Kisah ini dituturkan lagi dan lagi pada Abad Pertengahan sebagai sebuah cerita Kristiani oleh para biarawan yang mempergunakan Gesta Romanorum sebagai sumber inspirasi untuk meningkatkan 'ketekunan'.
Kisah ini, yang dikaitkan juga pada banyak syeh Sufi lainnya, menggambarkan konsep tentang jalinan antara keinginan manusia dengan makhluk lain. Khidir merupakan penghubung kedua 'dunia' ini
Dalam Musyawarah Burung (Parliament of Birds), Attar membicarakan kesalahpahaman emosi subjektif yang menyebabkan orang percaya bahwa pengalaman tertentu merupakan hadiah istimewa.
Kisah ini diceritakan oleh Jalaludin Rumi dan tercatat juga dalam Kelakuan Para Ahli (Acts of Adepts), karya Aflaki. Kisah tentang kaum Mevlevi dan kebiasaan kelakuan mereka ditulis pada abad keempat belas.
Pengarang kisah ini, kisah yang sangat disukai di Timur Tengah, adalah Sufi Agung Fudail bin Ayad, bekas perampok yang meninggal pada awal abad kesembilan.
Peniru dan sistem yang dirancang sesuai dengan pemikiran konvensional, di Timur maupun di Barat, umumnya memilih menekankan pada 'sistem' dan 'program', alih-alih pada totalitas pengalaman yang diterapkan dalam madrasah Sufi.
Kisah ini dianggap mengandung 'baraka' berkah bagi penutur maupun pendengarnya, dan oleh karena itu digemari di negeri-negeri Balkan dan Timur Dekat. Banyak kisah-kisah Sufi yang tersamar sebagai cerita dongeng.
Terdapat dalam suatu naskah darwis yang disebut Kitab-i-Amu Daria (Kitab Sungai Oxus), sebuah sumber yang memasukkan kisah ini sebagai salah satu kisah ajaran Uwais Al-Qarni, pendiri Kaum Darwis Uwaisi ('Menyepi').
Mereka yang percaya bahwa kemajuan spiritual semata-mata tergantung pada penguasaan hal-hal pahala dan siksa, sering kali dikejutkan oleh kisah Sufi tentang Yesus ini.
Kisah ini, yang berasal dari Sufi Abdul Qadir Al Jilani (1077-1166), juga dianggap terilhami dari kehidupan Hasid Rabbi Elimelech (yang meninggal pada tahun 1809).
Mereka yang belum luas pengetahuannya sering beranggapan bahwa sistem metafisika menolak nilai benda 'duniawi' atau, sebaliknya, menjanjikan keuntungan kebendaan yang melimpah.
Ada seorang bernama Saifulmuluk yang mempergunakan sebagian hidupnya untuk mencari kebenaran. Dibacanya semua buku tentang kebijaksanaan kuno yang bisa didapatnya.
Tak seperti kebanyakan alegori Sufi, kisah ini tak berbentuk sajak. Selain itu, tak seperti kebanyakan pula, kecuali cerita tentang Mulla Nasrudin, kisah ini kadang-kadang dimainkan di Chaikhanas (kedai teh) sebagai drama.