LANGIT7.ID, Makassar -
Coto Rampa, sajian kuliner soto khas Sulawesi Selatan menggunakan rempah pilihan untuk meningkatkan imunitas bagi para penyantapnya. Coto Rampa, salah satu menu kuliner paling diminati banyak orang di bumi pahlawan Sultan Hasanuddin itu.
Awal perjalanan bisnis Coto Rampa dimulai dengan cerita pahit. Baru berdiri seumur jagung harus langsung berhadapan dengan persoalan besar. Coto Rampa masih dalam proses memperkenalkan diri, harus berhadapan dengan pandemi Covid-19.
Imam Zulkifli, pemilik Coto Rampa mengatakan, usaha kulinernya sepi dan mengalami penurunan omzet yang cukup drastis akibat imbas Covid-19. Zulkifli, mantan jurnalis di salah satu media Sulawesi Selatan mengisahkan dirinya kala itu hanya termenung menunggu pelanggan datang. Terlebih, selain karena pandemi Covid-19, jalan di depan ruko Coto Rampa juga sedang mengalami perbaikan.
“Omzet langsung anjlok jauh, lebih dari setengah. Hari-hari kami hanya termenung menunggu pembeli, karena orang masih takut keluar rumah. Kemudian juga ada proyek pelebaran jalan di depan warung kami, itu ibarat sudah jatuh tertimpa tangga,” kata dia dikanal Youtube Kisah Tanpa Batas.
Situasi sulit itu diakui membuatnya putus asa. Ia dihadapkan dengan dua pilihan sulit, antara menambah modal usaha atau membuka usaha yang baru, karena melihat usaha kulinernya kala itu tidak berkembang dengan baik.
Namun, melalui pertimbangan yang matang dan sudah mundur dari pekerjaan lama, membuatnya memutuskan untuk melanjutkan usaha. Membuat langkah dan strategi baru, memberikan sentuhan kebaruan dalam usaha kulinernya,. Pindah lokasi, mengganti nama, dan melakukan branding yang baru.
Usaha kuliner Zulkifli awalnya diberi nama Makan Coto pada 2019 lalu, mengalami pembaruan dengan nama Coto Rampa pada 2020. Perubahan nama itu memberikan dampak positif. Penjualan meningkat.
Hampir dua tahun urusan pandemi Covid-19 memang dirasa cukup memberatkan banyak pelaku usaha, termasuk bisnis Coto Rampa. Tapi bagi Zulkifli, tetap mendukung kebijakan pemerintah untuk mengatasi pandemi Covid-19 agar cepat selesai. Ia lebih memilih mencari strategi baru daripada mengeluh.
Zulkifli melakukan strategi pemasaran baru dengan merambah dunia online, sehingga penyesuaian terhadap situasi yang ada, membuat usaha Coto Rampa tetap bisa bertahan.
![Dulu Jurnalis, Sekarang Sukses Buka Usaha Kuliner Coto]()
Zulkifli berharap usaha Coto Rampa bisa segera menjadi waralaba, mengingat banyak tawaran kerja sama dari berbagai daerah, seperti Makassar, Palopo, dan Kendari. Saat ini ia mengaku sedang mengurus hal itu agar bisa direalisasikan.
“Dalam usaha modal buat saya adalah nomor sekian, tapi yang penting adalah keberanian dan diikuti dengan perhitungan matang. Saya kira kita bisa bersaing, terutama dengan menonjolkan sebuah karakter dalam usaha yang dijalankan,” imbuhnya.
Terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, usahanya ini kian diminati oleh masyarakat di sana, karena penduduk asli Maros memiliki selera makan yang relatif sama, yaitu hidangan coto. Sajian coto dengan rempah pilihan yang menjadi andalannya selain untuk bisa bersaing di pasaran, juga untuk memberikan manfaat bagi penikmat soto.
Sebab, kata dia, selama ini coto dianggap makanan yang akan menyebabkan masalah kesehatan seperti kolesterol, darah tinggi, dan gangguan kesehatan lainnya.
“Bukan Coto sembarangan, karena kami punya ciri khas. Rempah kami berbeda, kami punya kekentalan dan warna khas dibandingkan coto kebanyakan,” kata dia.
Mementingkan permasalahan itu, Zulkifli mulai mempertimbangkan penggunaan rempah yang di dalam sajian Coto Rampa agar tetap bisa dinikmati dan tidak menyebabkan masalah kesehatan terhadap penikmatnya.
“Setiap mangkuk Coto Rampa itu ada serai, kunyit, pala, dan jintan. Di situs Kementerian Kesehatan itu adalah rempah terbaik untuk meningkatkan imunitas,” tuturnya.
Sehingga menurut Zulkifli, dengan menyantap hidangan Coto Rampah juga termasuk upaya untuk meningkatkan imun sekaligus sebagai bentuk mencegah penyakit Covid-19. Ia bersyukur hingga kini Coto Rampa bisa diminati banyak orang.
Zulkifli sebelumnya bekerja di sebuah media cetak, sebagai editor. Selam 13 tahun profesi wartawan ia jalani. Ia merasa membutuhkan hal baru untuk meningkatkan sisi lain diluar kehidupannya di bidang jurnalistik. Ia beralih menjadi pengusaha
“Sejak 2017 saya putuskan keluar, walaupun sebenarnya di sana dari segi pendapatan dan fasilitas itu lengkap, bahkan bisa dikatakan saya hidup nyaman. Namun, tantangan tetap harus saya ambil,” ujarnya.
Dari pengalamannya di bidang Jurnalistik, Zulkifli paham betul bagaimana cara mencuri hati pelanggannya. Bedanya, kata dia, saat menjadi jurnalis ia harus memberika sebuah karya tulisan yang bisa dibaca oleh banyak orang, sementara di usahanya Coto Rampa ini ia perlu menyiapkan sajian makanan yang bisa melekat di lidah penikmatnya.
“Coto Rampa ini usaha saya bersama sepupu. Dia punya pengalaman di dunia coto ini selama lebih dari 20 tahun. Kami kebetulan lelah di tempat kerja, kemudian berpikir untuk membuka warung sendiri. Jadi saya fokus di branding sementara dia di dapur,” kata dia.
(zul)