LANGIT7 -, Jakarta - Forum Zakat (FOZ) menggelar
Indonesia Giving Fest Zakat Expo 2022 pada 23-24 Desember 2022 di Tennis Indoor Senayan Jakarta. Acara tersebut menampilkan puluhan booth zakat dan
produk UMKM di seluruh Indonesia.
Salah satu booth yang cukup menarik perhatian LANGIT7 adalah
Kopi Santri. Pasalnya, stan ini menawarkan kopi yang dibuat oleh para santri Pesantren At-Taslim di Pangalengan, Jawa Barat.
Kopi Santri merupakan booth milik Rumah Zakat.
Baca juga: Kisah Ainun Najib, Santri Desa Jadi Data Scientist MenduniaBrand Activation Rumah Zakat Usman Priatna mengaku memilih kopi dari Pangalengan karena merupakan produk unggulan dari desa binaan yang dikelola para santri dan masyarat setempat.
"Kopi di Pangalengan cukup baik dan bagus responsnya. Bahkan sudah sering mendapat apresiasi dari berbagai lembaga dan kementerian. Kita hadirkan sekarang di sini dengan konsep Kopi Santri, di mana baristanya asli santri di Pangalengan," ujar Usman saat ditemui di Jakarta, Jumat (23/12/2022).
Selain produk unggulan, alasan lain Rumah Zakat mengajak para santri ini sebagai bentuk apresiasi terhadap para siswa pesantren dan masyarakat yang tergabung di desa berdaya Rumah Zakat.
Harapannya agar mereka terus berkembang dan mempunyai semangat untuk mengembangkan desa berdaya tersebut. "Dan untuk para santri diharapkan ini menjadi pengalaman yang sangat menarik buat mereka untuk belajar cara mengelola kopi dan menjadi barista di sini," katanya.
Usman mengaku label Kopi Santri baru dipakai. Namun kopi Pengalengan sendiri sudah sering dibawakan dalam setiap acara-acara termasuk G20 di Bali.
Dia lantas berkata, kopi yang mereka sajikan tidak dijual atau gratis bagi siapapun.
Cara mendapatkannya pun mudah, cukup dengan mengunduh aplikasi Rumah Zakat.
Baca juga: Program Baznas Santripreneur Tingkatkan Pendapatan Nur Aini Salah satu santri pesantren At-Taslim di Pangalengan sekaligus barista Kopi Santri, Mifta Fauzi mengaku bersyukur diajak untuk membuat kopi dalam setiap acara yang di ikuti Rumah Zakat.
Pria berusia 23 tahun itu mengaku mendapatkan pengalaman baru dengan mendatangi banyak tempat di berbagai daerah di Indonesia.
"Alhamdulillah Rumah Zakat terus mendampingi santri-santrinya untuk terus mengelola bisnis di bidang kopi seperti ini. Bersyukur banget diajak. Kemarin juga sudah ke Bali, Kediri, Bandung, dan sekarang alhamdulillah di Jakarta," ucapnya.
Ilmu membuat kopi layaknya barista profesional didapat Mifta dari pesantrennya yang dibuat dalam bentuk ekskul. Jadi siapa yang berminat bisa bergabung dan Mifta salah satunya.
"Di pesantren ada pelatihan barista, saya ikutan di bidang itu selama 23 hari. Selama 21 hari pelatihan dari pertama penanaman sampai jadi kopi terus dua hari ujian kompetensi untuk mendapatkan sertifikat BNSP (Badan Nasional Sertifikat Profesi)," katanya.
Ketika bergabung, awalnya ia merasa kesulitan sebab menurutnya membuat kopi tidak mudah. Namun, karena menyukainya Mifta berhasil melalui itu.
"Untuk bikin kopinya susah-susah gampang. Tapi enggak apa-apa," imbuh Mifta.
(est)