawat, dan maulid senantiasa dinaungi rahmat dari Allah. Allah akan menurunkan malaikat untuk berkeliling di tempat tersebut sambil mendokan ampunan bagi setiap orang yang berada di lokasi tersebut.
Baca Juga: UAH: Hari Pahlawan Momentum Kenang Jasa Ulama dan Habaib untuk Kemerdekaan IndonesiaPada sisi lain, menurut Kiai Fathul Munir, mengajar di pesantren atau majelis taklim lain sangat berbeda dengan berceramah di komunitas Burdah ini. Sebab, di dalamnya terdapat beragam santri dengan bermacam-macam karakter dan latar belakang.
“Mungkin ada yang tidak pernah ngaji, masih ada yang senang bermaksiat, tapi dikumpulkan di tempat yang mulia untuk bershalawat, dan memuji Nabi Muhammad. Ini yang jadi kiai tidak boleh sembarangan,” katanya.
“Jadi, saya mohon maaf, apabila ada kiai yang berdakwah di lingkungan orang mengaji itu lumrah, tapi siapa yang mampu menarik teman-teman kita sehingga mau membaca shalawat dengan keras saya jadi merinding,” imbuhnya.
Baca Juga: Stop Audism, Begini Etika Saat Berinteraksi dengan Kaum Tuli(zhd)