LANGIT7.ID - Islam menempatkan aktivitas menuntut ilmu sebagai salah satu ajaran paling penting. Terlihat dari sabda-sabda Rasulullah yang memerintahkan umat Islam menuntut ilmu.
Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah: "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim."
Demikian pula pada hadits lain yang menjanjikan surga bagi para penuntut ilmu. Rasulullah bersabda, "Barangsiapa menempuh satu jalan (cara) untuk mendapatkan ilmu, maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR Muslim).
Bahkan, ayat yang pertama kali turun kepada baginda Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk menuntut ilmu. "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan." Begitu bunyi ayat pertama surah Al-Alaq.
Maka tak heran, jika pendidikan umat Islam memiliki karakteristik tersendiri. Karakter ini yang membuat pendidikan Islam paling unggul dibandingkan sistem pendidikan lain.
Pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal youtube Sirah Community Indonesia (SCI), menjabarkan empat karakteristik pendidikan Islam pada masa sahabat, terkhusus era khulafaur rasyidin. Empat karakteristik itu mengalami perkembangan hingga umat Islam berhasil berada di puncak peradaban.
1. Prinsip Kebebasan Pendidikan Pendidikan dalam Islam bersifat Fardhu Ain atau wajib bagi setiap muslim. Artinya semua orang berkewajiban menuntut ilmu sepanjang hidup. Itu prinsip pendidikan dalam Islam. Bebas itu terkait dengan kewajiban. Karena pendidikan adalah fardhu ain, maka secara otomatis ini menjadi nilai yang sangat mendasar pada diri setiap muslim.
“Sehingga, tanpa ada dorongan apapun, setiap orang terdorong untuk belajar. Dalam hal ini, makanya peran negara terhadap pelaksanaan pendidikan terbatas sekali. Intinya tidak ada intervensi negara dalam proses pendidikan,” ucap Asep.
Negara bertindak sebagai institusi kekuasaan dan politik, sementara pendidikan sebagai institusi yang berdiri sendiri. Dalam arti negara tidak mendominasi. Negara berjalan sendiri, demikian juga pendidikan. Maka lebih tepat, pendidikan menjadi budaya umat Islam.
“Negara memotivasi, mendukung, itu benar, tapi bukan berarti mengintervensi. Itu adalah kekhasan dalam sejarah Islam, itu berabad-abad berjalan seperti itu,” ucap Asep.
Pada dasarnya, pemimpin atau penguasa muslim dari sejak Khulafaur Rasyidin tidak pernah khawatir perkembangan institusi pendidikan. Ini karena lembaga pendidikan tidak pernah menjadi ancaman bagi kekuasaan, karena mereka satu nyawa. Kekuasaan politik dan pendidikan dalam peradaban Islam selalu berjalan beriringan.
“Jadi kebebasan pendidikan dari intervensi negara, pemerintah hanya mendorong, melihat celah-celah itu yang diisi, sementara para pendidik terus berjalan mengajar umat,” tutur Asep.
2. Pendidikan Islam Gratis tapi Mahal Dalam Islam prinsip pendidikan adalah gratis. Gratis bukan berarti murah. Itu dua hal berbeda. Pendidikan itu mahal, tapi gratis. Karena pada dasarnya pendidikan fardhu ain bagi setiap umat Islam. Pendidikan menjadi salah satu kewajiban paling tinggi dalam ajaran Islam. Maka setiap muslim melihat bahwa kontribusi terhadap pendidikan merupakan pengorbanan paling mulia.
Hal itu yang membuat seorang guru berdedikasi sepenuhnya terhadap ilmu. Seorang pelajar akan gigih dan bersemangat dalam menuntut ilmu. Lalu orang yang berani mengeluarkan harta sebanyak-banyaknya untuk memfasilitasi pendidikan.
“Orang-orang kaya ketika mengeluarkan uang, dia melihat saya untuk bobot paling tinggi, itu tentu terkait dengan kewajiban paling tinggi, maka selain untuk jihad itu untuk mencari ilmu. Kan jihad dan menuntut ilmu bergandengan. Maka kemudian orang kaya berlomba-lomba memfasilitasi, dari situ tercipta pendidikan yang free, meskipun mahal,” ucap Asep.
