Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Cara Rasul Mendidik Generasi Kokoh, Selalu Relevan Hingga Kini

Muhajirin Senin, 10 Januari 2022 - 09:25 WIB
Cara Rasul Mendidik Generasi Kokoh, Selalu Relevan Hingga Kini
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar Parenting Nabawiyah, Ustadz Budi Ashari, menguraikan salah satu potret Rasulullah SAW dalam mendidik generasi yang kokoh. Pendidikan karakter Baginda Nabi itu mesti menjadi contoh dalam mendidik anak, agar mereka tumbuh sebagai generasi rabbani.

Suatu ketika, dalam riwayat Imam At-Tirmidzi, disebutkan, Rasulullah SAW pernah membonceng Abdullah bin Abbas yang kala itu masih berumur beliau. Dia ikut bersama nabi saat berumur 8 tahun, dan berpisah saat 12 tahun karena Rasulullah wafat.

Ibnu Abbas lalu berada di bawah bimbingan Abu Bakar Ash-Shiddiq selama 3 tahun. Itu berarti, beliau mendapatkan pendidikan selama 7 tahun. Namun hasilnya luar biasa. Saat berusia 15 tahun, dia sudah menjadi penasihat kekhalifahan pada masa Umar bin Khattab.

Ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil dalam riwayat tersebut. Pelajaran itu bisa dijadikan rujukan dalam mendidik anak agar menjadi generasi kokoh dan kuat menjaga keimanan.

Mulai dari Rasulullah membonceng Ibnu Abbas yang masih belia. Banyak ayah saat ini tiap hari mengantar-jemput anak ke sekolah. Namun, ia perannya itu sekadar menjadi tukang ojek untuk anak. Padahal itu momen terbaik untuk menanamkan akidah kuat kepada anak.

"Saat naik kendaraan berdua, saatnya ngobrol berdua. Jangan jadi ayah bisu," kata Ustadz Budi Ashari, dikutip kanal YouTube Wahyu Ramadhan, Senin (10/1/2022).

Nasihat Rasulullah kepada Ibnu Abbas pun menunjukkan kualitas dan cara mendidik agar anak menjadi kokoh. Rasulullah bersabda:

"Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu; jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya bersamamu; jika kamu mempunyai permintaan, mintalah kepada Allah; jika kamu membutuhkan pertolongan, minta tolonglah kepada Allah.

Ketahuilah, seandainya seluruh manusia bersatu untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukan kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu; dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untuknya. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering."

Dalam hadits ini, Rasulullah tidak memerintahkan untuk menjaga agama Allah. Ini mengandung makna yang sangat luar biasa, karena menandakan Ibnu Abbas sudah mengetahui konsep tauhid dalam Islam. Penggunaan diksi tersebut bisa dipahami dengan baik olehnya.

"Allah tidak perlu dijaga, Allah yang jaga kita kok. Berarti yang dimaksud adalah ajaran Allah, tetapi bahasanya jauh lebih kokoh kalau menggunakan bahasa itu. Itu dari sisi bahasa saja luar biasa. Dari sisi isi, menjaga perintah Allah Ta'ala. Anak seumur itu sudah diajari tentang pola pahala, balasan terhadap sesuatu," kata Budi Ashari.

Anak harus diajari tentang balasan akhirat. Tidak salah memberikan hadiah kepada saat melakukan kebaikan, tapi akidah anak harus dikokohkan terlebih dahulu. Dengan begitu, anak akan paham bahwa semua balasan perbuatan manusia ada di akhirat kelak.

Poin kedua, Rasulullah juga mengajari Ibnu Abbas bahwa jika hendak meminta apa saja maka mintalah pada Allah. Biasakan anak meminta kepada Allah tiap kali memiliki kebutuhan. Misal, anak minta dibelikan tas sekolah.

Dari poin ini, seorang ayah harus memilih diksi yang benar agar anak mengarahkan permintaan kepada Allah. Misal ayah menjawab permintaan anak dengan kata-kata, "Berdoalah kepada Allah, semoga Dia memberikan rezeki agar ayah bisa membelikan tas baru."

Itu kalimat sederhana tapi memiliki pengaruh kuat terhadap akidah seorang anak. Demikian pula dengan konsep pertolongan. Anak perlu diajari bahwa Allah yang bisa menjadi penolong hamba-hamba-Nya.

"Jangan anda jadi tuhan. Anak minta sesuatu, langsung dijawab 'ayo jalan'. Mengajari anak ini masalah pendidikan, masalah pertumbuhan karakter anak kita. Tidak ada masalah besar kalau Allah menghendaki. Jadi usahakan, pikiran dan hati anak selalu terpaut dengan Allah. Caranya sering berdialog tentang Allah," ucapnya.

Nasihat selanjutnya berkaitan dengan takdir. Jika semua manusia bersatu ingin memberikan manfaat atau mencelakai, itu tidak akan terjadi kecuali sudah ditetapkan oleh Allah.

Dari sini, anak akan paham, semua yang dimiliki berasal dari Allah. Manusia tidak bisa berbuat apapun jika tidak diizinkan oleh Allah. "Anak tidak bersandar kepada makhluk, karena nabi telah bersabda di atas. Lembaran telah kering. Sudah menjadi keputusan Allah, tidak mungkin diubah lagi," ucap alumnus Universitas Islam Madinah ini.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)