Mengenal KH Abdul Syukur Yusuf, Penerus KH Arifin Ilham di Majelis Az-Zikra
MuhajirinKamis, 07 April 2022 - 21:19 WIB
KH Abdul Syukur Yusuf
LANGIT7.ID, Jakarta - KH Abdul Syukur Yusuf kini sering tampil di berbagai layar kaca sebagai pengganti KH Arifin Ilham, dai kondang yang terkenal dengan metode dzikirnya. Dia kini mengemban amanah sebagai pimpinan Majelis Az-Zikra.
Abdul Syukur lahir dari keluarga yang taat agama. Ayah dan Ibunya merupakan guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Dari situ, ia mendapatkan pelajaran agama sejak dini. Di sisi lain, orang tuanya berprofesi sebagai penjaga kebun milik KH Ahmad Syaiful, salah satu ulama tokoh Nahdlatul Ulama (NU).
Suatu ketika, Kiai Syaiful berkunjung ke kebun tersebut dan mengutarakan niat untuk membangun pesantren. “Orang tua saya sangat senang, apalagi beliau ulama dan mau Bangun pesantren,” kata Abdul Syukur dalam acara Apa Kabar Ustadz LANGIT7.ID, Kamis (7/4/2022).
Pesantren yang dibangun itu kini menjadi salah satu ikon lembaga pendidikan Islam di Depok, Jawa Barat, yakni Pesantren Al-Hamidiyah. Di pesantren itu, Abdul Syukur menerima banyak tempaan hingga menjadi pendakwah di kemudian hari.
“Memang, sejak kecil, hati tergerak untuk berdakwah. Karena berada di lingkungan para guru, itu sesuatu yang mahal yang saya dapatkan. Teman-teman bermain, saya agak kurang mainnya. Saya belajar di pondok. Tapi, Alhamdulillah, (kini) dirasakan betul manfaatnya,” kata Abdul Syukur.
Selain itu, Abdul Syukur menyebut kesuksesan yang kini diraih tak lepas dari doa-doa dari para guru dan ulama. Sejak kecil, ia sering didoakan oleh para guru, bahkan kerap dibawa ke rumah seorang ulama agar didoakan secara khusus.
Belajar di Pesantren Al-Hamidiyah
Abdul Syukur sudah mendapat tawaran ujian akhir nasional saat masih duduk kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan di MTs dan MA Al-Hamidiyah.
Ada banyak pengalaman yang didapatkannya di pesantren ini. Salah satu yang paling penting, kata dia, pendidikan pesantren tak sekadar menransfer ilmu semata, tapi santri dididik agar menjadi manusia bertakwa, beradab, dan berilmu.
“Jadi, di pesantren tidak sekadar belajar mengajar saja, tapi memang dididik kesehariannya,” tutur Abdul Syukur.
Al-Hamidiyah punya program Kegiatan Pengabdian Masyarakat (KMP). Dari program itu, Abdul Syukur belajar berdakwah di lapangan. Ia pernah dikirim ke Jawa Timur dan Bali untuk berdakwah.
“Saat pertama, ramai sekali. Hari kedua, tidak bisa tampil. Jadi, sejak di pesantren kami sudah merasakan ‘pencekalan’. Itu lika-liku proses dakwah,” kata Abdul Syukur.
Di sisi lain, Abdul Syukur juga mendapatkan pendidikan dakwah dari Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kota Depok, KH Ahmad Dimyati Badruzzaman. “Beliau guru dakwah saya sampai hari ini,” katanya.
Dia pernah diajak berdakwah ke Garut dan Bandung. Dari sana, ia mendapat pelajaran dakwah lapangan. Tak hanya itu, perhatian guru kepada murid juga ia saksikan secara langsung.
Abdul Syukur mengaku kesulitan menaiki mobil. Saat bepergian jauh menggunakan kendaraan roda empat itu, mabuk kendaraan sudah jadi hal biasa. Namun, sang guru selalu merawat dan memperhatikan hal itu.
“Saya merasakan perhatian guru yang luar biasa,” tutur dia.
Bertemu dan Berguru kepada Ustadz Arifin Ilham
Saat Kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Abdul Syukur sudah aktif berdakwah. Ia kerap diminta mengisi ceramah hingga khutbah Jumat. Hingga suatu ketika, dia mendapat jadwal khutbah di masjid kompleks tempat KH Arifin Ilham tinggal.
“Ustadz Arifin itu orangnya cepat akrab. Dia langsung memposisikan diri sebagai abang, dan saya dianggap sebagai adik,” kata Abdul Syukur.
Pertemuan itu membuat Abdul Syukur selalu terngiang untuk berguru langsung kepada Ustadz Arifin Ilham. Hingga saat usai wisuda, ia datang dan menawarkan diri untuk menjadi murid.
Abdul Syukur tak diminta masuk kelas atau membawa buku. Dia diminta ikut ke mana pun Ustadz Arifin mengisi acara Majelis Dzikir. “Ada satu kata-kata beliau yang tidak saya lupa sampai sekarang, ‘Ikut dan lihat, ambil yang menurut Antum baik, dan tinggalkan yang jelek’,” katanya.
Itu merupakan bentuk ketawadhuan seorang guru. Benar saja, Ustadz Arifin tak pernah memberikan pelajaran secara teori. Abdul Syukur diminta praktik langsung, termasuk mengamalkan 7 sunnah harian seperti Shalat berjamaah, Tahajud, Dhuha, baca Al-Qur’an, sedekah, menjaga wudhu, dan beristighfar.
Saat mengisi Majelis Zikir, Abdul Syukur selalu duduk di samping Ustadz Arifin Ilham. Dia memperhatikan dan belajar langsung. Hingga saat permintaan masyarakat sangat banyak, dia diminta untuk memimpin Majelis Dzikir tersebut.
Perkembangan Abdul Syukur selalu dipantau. “Sampai ditanyakan kepada panitia, apa kekurangan Majelis Dzikir dari saya. Sampai segitu diperhatikan,” ucapnya.
Hal paling berkesan dari Ustadz Arifin adalah doa. Abdul Syukur mengaku doa merupakan paling dahsyat yang pernah diberikan Ustadz Arifin. Hingga menjelang wafat, Ustadz Arifin masih sempat mendoakan murid kesayangan itu.
Hingga Ustadz Arifin dalam kondisi tak lagi bisa bicara dan terbaring lemas di salah satu rumah sakit di Malaysia, doa masih sempat dipanjatkan. “Saya jenguk, beliau tulis di papan tulis, ‘Abang sudah doakan khusus untuk Antum’,” kata Abdul Syukur membaca tulisan Ustadz Arifin Ilham.
Hingga hari ini, Abdul Syukur menggantikan posisi Ustadz Arifin Ilham sebagai pimpinan Majelis Adz-Zikra. Mendengar lantunan dzikir beliau seperti suara serak-serak basah Ustadz Arifin samar terdengar. Itu salah satu bentuk keberhasilan Ustadz Arifin dalam mendidik murid.