Intinya, semua bisa mengakses pendidikan secara gratis, tidak ada hambatan sedikit apapun. Guru tak perlu memikirkan materi saat mengajar, karena ada orang kaya yang mendukung. Negara akan membantu jika ada celah dalam pendidikan itu. Sehingga pendidikan Islam terus berjalan tanpa henti.
Pada masa Umar bin Khattab, guru anak-anak saja digaji 15 dirham atau 1,5 dinar per bulan. Itu setara dengan Rp6 juta. Tapi ingat, setiap penduduk yang tinggal di wilayah umat Islam itu mendapat tunjangan. Tunjangan paling kecil sekitar 50 dinar per tahun atau sekitar Rp200 juta rupiah.
“Jadi penghasilan guru pada saat itu, tinggi sekali. Ini prinsip gratis,” kata Asep.
3. Ilmu Selalu Inheren dengan Amal Prinsip ini yang sangat kuat di tubuh umat Islam. Dari situ, antara ilmu dan permasalahan manusia di lapangan selalu terhubung. Ilmu dan amal itu bukan sekadar ilmu soal shalat lalu mengamalkan shalat. Tapi perkembangan ilmu sangat luas luas.
Dalam hal kurikulum pada masa sahabat ada kurikulum Al-Qur’an, hadits, fikih, sejarah, bahasa, dan kedokteran. Kurikulum itu selain terkait dengan amal apapun itu. Dari situ, ilmu Islam selalu bersentuhan dengan permasalahan yang konkret. Misalnya kedokteran, pada masa itu perang banyak yang luka.
“Artinya, ada eksperimen atau empiris dalam bidang keilmuan sudah dilaksanakan pada zaman Khulafaur Rasyidin. Itu sudah menjadi prinsip Islam. Tidak ada ilmu semata-mata hanya untuk ilmu, atau pengetahuan hanya sekadar tahu. Tapi bagaimana pengetahuan itu bermanfaat, artinya ada bukti konkret. Itu yang menunjang perkembangan ilmu pengetahuan,” tutur Asep.
4. Pendidikan Sepanjang Hayat Salah satu karakteristik pendidikan Islam adalah sepanjang hayat. Rasulullah SAW bersabda, “Tuntutlah ilmu dari buaian (bayi) hingga liang lahat.”
Hal ini berkaitan dengan poin pertama, bahwa pendidikan itu wajib bagi setiap umat Islam. Itu menjadi motivasi, sebab perjalanan dalam menuntut ilmu merupakan tabungan akhirat.
Metode dan Cara Belajar pada Masa Sahabat Setidaknya ada empat metode belajar para sahabat. Pertama,
As-Sama yakni peserta didik duduk di hadapan guru mendengarkan penjelasan. Saat ini bisa dilihat dalam metode ceramah. Kedua,
Ar-Rad yakni murid membacakan di hadapan guru dan murid lain mendengar. Jika ada kesalahan, guru langsung mengoreksi.
Ketiga,
muzakarah yakni mengulang hafalan. Metode ini selalu diterapkan para sahabat. Biasanya dalam sebuah pertemuan, para sahabat duduk saling muzakara pelajaran sebelum aktivitas dimulai. Keempat,
as-Sual yakni bertanya dan diskusi.
Menuntut ilmu menjadi aktivitas yang sangat menyita perhatian. Ada kisah Abu Musa Al-Asy’ari menemui khalifah Umar bin Khattab setelah isya.
Umar berkata, “ada apa?”
“Aku ingin berbincang,” kata Abu MusaMusa
“Tidak ada waktu lain?” jawab Umar.
“Aku ingin diskusi denganmu terkait masalah tentang agama kita,” Abu Musa menimpali.
Maka Umar pun duduk, lalu keduanya terlibat diskusi sampai larut malam. Abu Musa berkata, “Sudah dulu ya Amirul Mukminin, waktunya shalat (shalat tahajud).”
Hal menarik dari jawaban Umar, “kita ini lagi shalat.” Bukan berarti diskusi itu bagian dari shalat, tapi bobot dari diskusi memiliki nilai tinggi seperti tahajjud.
Kisah itu mengajarkan bahwa umat Islam sangat antusias dalam menuntut ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan itu sudah menjadi budaya dimana ilmu sangat diutamakan.
(jqf)