LANGIT7.ID-, Surabaya- - Masyarakat menganggap gerd dan asam lambung sama. Padahal keduanya berbeda meski sama-sama gangguan pada organ pencernaan. Asam lambung dan gerd memiliki perbedaan pada gejala dan penyebabnya.
Menurut dosen Fakultas Kedokteran Unusa, dr. Effendy Sp.PD, gerd dan asam lambung sebenarnya saling berhubungan. Penyebab asam lambung adalah bakteri, pengaruh obat-obatan, atau gaya hidup dan pola diet.
“Gerd penyebab utamanya yakni naiknya isi lambung ke kerongkongan (esophagus) karena disfungsi pada katup antara lambung dan kerongkongan,” terangnya.
Baca juga:
13 Makanan Penurun Kolesterol, Wajib Disantap Pasca LebaranPerbedaan gerd dan asam lambung juga tampak dari gejalanya. Gejala pada gerd dapat berupa gejala intestinal maupun di luar intestinal. “Asam lambung dapat dicirikan sebagai nyeri ulu hati, rasa tidak nyaman di ulu hati, cepat kenyang, kepenuhan, kembung dan mual,” jelas dr. Effendy.
Konsumsi obat-obatan seperti antasida atau golongan proton pump mungkin dapat menjadi solusi ketika penderita mengalami kambuh. Namun, jika dikonsumsi secara berkala dikhawatirkan akan memicu reborn effect. Yakni, efek balik yang lebih tinggi dari kondisi sebelum mengonsumsi.
Karena itu, ada baiknya bagi seorang penderita gerd dan asam lambung untuk mencegah kekambuhan. Menjaga kesehatan lambung dengan mengatur pola hidup dan pola makan yang sehat sangat dianjurkan.
“Utamanya, hindari makanan tinggi lemak, pedas dan asam lebih sering menyebabkan gejala kambuh. Dengan kemampuan menahan diri terhadap pemicu asam lambung, dapat menghindari keluhan lambung terutama saat bulan ramadhan,” katanya.
dr. Effendy Sp.PD – Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Unusa
Selain itu, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, mengatur waktu makan dan waktu tidur. Misalnya dengan tidak makan selama dua jam sebelum tidur. Karena, makanan yang belum selesai dicerna berpotensi kembali naik ke atas.
Kedua, hindari memakai pakaian yang terlalu ketat. Dengan tidak menggunakan pakaian yang ketat, akan mengurangi tekanan pada lambung. Makanan di lambung tidak kembali naik dan lebih mudah dicerna. Karena, tekanan lambung tidak terlalu tinggi.
Terakhir, melakukan buang air besar (BAB) secara rutin setiap hari sebab pengosongan usus besar akan menurunkan tekanan di daerah hilir.
(ori)