Bidah sering hadir dengan wajah suci, tapi berpotensi menggoyahkan akidah. Dari Khawarij hingga ritual modern, persoalan ini tetap jadi perdebatan antara purifikasi dan tradisi.
Perdebatan tentang siapa sejatinya iblis berlangsung sejak berabad-abad lalu. Dalam literatur tafsir klasik dan modern, dua arus besar pendapat bertahan hingga kini.
Mengapa ketika Hawa telah memakan buah pohon itu pakaiannya tidak terlepas saat itu juga, sementara ketika Adam memakannya, seketika itu juga pakaiannya terlepas?
Adam suka meminum arak tatkala tinggal di surga. Apabila dia meminumnya, maka dia mendapat kebahagiaan yang bertambah. Barang siapa meminum arak dunia, maka dia tidak akan bisa meminum arak dari surga.
Mengapa Allah membinasakan musuh-musuh para nabi, tetapi Dia membiarkan Iblis, musuh Adam, tetap hidup? Rasulullah SAW bersabda, Seandainya Allah menghendaki untuk tidak dimaksiati, tentu Dia tidak menciptakan Iblis.
Setelah Namrudz dan para pembantunya sepakat untuk membakar Ibrahim as, dia memerintahkan untuk mengumpulkan kayu-kayu bakar dari gunung dengan diangkut oleh bagal.
Ibnu Abbas' menafsirkan, Yang dimaksud adalah nama-nama yang benda yang diketahui manusia, mulai dari manusia, hewan, bumi, tanah, lautan, gunung, unta, keledai, dan nama-nama benda lainnya.
Si Iblis menjawab, Aku lebih baik daripada dia karena Engkau telah menciptakanku dari api, sementara dia Engkau ciptakan dari tanah. Aku adalah yang telah beribadah kepada-Mu sekian lamanya sebelum Engkau menciptakan dia.
Ternyata iblis telah mengadakan tawar menawar dengan Allah, minta agar hukuman kepadanya ditangguhkan sampai hari ketika manusia, keturunan Adam, dibangkitkan kelak.