LANGIT7.ID - , Jakarta - Forbes melaporkan bahwa di negara maju, rata-rata perempuan pertama kali hamil saat berusia 31 tahun. Menjadi ibu di usia berapapun sebetulnya bukanlah masalah. Namun, bila dilihat dari kacamata medis, khususnya untuk masalah kesubutan wanita, menjadi sangat penting karen ada perubahan yang dialami seiring pertambahan usia.
Spesialis Obstetri dan Ginekologi Medcare Medical Center Rashidiya Dr. Mahnaz Fazal, mengatakan perempuan yang hamil di usia matang membutuhkan kehatian-hatian saat menjalaninya, seperti dilansir dari Gulf News.
“Kehamilan di kedua ujung spektrum, yaitu kehamilan di bawah umur dan kehamilan di usia yang lebih tua, membutuhkan pengawasan antenatal yang lebih dibandingkan dengan kelompok usia subur yang diharapkan," kata Fazal.
Baca juga: Menunda Kehamilan dan Menjaga Kesehatan Ibu Hamil Selama PandemiIa menambahkan, kehamilan di usia matang adalah yang terjadi setelah usia 35 tahun. Namun, setelah 45 tahun disebut sebagai VAMA atau kehamilan yang di usia sangat lanjut.
"Risiko untuk ibu dan bayi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Namun, jika konseling tepat dilakukan sebelum konsepsi dan kewaspadaan antenatal, persalinan dan periode pasca-melahirkan tercakup, maka ada harapan bagi bayi dan ibu untuk hasil yang sehat dan normal," tambah Fazal.
Tahukah Anda bahwa kesuburan pria dan wanita menurun seiring bertambahnya usia? Bagi wanita, penurunan dimulai bahkan sebelum ia melahirkan.
Konsultan Senior Dr Shiva Harikirshnan, Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Wanita dan Anak Medcare, menjelaskan, “Usia wanita adalah faktor terpenting yang memengaruhi kesuburan. Usia puncak kesuburan adalah antara 18 dan 28 tahun. Pada usia 30, kesuburan mulai menurun pada wanita. Penurunan menjadi lebih cepat setelah 35 tahun. Wanita memiliki jumlah sel telur yang tetap (biasanya sekitar 2-3 juta) dan mulai menurun bahkan sebelum kelahiran dan menurun dengan kecepatan 10 persen setiap tahun.”
Risiko hamil di usia matangFazal menambahkan, ada beberapa risiko kehamilan yang harus dihadapi di usia ini.
“Seiring bertambahnya usia, risiko anomali kromosom meningkat,” kata Fazal. “Misalnya, Trisomi 21 yang biasa dikenal dengan Down Syndrome memiliki risiko 1:1350 pada wanita berusia 25 tahun, tetapi meningkat drastis menjadi 1:350 pada usia 35 tahun, 1:200 pada usia 40 tahun, dan 1:35 pada usia 45 tahun," jelasnya.
"Selain itu juga ada kemungkinan keguguran, kelahiran prematur, diabetes gestasional, hipertensi terkait kehamilan, bayi dengan pembatasan pertumbuhan intrauterin (IUGR), lahir mati, dan lain-lain, semuanya meningkat berlipat ganda.” Kata Fazal.
Untuk itu, saat mengalami kehamilan terlambat yaitu diusia 35 tahun ke atas, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter. Berikut beberapa poin yang perlu didiskusikan.
1. Risiko komplikasi akan meningkat seiring bertambahnya usia ibu hamil.
2. Asam folat 400ug atau 5mg tergantung pada faktor risiko. Dalam beberapa kasus, seperti jika ibu menderita anemia akan membutuhkan dosis asam folat yang lebih besar untuk membantu kehamilan. Maka dari itu penting dikonsultasikan dengan dokter langganan.
3. Jika ada riwayat kesehatan sebelumnya seperti diabetes, maka akan memerlukan pemantauan yang lebih waspada dan mungkin lebih banyak pengobatan.
4. Tinjauan kondisi medis ibu hamil yang sedang dalam perawatan, status masalah harus diuji ulang untuk mendapatkan informasi terbaru.
Kelebihan hamil di usia matangMeski begitu, ada beberapa kelebihan juga hamil di usia matang. Sebuag studi yang diterbitkan dalam European Journal of Developmental Psychology menemukan bahwa anak-anak dengan ibu yang lebih tua, terlepas dari latar belakang pendidikan, dan keuangan orang tua, anak yang dilahirkan akan memiliki keterampilan bahasa yang lebih baik dan memiliki lebih sedikit masalah perilaku, sosial, dan emosional.
Baca juga: Vaksinasi pada Ibu Hamil Dapat Antisipasi Varian Baru Seperti OmicronSementara dalam penelitian lain, yang dilakukan oleh Institut Denmark Aarhus University pada tahun 2017 dan dikutip oleh pusat penelitian Science Daily, menemukan bahwa ibu yang lebih tua cenderung tidak menghukum dan memarahi anak-anak mereka saat membesarkan mereka, dan bahwa anak-anak memiliki lebih sedikit kesulitan perilaku, sosial dan emosional.
Profesor Dion Sommer dari Aarhus BSS, yang merupakan salah satu peneliti, mengatakan, "Kami tahu bahwa orang menjadi lebih fleksibel secara mental seiring bertambahnya usia, lebih toleran terhadap orang lain dan secara fisik mendisiplinkan anak-anak mereka. Gaya pengasuhan seperti ini dapat berkontribusi pada lingkungan psikososial yang positif yang mempengaruhi pengasuhan anak.”
Usia mungkin terbukti menjadi kendala ketika merencanakan menjadi orang tua. Tetapi dengan penelitian, perencanaan, kewaspadaan terus-menerus, dan beberapa konseling, perjalanan itu bisa berhasil dan bahagia.
(est)