Kisah ini disinggung dalam buku Sir Fairfax Cartwright, Mystic Rose from Garden of the King, terbit di Inggris tahun 1899.Versi ini berasal dari Awad Afifi, seorang Tunisia, yang wafat tahun 1870.
Dikisahkan bahwa Husein, cucu Muhammad, menyampaikan cerita ini kepada Khajagan (Para Guru) yang pada abad ke-14 mengubah nama rnereka menjadi Thoriqoh Naqshibandiah.
Pada suatu ketika Khidhir, Guru Musa, memberi peringatan kepada manusia. Pada hari tertentu nanti, katanya, semua air di bumi yang tidak disimpan secara khusus, akan lenyap.
Hanya ada sedikit kisah Sufi, menurut Halqavi (pengarang kisah ini) yang bisa dibaca oleh siapa pun saat kapan pun dan tetap mempengaruhi 'kesadaran batin' secara konstruktif.
Para Darwis mempergunakannya untuk menekankan bahwa, walaupun anugerah bisa 'direnggut' oleh orang cerdik, kemampuan ('emas') yang diambil secara benar dari seorang guru seperti Si Pemurah.
Cerita ini menggambarkan asal-usul pelik dari ajaran-ajaran Sufi, yang datang dari suatu tempat, tetapi tampaknya datang dari tempat lain, sebab pikiran manusia tak dapat merasakan 'Sumber yang sejati'.
Petualangan-petualangan orang-orang ini nama mereka secara berturut-turut berarti 'satu', 'dua', dan 'tiga'. terkadang dianggap sebagai sindiran terhadap agama yang lazim.
Kalangan lain percaya bahwa kisah ini mengacu pada empat teknik yang dimiliki oleh tarekat-tarekat Darwis Timur utama dan gabungan mereka di bawah Naqshbandi di India dan Khorasan.
Nasihat 'lapis pertama' kisah ini adalah bahwa ketika manusia diberi sesuatu yang bernilai besar bagi masa depannya, ia tidak mempergunakannya dengan cukup baik.
Sebagai akibat kemunculan Faruqi dan penerimaannya oleh semua kepala kaum pada masanya, Kaum Naqshbandi kini meresmikan pengikut-pengikutnya menjadi empat aliran utama dalam Sufisme: Chishti, Qadiri, Suhrawardi, dan Naqshbandi.
Shaikh-Pir Shattari dipercaya mampu melakukan hubungan telepati dengan para guru 'masa lampau, masa kini, dan masa depan', dan memberi mereka cara-cara untuk menerangkan pesan.
'Dimensi tersembunyi' dalam kehidupan, lewat pengetahuan yang seorang Guru Sufi anjurkan agar dikembangkan oleh para pengikutnya alih-alih memuaskan keinginan-keinginan sering kali dengan mengekang mereka digambarkan dengan jelas dalam kisah ini.