Langit7, Jakarta - Presidensi G20 Indonesia tahun 2022 yang diselenggarakan di tengah situasi pandemi Covid-19, menjadi periode paling krusial dalam pemulihan ekonomi global.
Pemulihan pandemi dan ekonomi global yang masih belum merata, menyebabkan semakin tingginya kemiskinan, dan tidak tercapainya target pembangunan berkelanjutan atau SDGs pada 2030.
Melalui peran kolaborasi global, Forum G20 diharapkan dapat menata kembali arsitektur dan tata kelola Kesehatan Global, sebagai syarat utama dalam mewujudkan pemulihan ekonomi global.
“Presidensi G20 merupakan kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinan Indonesia dalam kancah global, guna menjawab berbagai tantangan internasional. Tentunya kepentingan nasional juga menjadi perhatian pemerintah Indonesia, yaitu mewujudkan pemulihan ekonomi yang inklusif, berdaya-tahan, dan berkesinambungan,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam
1st Sherpa Meeting G20 Indonesia, di Jakarta, Selasa (7/12).
Baca juga: PLN Gelar Turnamen PUBG Tingkat Nasional, Berhadiah Ratusan Juta RupiahKondisi pemulihan kesehatan di Indonesia, sejalan dengan target WHO untuk vaksinasi dosis ke-2 sebesar 40 persen dari jumlah penduduk. Maka Indonesia diperkirakan akan mencapai sekitar 113 juta jiwa yang sudah tervaksin atau 41,8 persen dari total jumlah penduduk, atau sekitar 54,3 persen dari total sasaran pada akhir tahun 2021.
Adapun posisi capaian vaksinasi Dosis-2 saat ini adalah sejumlah 99,6 juta jiwa atau sekitar sekitar 37 persen dari total jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 47,8 persen dari sasaran.
Presidensi G20 Indonesia mengangkat tema “
Recover Together, Recover Stronger” atau “Pulih Bersama”. Melalui tema ini, Indonesia mengajak seluruh dunia untuk bersama-sama mencapai pemulihan ekonomi yang lebih kuat, inklusif dan berkelanjutan.
Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022 mengusung 3 Topik Utama, yaitu:
Arsitektur Kesehatan Global, yang merupakan upaya Indonesia memperkuat dan menyusun kembali tata kelola dan arsitektur kesehatan global pasca pandemi. Mendorong ASEAN, terutama Indonesia menjadi transfer hub untuk pengembangan dan produksi vaksin.
Baca juga: Perhatikan Nasib Pengusaha Mikro dan UtramikroTransformasi Berbasis Digital, dalam rangka membuat nilai-nilai ekonomi melalui teknologi digital, serta mendorong digitalisasi sektor-sektor yang menjadi mesin pertumbuhan baru.
Transisi Energi, untuk memperluas akses terhadap teknologi menuju energi bersih dan terjangkau, serta pembiayaan untuk mempercepat transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
“Ketiga topik utama tersebut akan menjadi guidance untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih pro-rakyat, lebih konkret, dan dapat diterapkan,” jelas Airlangga.
Airlangga menyebutkan, Presidensi G20 Indonesia 2022 diharapkan berkontribusi dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional dan global.
“Kehadiran para Delegasi diharapkan mendatangkan manfaat untuk mendorong perekonomian Indonesia, baik secara langsung seperti menumbuhkan kembali sektor akomodasi, perhotelan, transportasi, UMKM, dan sektor-sektor terkait lainnya, maupun secara tidak langsung dengan meningkatnya kepercayaan para investor kepada Indonesia,” katanya.
Baca juga: Shopee Creative & Innovation Hub, Wadah Lahirkan Pengusaha MudaSebagai informasi,
1st G20 Sherpa Meeting ini merupakan pertemuan pertama dan pembuka dari seluruh rangkaian pertemuan Presidensi G20 Indonesia, dan diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 7 - 8 Desember 2021.
Kemudian, dilanjutkan dengan Pertemuan Pertama Tingkat Deputi Keuangan dan Bank Sentral (
Finance Track) di Bali pada tanggal 9-10 Desember 2021.
(zul)