LANGIT7.ID-Bagi publik Inggris, nama Lauren Booth sempat menjadi sorotan tajam saat ia memutuskan memeluk Islam pada tahun 2010. Jurnalis kawakan sekaligus adik ipar dari mantan Perdana Menteri Tony Blair ini memulai perjalanan rohaninya setelah melakukan kunjungan ke makam suci di Qom, Iran. Namun, ujian nyata dari komitmen religius barunya itu hadir saat ia harus menjalani ibadah puasa Ramadhan untuk pertama kalinya dalam sebuah lingkungan yang sangat berbeda dengan latar belakang kehidupannya terdahulu.
Pengalaman puasa perdana Lauren Booth bukanlah sekadar narasi tentang menahan lapar dan haus di tengah hiruk-pikuk kota London. Dalam berbagai kesempatan, ia menceritakan bagaimana tubuhnya harus beradaptasi dengan jadwal sahur yang sangat dini dan hari-hari panjang tanpa asupan energi. Namun, bagi Booth, keletihan fisik itu tertutupi oleh sebuah fenomena sosiologis dan spiritual yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: rasa kepemilikan dalam sebuah komunitas.
Satu hal yang paling membekas dalam memori Booth adalah momen berbuka puasa. Ia mengisahkan kekagumannya pada kedamaian yang menyelimuti suasana saat orang-orang berkumpul untuk membatalkan puasa secara kolektif. Ia merasa bahwa dalam kesederhanaan sebutir kurma dan segelas air, terdapat kekuatan ikatan kemanusiaan yang sangat besar. Baginya, Ramadhan pertama adalah saat di mana ego pribadinya luruh, digantikan oleh rasa empati yang mendalam terhadap penderitaan orang-orang yang kurang beruntung di seluruh dunia.
Dalam catatan perjalanannya, Booth mengungkapkan bahwa puasa adalah bentuk solidaritas global. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai individu yang terpisah, melainkan bagian dari tubuh umat yang merasakan denyut lapar yang sama. Ketenangan yang ia temukan di masjid-masjid lokal saat menunaikan shalat tarawih menjadi antitesis dari kehidupan glamor dan penuh tekanan yang pernah ia jalani sebagai jurnalis hiburan dan politik.
Sumber narasi mengenai perjalanan spiritual dan pengalaman puasa perdana Lauren Booth ini disadur dari buku otobiografinya yang berjudul Finding Peace in the Holy Land yang diterbitkan pada tahun 2018. Selain itu, kisahnya juga banyak didokumentasikan dalam artikel refleksi pribadinya di harian The Guardian dan berbagai wawancara mendalam dengan Al Jazeera mengenai transformasinya menjadi seorang muslimah di dunia Barat.
Melalui puasa pertamanya, Booth menemukan bahwa Islam bukan sekadar kumpulan aturan, melainkan sebuah gaya hidup yang menekankan pada syukur dan pengabdian. Pengalaman tersebut menjadi fondasi kuat bagi aktivitas kemanusiaan yang ia tekuni setelahnya. Ia berhasil membuktikan bahwa kedamaian sejati sering kali ditemukan dalam tindakan menahan diri dan berbagi, sebuah pelajaran berharga yang ia petik dari bulan suci Ramadhan.
(mif)