Guru Haidar Gul mengatakan, Ada batasan di mana tidak baik bagi manusia untuk menyembunyikan kebenaran hanya agar tidak menyinggung perasaan mereka yang pikirannya tertutup.
Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting untuk 'membuat peka' pikiran murid, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tak bisa diraih dengan cara-cara biasa.
Kisah ini bisa ditafsirkan secara intuitif sesuai dengan tahap kesadaran yang dicapai oleh si murid. Yang jelas, kisah ini mengandung ajaran moral, beberapa di antaranya menekankan nilai-nilai paling mendasar dari peradaban modern
Raja yang disinggung dalam kisah ini diduga adalah mendiang Nadir Shah dari Afghanistan, yang diabdi oleh Sufi Abdul-Hamid Khan, dan yang wafat pada tahun 1933.
Benturan antara para Sufi dan pelajar biasanya tampak jelas dalam teori bahwa pemikiran-pemikiran Sufi hanya bisa dipelajari dalam kesesuaian dengan prinsip-prinsip tertentu termasuk di antaranya waktu, tempat, dan orang.
Ada dua jenis penasihat. Jenis yang pertama adalah penasihat yang secara mekanis memberitahu apa yang harus dilakukan menurut prinsip-prinsip baku tertentu.
Kisah ini karya Bayazid dari Bistam, suatu tempat di selatan Laut Kaspia. Ia salah seorang Sufi terbesar zaman lampau, dan wafat pada paruh akhir abad kesembilan.
Kisah ini salah satu yang dianggap menjadi karya Shah Muhammad Gwat Shattari, yang wafat tahun 1563. Ia menulis risalah terkenal, Lima Permata (Five Jewels), yang menggambarkan cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia
Pada zaman dahulu, teh hanya dikenal di Cina. Hanya desas-desus tentang teh terdengar oleh orang bijak dan awam di berbagai negara. Lalu, setiap orang berusaha mencari tahu seperti apa teh itu.