LANGIT7.ID-Perdebatan tentang siapa sejatinya
iblis berlangsung sejak berabad-abad lalu. Dalam literatur tafsir klasik dan modern, dua arus besar pendapat bertahan hingga kini: satu menyebut iblis berasal dari golongan
malaikat yang membangkang; yang lain meyakini bahwa ia adalah jin yang durhaka.
Pandangan pertama diwakili oleh tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan Said bin Musayib. Bagi mereka, iblis adalah pemimpin para malaikat di langit dunia. Ibnu Abbas bahkan menyebut namanya sebagai
عَزَازِيل (Azazil), atau dalam riwayat lain
الْحَارِث (Al-Harits). Ada pula yang menisbahkannya dengan julukan
أبو كردوس (Abu Kurdus). Dalam riwayat yang dikutip dari Ibnu Abbas, iblis disebut bagian dari kelompok malaikat yang dinamakan *al-hin*, makhluk paling rajin beribadah, berilmu, dan paling dihormati sebelum akhirnya terusir karena kesombongannya.
Dalil utama pandangan ini bertumpu pada firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 34:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِآدَمَ فَسَجَدُوْٓا إِلَّآ إِبْلِيْسَۗ أَبٰى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَDan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.
Baca juga: Adam Gemar Minum Arak di Surga: Detik-Detik Iblis Menyesatkannya Redaksi ayat ini tampak memberi isyarat bahwa iblis termasuk dalam kelompok malaikat, sebab ia disebut setelah illā (pengecualian) dari malaikat. “Andai iblis bukan bagian dari malaikat,” kata Ibnu Abbas, “tentu dia tidak diperintahkan untuk sujud bersama mereka.”
Selain itu, sebagian ulama menafsirkan jin dalam ayat QS As-Saffat: 158 sebagai malaikat:
وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ ٱلْجِنَّةِ نَسَبًا ۚ وَلَقَدْ عَلِمَتِ ٱلْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَDan mereka adakan hubungan nasab antara Allah dan antara jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka).
Pandangan kedua datang dari barisan ulama seperti Hasan Al-Bashri, Al-Zamakhsyari, Abu Al-Baqa’, Fakhrurrazi, dan As-Syanqiti. Mereka berpegang pada QS Al-Kahfi: 50:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِآدَمَ فَسَجَدُوا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِDan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.
Baca juga: Asal-usul Pusar dan Ubun-Ubun, Kisah Iblis Memukul Perut Adam Bagi mereka, ayat ini cukup gamblang: iblis berasal dari golongan jin, bukan malaikat. Sebab sifat malaikat sudah jelas dalam QS At-Tahrim: 6:
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَMereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Hasan Al-Bashri menegaskan, malaikat tidak makan, tidak minum, tidak memiliki keturunan, sedangkan iblis dan keturunannya berkembang biak sebagaimana manusia. “Mereka makan dan minum,” ujarnya.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ menjelaskan asal penciptaan mereka:
الْمَلَائِكَةُ خُلِقُوا مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْMalaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari tanah sebagaimana telah dijelaskan kepadamu.
Alasan lain yang dikemukakan kubu kedua adalah ucapan iblis sendiri, yang merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, bukan tanah:
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍAllah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku perintahkan kepadamu?” Iblis menjawab: “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A’raf: 12)
Baca juga: Kisah Namrud Membakar Nabi Ibrahim dalam Lautan Api: Iblis Datang Mengajari Ayat lain juga mempertegas perbedaan antara malaikat dan jin:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَٰؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَDan (ingatlah) hari ketika Allah mengumpulkan mereka semuanya, lalu Allah berfirman kepada para malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah kalian?” (QS Saba: 40)
Pertanyaan ini, menurut para mufasir, menunjukkan bahwa manusia menyembah jin, bukan malaikat, sehingga iblis bukan bagian dari malaikat.
Perdebatan panjang ini sejatinya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa di balik keindahan ibadah, kepatuhan, dan kecantikan makhluk seperti iblis ketika masih mulia, tersembunyi potensi kesombongan yang bisa menjatuhkan siapa saja.
Wallahu a’lam.(mif)