Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

Awas Hoaks, Begini Cara Verifikasi Berita Sesuai Ilmu Hadist

muhammad rifai akif Jum'at, 03 Desember 2021 - 12:28 WIB
Awas Hoaks, Begini Cara Verifikasi Berita Sesuai Ilmu Hadist
Konsep informasi hoaks. Foto: LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Di zaman era digital ini arus distribusi informasi sangat deras. Tak hanya memudahkan, tapi fakta tersebut membuat masyarakat bingung dalam memilah berita atau informasi yang valid.

Karenanya, di era digital dibutuhkan keahlian dalam memverifikasi berita dan informasi yang benar. Agar tidak terjebak dengan informasi palsu atau hoaks.

Namun bagaimana cara memverifikasinya, terlebih jika informasi tersebut ingin disebar ke masyarakat?

Baca juga: Sejarah Hadist Palsu, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Rasul

Berikut cara memverifikasi informasi sesuai dengan panduan membuktikan hadits seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Kharish atau yang akrab disapa dengan Ustadz Ahong, salah satu pendakhwah yang ada di aplikasi cariustadz.id.

1. Siapa yang pertama kali memproduksi
Langkah pertama adalah melihat siapa yang pertama kali membuat berita tersebut. Sama seperti dalam verifikasi hadits, harus melihat siapa yang pertama kali meriwayatkan hadits tersebut.

Unsur kewaspadaan perlu diberikan kepada siapapun yang yang mengucapkan atau menuliskan informasi tersebut. Jangan karena yang menginformasikan adalah tokoh yang satu kelompok, maka terlena dan langsung menyebar ulang informasinya seakan-akan sudah pasti ini adalah kebenaran.

"Kita harus objektif harus adil, kalaupun itu sumbernya dari kelompok kita, tapi kalau itu sifatnya hoaks jangan disebarkan." kata Ustadz Ahong.

2. Kredibilitas pembuat berita
Langkah kedua memilih informasi adalah dengan melihat siapa yang memproduksi berita tersebut. Cek terlebih dahulu, siapakah yang memproduksi informasi tersebut, dari pimpinan suatu kelompok atau salah satu dari sekian banyak anggotanya saja.

Tentunya dibandingkan hanya dari anggota kelompok, akan lebih dipercaya manakala datang dari ketua kelompok atau bagian humas dari kelompok tersebut.

Jika dalam hadits harus dilihat apakah orang tersebut orang yang terpercaya, dan dilihat apakah memang betul ia salah satu dari sahabat nabi yang dikenal dekat dengan Rasulullah SAW.

3. Kompetensi produser berita
Langkah ketiga adalah harus melihat apakah orang yang memproduksi berita memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidangnya.

Contohnya adalah Ketua Ikatan Dokter Indonesia jika berbicara masalah hukum atau ekonomi, maka ia berbicara bukan mewakili bidangnya, maka harus berhati-hati. Jika perlu jangan dijadikan sebagai panduan, karena bukan bidangnya.

Selanjutnya contoh verifikasi dalam hadits juga harus dilihat sesuai bidangnya. Permasalahan dalam rumah tangga, paling tepat yang berbicara adalah hadits dari Sayidah Aisyah RA.

4. Membandingkan dengan berita lain
Langkah terakhir adalah membandingkan informasi yang didapat dengan berita yang ada di media mainstream. Media besar biasanya lebih dipercaya dan sudah terkonfirmasi dari narasumber yang kredibel.

Dalam dunia hadits, jika ada satu hadits maka coba bandingkan terlebih dahulu dengan hadits lain. Hal ini dikhawatirkan ada perbedaan bahkan bertentangan antara satu hadist dengan hadits lainnya.

"Contohnya adalah satu hadits sahih terkait jangan memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani." kata Ustadz Ahong.

"Ini kan dari satu hadits yang dari urutan ke 1-3 sudah sesuai. Tapi coba dibandingkan terlebih dahulu dengan hadits lain, takutnya bertentangan." imbuhnya.

Dan ternyata setelah dicek, ada hadits sahih lainnya yang menerangkan bahwa Rasulullah berniaga, memberi hadiah, mengunjungi orang sakit, menerima undangan makan dan lain-lain. Yang artinya, didalam kegiatan tersebut pasti ada salam yang akan terucap.

Baca juga: Bolehkah Menyindir Lewat Status Media Sosial? Ini Kata Ustadz Zacky Mirza

Ternyata yang dimaksud oleh Rasulullah dalam hadits tidak boleh memulai salam kepada orang Nasrani dan Yahudi adalah bagi mereka yang mempermainkan salam.

Diketahui oleh Nabi bahwa ada beberapa oknum Yahudi yang mempermainkan salam umat Islam, dan hal ini membuat Rasulullah SAW mengucapkan hadits larangan ini.

Itu 4 urutan cara memverifikasi berita dan hadist seperti yang disampaikan Ustadz Ahong peraih penghargaan Maarif Awards 2020.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)