LANGIT7.ID - Nabi Muhammad SAW bukan hanya seorang figur spiritual yang membawa umat manusia dari era kegelapan menuju cahaya Islam. Beliau juga merupakan seorang guru yang ideal. Baginda nabi menerapkan berbagai strategi dan metode pembelajaran kepada para sahabat.
“Hal ini tidak hanya diakui oleh umat Islam, tetapi juga oleh komunitas non muslim. Salah satu contohnya Robert Gullick yang mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang pendidik yang membimbing manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan,” kata Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ruslan Fariadi, dikutip laman resmi Muhammadiyah, Sabtu (4/12/2021).
Variasi strategi dan metode pembelajaran Nabi Muhammad SAW selalu disesuaikan dengan konteks yang dihadapi. Dalam menyampaikan risalah islam, baginda nabi tidak lupa mempertimbangkan aspek situasi, kondisi, berat atau ringannya materi, bahkan aspek psikologis.
Pertimbangan itu dilakukan agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Ini bisa dilihat dari beberapa hadits ketika baginda nabi ditanya soal amalan paling mulia di sisi Allah Ta’ala. Jawaban Rasulullah bervariasi seperti shalat pada waktunya dan berbakti kepada kedua orang tua.
“Keragaman jawaban Nabi Muhammadi tersebut selalu disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan penanya,” kata Ruslan.
Ruslan mengaku sudah melakukan penelitian terkait strategi pembelajaran ala Rasulullah. Di antaranya metode bertanya, menggunakan alat peraga,
reward and punishment, perumpamaan, metode gradual, s
tory telling, analogi, keteladanan, ceramah, memberi beberapa jawaban alternatif, dan metode berdebat.
Tak hanya itu, Ruslan juga menemukan dampak psikologis bila menerapkan strategi pembelajaran Baginda Nabi Muhammad seperti membangkitkan emosi dan kesan mendalam, memberikan kepuasan, melatih kesabaran dan keuletan menghadapi setiap proses, menyesuaikan dengan kecenderungan individu sehingga membengkitkan perhatian, dan lain sebagainya.
Ruslan berharap, para pendakwah menerapkan metode pembelajaran ala nabi tersebut. Ini karena metode ceramah masih mendominasi, baik di dunia pesantren maupun perguruan tinggi. Hal itu merupakan buah kecenderungan memahami hadits secara tradisional, bukan dalam praktek modern. Akibatnya, hadits hanya digunakan sebagai motto pendidikan dan menjadi doktrin kering yang tidak berdampak apa-apa.
(jqf)