Di dalam gua sang ibu melahirkan Ibrahim. Ia melihat kening putranya memancarkan cahaya. Di malam kelahirannya, berhala-berhala berjatuhan, mahkota-mahkota terlepas dari kepala-kepalanya, dan balkon gedung Namrudz ambruk.
Perempuan itu membawa Namrudz, dan melemparkannya ke tanah lapang di antara kumpulan sapi yang sedang merumput. Anehnya, semua sapi menjauhinya dan setiap kali ada binatang yang melihatnya, binatang itu kabur menjauhinya.
Tatkala Nabi Ibrahim mendatangi rumah Ismail, beliau hanya berjumpa sang menantu. Istri Nabi Ismail itu mengeluh tentang kehidupannya. Inilah yang membuat Nabi Ibrahim minta agar Ismail menceraikan istrinya.
Satu ketika Nabi Yaqub berselisih dengan saudara kembarnya itu. Ibunda mereka berdua menasihati si bungsu untuk pergi menjauhkan diri ke tempat saudara bapaknya di Harran, Iraq.
Pengembaraan Ibrahim membuat ia dan keluarganya sampai ke Palestina atau Kanan. Suku-suku yang mendiami Kanan atau Palestina pada saat Ibrahim tiba, di antaranya adalah suku Kananit, Moabit, Amelekit dan Amorit.
Istighfar Nabi Ibrahim mengajarkan kita cara memohon ampun yang istimewa. Dengan mengikuti teladannya, kita bisa meraih berbagai manfaat spiritual dan duniawi. Mulai dari mendekatkan diri pada Allah, berbakti pada orang tua, hingga melancarkan rezeki. Mari perbanyak istighfar ala Nabi Ibrahim untuk kehidupan yang lebih barokah.
Al-Baqarah, surat terpanjang Al-Qur'an, menyimpan keindahan tak terbatas. Ia menjadi penawar jiwa di tengah hiruk-pikuk dunia. Dari Ayat Kursi hingga kisah Nabi Ibrahim, setiap ayatnya mengajarkan ketaatan, kesabaran, dan kedekatan dengan Allah. Al-Baqarah adalah kompas spiritual yang selalu relevan, membimbing umat menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sambil menunggu boarding dari bandara kampung halaman, saya terbetik untuk menulis ulang 10 kriteria kepemimpinan Ibrahim AS. Tulisan ini pernah saya sampaikan beberapa waktu lalu
Nama Nabi Ibrahim AS disebutkan sebanyak 69 kali di dalam Al-Qur'an. Sadar atau tidak, Allah SWT mengikat atau menghubungkan Nabi Ibrahim AS dengan umat Nabi Muhammad
Sebagaimana biasanya kunjungan saya ke Indonesia selalu padat dengan undangan ceramah, seminar dll. Seringkali yang ingin didengarkan oleh masyarakat Indonesia
Pelaksanaan shalat Idul Adha 1444 H di Masjid Bayt Al-Quran, Pondok Cabe, Tangerang berlangsung khidmat. Khutbah yang dibawakan oleh KH. Ulil Abshar Abdalla, MA
Saya memulai tulisan ini dengan mengajak kita semua menundukkan wajah kita yang mulia, merendahkan jiwa kita yang hanif, merenungkan azhomatullah (keagungan Allah)