LANGIT7.ID, Jakarta - Takmir masjid adalah orang-orang pilihan yang bertugas mewujudkan kemakmuran masjid. Secara umum, takmir masjid dapat juga diartikan sebagai pengurus masjid.
Takmir masjid bertugas menjaga dan merawat masjid agar masjid befungsi maksimal sebagai tempat ibadah dan layanan sosia. Pengurus masjid haruslah seorang muslim yang berakhlak baik, berwawasan luas, baik menyangkut masalah keislaman maupun umum serta memiliki kemampuan manajerial.
Dikutip Instagram Indonesian Islamic Youth Economic Forum (@isyefupdates), takmir seyogianya memahami bahwa masjid adalah dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Takmir perlu menghindari beberapa hal berikut ini untuk menjamin adanya pengelolaan dan pemberdayaan masjid yang ideal.
1. Tidak All OutMasjid dikelola dengan sisa waktu. Artinya mengurus masjid hanya dijadikan pekerjaan sampingan atau “kalau sempat”. Pola pikir yang demikian menjadikan urusan masjid berada pada prioritas kesekian yang mengakibatkan kemakmuran masjid sulit tercapai.
Baca Juga: Berbasis Masjid, DD Tekno-LinkAja Syariah Bantu Korban SemeruSetiap acara, kegiatan serta program masjid haruslah dikembalikan pada kenyamanan jamaah serta kesejahteraan jamaah. Manajemen masjid yang modern berlandaksan nilai-nilai masjid pada zaman Rasulullah Saw di mana masjid menjadi jantung pokok kegiatan masyarakat serta bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.
2. Tidak Mendata JamaahPendataan jamaah sangat diperlukan untuk memantau keadaan ruhani dan jasmani para jamaah. Misalnya seperti yang dilakukan Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Pengurus menginisiasi Sensus Masjid dan menghasilkan data base dan peta dakwah komprehensif.
Data base dan peta dakwah Jogokariyan tak cuma mencakup nama KK dan warga, pendapatan, pendidikan, dan lainnya, melainkan sampai pada siapa saja yang shalat dan yang belum, yang berjamaah di Masjid dan yang tidak, yang sudah berqurban dan berzakat di Baitul Maal Masjid Jogokariyan, yang aktif mengikuti kegiatan Masjid atau belum, yang berkemampuan di bidang apa dan bekerja di mana, dan seterusnya. Detail sekali.
3. Hanya Membangun Fisik, Bukan ManusiaPengurus masjid seringkali fokus pada peningkatan fisik masjid, tapi luput dengan pembangunan jamaah. Padahal, fungsi masjid selain menyelenggarakan kegiatan ibadah juga melakukan pelayanan sosial.
Baca Juga:Menag Harap Masjid Ponpes Modern Sahid Jadi Pusat PeradabanPada zaman Rasulullah, masjid merupakan basis spiritual dan sosial masyarakat. Secara fungsi, masjid menjalankan perannya sebagai sentra pelatihan keterampilan kerja, lembaga pendidikan, balai pertemuan warga, balai kesenian, dan sebagainya.
4. Hanya Mengumupulkan Manusia, Tidak Menggerakkan JamaahSalah satu tanda makmurnya sebuah masjid adalah jamaah yang membludak. Namun, kuantitas jamaah bukan satu-satunya indikator keberhasilan sebuah masjid. Dakwah masjid dapat dikatakan berhasil apabila berhasil menggerakkan dan memberdayakan jamaahnya.
Baca Juga: Arsitektur Indah dan Megah, Upaya Makmurkan Masjid di Akhir ZamanJamaah merupakan aset penting bagi sebuah masjid dalam mnyebarkan dakwah Islam. Jamaah juga memiliki peran penting untuk pemberdayaan ekonomi dan pendidikan. Masjid yang makmur adalah masjid yang dapat tumbuh menjadi sentral bagi umat Islam.
5. Tumpang Tindih Pengelolaan ZiswafPendanaan merupakan fondasi utama berjalannya program dakwah masjid. Karenanya, pengelolaan dana masjid juga harus dilakukan secara profesional. Takmir masjid didorong untuk mampu mengelola dan menyalurkan zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf secara tepat.
Takmir harus mampu mengelola keuangan masjid dan membagi pos Ziswaf sesuai peruntukannya. Misalnya alokasi infaq untuk perbaikan fasilitas masjid, untuk menggaji takmir, muadzin, khatib, menjalankan program pemberdayaan, dan sebagainya.
Baca Juga: Jelang Indonesia vs Singapura, Statistik Skuad Garuda Kurang Moncer(zhd)