Melalui media sosial, Trump menuliskan, Tidaklah tepat secara politis untuk menggunakan istilah, Pergantian Rezim, tetapi jika Rezim Iran saat ini tidak dapat MEMBUAT IRAN HEBAT LAGI, mengapa tidak ada pergantian Rezim??? MIGA!!! katanya di media sosial.
Ketegangan Iran-AS makin memanas usai serangan udara ke situs nuklir Fordow. Iran menyebut Trump sebagai penjudi dan berjanji akan mengakhiri perang dengan balasan besar. Dunia waspada potensi penutupan Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak.
Trump akan menentukan dalam dua pekan apakah Amerika Serikat akan ikut campur konflik Iran-Israel. Gedung Putih sebut diplomasi masih terbuka, tapi kekuatan militer bisa jadi pilihan jika Iran tak hentikan program nuklir.
Donald Trump ungkap lokasi persembunyian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tapi menahan serangan untuk sekarang. Ketegangan Iran-Israel makin panas, AS siapkan langkah besar selanjutnya.
Pemerintahan Donald Trump akan menargetkan setidaknya 3.000 penangkapan per hari terhadap para imigran, naik dari sekira 650 per hari, selama lima bulan pertama masa jabatan kedua Trump.
Para demonstran memadati jalan, taman, dan plaza di seluruh wilayah Amerika Serikat (AS) pada hari Sabtu (14/6), untuk memprotes Presiden Donald Trump. Mereka memprotes segala bentuk kebijakan Trump, dan bahkan meminta ia pergi.
Protes minggu ini fokus pada demonstrasi No Kings atau diterjemahkan Tidak Ada Raja. Menurut penyelenggara, aksi ini dijadwalkan akan dilakukan di hampir 2.000 lokasi di seluruh negeri, dari blok kota hingga kota kecil, tangga gedung pengadilan hingga taman komunitas.
Para pejabat di berbagai kota di Amerika Serikat bersiap untuk demonstrasi besar-besaran terhadap Presiden Donald Trump selama akhir pekan ini. Aksi ini merupakan reaksi keras atas penggerebekan penegakan hukum imigrasi federal yang dicanangkan Trump.
Ada fakta menarik ketika para pengunjuk rasa turun ke jalan di Los Angeles untuk menentang kebijakan pejabat Imigrasi dan Bea Cukai yaitu, banyak dari mereka memegang bendera Meksiko dalam aksinya. Mengapa?
Tiga jurnalis Australia menjadi korban penegakan hukum Amerika Serikat (AS) saat meliput aksi protes terhadap penggerebekan imigrasi di Los Angeles, yang berujung rusuh. Ketiganya adalah Reporter Australia untuk ABC, New York Times, dan Nine.
Unjuk rasa di Amerika Serikat (AS) kini semakin melebar ke berbagai wilayah. Aksi ini muncul seiring meningkatnya kemarahan masyarakat atas tindakan keras Trump terhadap penggerebekan imigrasi dan pengerahan pasukan.