Langit7, Jakarta - Hampir seluruh bahan baku produk farmasi diperoleh dari impor, atau sekitar 95 persen. Adapun negara asal bahan baku tersebut yakni China 60 persen, India 30 persen dan Eropa 10 persen.
Untuk itu, pemerintah memberikan dukungannya dalam meningkatkan kemandirian industri farmasi nasional. Sehingga diharapkan dapat menekan harga bahan baku obat, dan berimbas pada penurunan harga produk, juga meningkatkan daya beli yang tinggi.
Hal itu juga yang membuat Wahyudi Setiawan, berupaya menggunakan bahan baku lokal dalam proses produksi industri kefarmasiannya. Pemilik CMM Corp itu menyebutkan, diperlukan secara bertahap substitusi bahan baku asli Indonesia.
"Salah satu yang pernah kita lakukan adalah dengan menggunakan ekstrak buah belimbing. Ternyata ekstrak belimbing itu bagus sekali buat skin atau kulit," jelasnya dikutip dari kanal YouTube JagaLilin.
Baca juga: Plepah, Produk Wadah Makanan yang Dukung Pembangunan BerkelanjutanMenurutnya, dengan memanfaatkan hasil bumi sendiri, dapat membuat produk Indonesia bisa bersaing, paling tidak di tingkat ASEAN.
CMM Corp, Industri FarmasiCMM Corp merupakan sebuah industri kecil menengah yang bergerak di sektor kefarmasian. Sudah 10 tahun terakhir ia melakoni pekerjaannya di bidang farmasi, dengan memproduksi produk kosmetik,
personal care, home care, dan lainnya.
Sebelumnya, Wahyudi bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan BUMN. Namun, tekadnya lebih memilih untuk bergelut di bidang industri, sehingga ia memutuskan untuk mundur dari pekerjaan lamanya.
"Berkarya itu satu hal yang baik, kontribusi kita terhadap bangsa juga tidak kecil dan tidak berkurang, saya memutuskan untuk resign karena punya rencana lain.
Baca juga: Pria Ini Putuskan Mundur dan Buka Usaha KulinerMenurutnya, menjadi enterpreuneur atau pengusaha merupakan salah satu pekerjaan ideal baginya. Apalagi, ia memang memiliki passion dan memang menyukai inovasi.
Wahyudi mengatakan, dengan bonus demografi Indonesia yang banyak didominasi usia produktif, membuatnya cukup terbantu dan mendapat banyak dukungan dari ketersediaan angkatan kerja.
"Itu motivasi saya untuk bisa terus mengembangkan usaha ini. Bahkan mungkin visi kita juga sudah sampai 10 tahun ke depan berikutnya," kata dia.
Industri kecil menengah yang dijalankannya itu mampu menyerap cukup banyak tenaga kerja, yakni sekitar 100-200 orang. Sehingga, kata dia, melalui usahanya ini tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tapi juga menyangkut hajat hidup orang banyak.
Ia mengisahkan, memulai usahanya tersebut dari garasi. Seiring perkembangannya, kini Wahyudi telah memiliki pabrik farmasi yang cukup untuk menampung segala kegiatan produksinya.
"Saya menyadari bahwa yang paling penting itu keyakinan. Jadi sumberdaya utama kita sebagai industri kecil tentulah harus merekrut orang-orang terbaik, yang mereka mimpinya kerja di perusahaan besar," jelasnya.
Baca juga: Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Perkuat Jasa Keuangan DigitalDengan merekrut orang-orang terbaik, lanjut Wahyudi, ia meyakini usahanya dapat bersaing dengan industri besar. Perlahan tapi pasti, hal itu juga yang turut berperan dalam perkembangan industrinya.
"Dengan jaringan
reseller, sekarang semuanya pasti berbasis digital platform. Baru-baru ini kita juga menggunakan
influencer, kemudian konten produksi. Jadi pada akhirnya mendukung proses marketing atau pembangunan brand," jelasnya.
(zul)