Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dianggap mempunyai kemampuan 'penglihatan' sejak kanak-kanak, belajar di Baghdad dan mempergunakan banyak waktunya untuk mencoba mengembangkan pendidikan gratis bagi khalayak.
Kisah itu merupakan suatu gambaran mengenai sebuah kehidupan. Kisah ini merupakan kisah nyata tentang kehidupan salah seorang Sufi terbesar yang pernah hidup.
Kisah ini, yang oleh beberapa orang dianggap merujuk pada tiga agama: Yahudi, Kristen, dan Islam, muncul dalam bentuk yang agak berbeda dalam karya-karya Boccacio, Gesta Romanorum dan Decamerun.
Dalam menilai kesan yang tampak, kau mengaitkan kesalahan dengan hal yang menentukan bentuk. Berhati-hatilah tentang hal ini! Jangan menganggap wajahku yang buruk sebagai suatu kesalahan.
Dalam kisah ini, Raja yang Menang adalah perwujudan 'fungsi akal yang lebih tinggi', yang disebut Rumi 'Roh Manusia', yang harus manusia kembangkan sebelum ia bisa berfungsi dalam keadaan tercerahkan.
Orang yang sering beribadah mudah terkena penyakit ujub dan takabur. Maka Abu Yazid menganjurkan muridnya berlatih menjadi orang hina agar ego dan keinginan untuk menonjol dan dihormati segera hilang.
Kisah ini menggarisbawahi secara dramatis perbedaan antara apa yang calon murid pikirkan tentang hubungan yang seharusnya dengan sang guru dan seperti apa pada kenyataannya.
Kisah ini, tanpa disertai penafsiran yang ditampilkan di sini, ditemukan dalam karya klasik ternama, Akhlaq-i-Mohsini (Etika Dermawan) yang dikarang oleh Hasan Waiz Kashifi.
Gagasannya konstruktif bahwa dengan menyerap ajaran ini lewat kisah-kisah sentilan, orang-orang tertentu mampu benar-benar meningkatkan kepedihan mereka terhadap kecenderungan tersembunyi tersebut.
Kisah ini diterbitkan oleh seorang Fransiskan, Roger Bacon yang suka mengutip filsafat Sufi dan mengajar di Oxford, dan oleh karena itu ia kemudian dipecat atas perintah Paus dan Boerhaave, ahli kimia abad ketujuh belas.
Aku cemburu kepada diriku sendiri yang telah mengenal-Nya, karena aku ingin tiada sesuatu pun kecuali Dia yang mengenal diri-Nya. Mengenai pengetahuan-Nya, apakah peduliku.
Imam Ghazali mempergunakannya pada abad kesebelas dalam Al-Kimia Kebahagiaan untuk menggaris bawahi ajaran sufi bahwa hanya beberapa dari sekian benda yang kita akrabi yang memiliki pertalian dengan 'dimensi lain'
Tokoh yang sering mengulang-ulang kisah ini adalah salah seorang dari orang-orang pertama yang menyandang gelar Sufi: Jabir bin Al-Hayyan, yang dalam bahasa Latin disebut Geber, yang juga perintis al-Kimia Kristen.