Kata tafsir sendiri memiliki makna penjelasan atau penampakan makna, kemudian tafsir diartikan sebagai ilmu yang dapat menyempurnakan Al-Qur'an, mengartikan setiap makna menyempurnakan Al-Qur'an, menjelaskan hukum dalam Al-Qur'an serta menjabarkan permasalahannya.
Ayat-ayat yang turun dalam periode Makkah ini kemudian disebut Makkiyah yang berjumlah 4.726 ayat dan terdiri dari 89 surat. Sedangkan ayat-ayat yang turun dalam periode Madinah disebut Madaniyah yang berjumlah 1.510 ayat dan terdiri dari 25 surat.
KH Jeje menjelaskan, banyak orang-orang kafir yang percaya akan adanya hari kiamat. Namun yang mereka tidak percaya yakni kehidupan setelah hari akhir.
Di antaranya senantiasa membaca dengan tertib dan tidak tergesa-gesa atau tartil. Membaca Al-Qur'an dengan tartil artinya membaca dengan terang dan jelas.
Pendakwah, Habib Hasan Bin Ismail Al Muhdor mengatakan beribadah jangan dipaksa. Ibadah harus dinikmati, misal salat dengan nyaman, membaca Al-Qur'an dengan asyik tidak terbebani ngantuk berat dan lainya.
Dalam hadis riwayat Muslim dijelaskan tentang keutamaan membaca Al-Qur'an, yaitu Allah Ta'ala akan menurunkan ketenangan, rahmat, dan memuji suatu kaum yang melantunkan ayat-ayat Al-Quran, serta malaikat akan melingkarinya.
Meski hanya perumpamaan buah, akan tetapi perumpamaan ini begitu berarti dalam hidup manusia. Sebab, dengan adanya perumpamaan tersebut semakin menyadarkan umat mukmin bahwa membaca Al-Quran sangat bernilai ibadah.
Pendakwah Ustaz Adi Hidayat mengatakan, sebagai umat muslim tidak cukup hanya mampu membaca Al-Qur'an saja, melainkan juga memahami dan mengamalkan isi dalam Al-Qur'an agar mendapatkan kebahagiaan dari Allah SWT.
Prof Dr Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan, tujuan dua malaikat ini sebenarnya adalah untuk mengajari manusia membedakan antara sihir dan mukiizat. Selain itu supaya mereka tahu bahwa ahli sihir yang mengaku nabi secara dusta sebenarnya adalah tukang sihir, bukan nabi.
Salah satu cara Allah Ta'ala menjaga Al-Qur'an, yaitu dengan menyimpan di dada Nabi Muhammad Saw sebagai utusanNya kemudian di dalam dada umat Nabi Muhammad sebagai hambaNya.