LANGIT7.ID- Udara Surabaya pada Selasa, 24 Maret 2026, terasa lebih gerah dari biasanya bagi Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf. Di tengah kesibukan mematangkan teknis pemberangkatan tamu Allah, riuh rendah mesin perang di Timur Tengah menjadi distraksi yang tak bisa diabaikan. Namun, di hadapan publik, Irfan mencoba memasang wajah tenang. Ia menegaskan bahwa jadwal keberangkatan jemaah haji Indonesia tetap tegak lurus pada rencana semula.
"Hingga hari ini tidak ada perubahan jadwal. Persiapan sudah hampir seratus persen," ujar Irfan dengan nada optimistis. Baginya, angka 22 April 2026 adalah titik nazar yang harus dijaga. Segala urusan dapur di Tanah Suci, mulai dari pemesanan hotel di Makkah dan Madinah, katering yang sesuai lidah nusantara, hingga armada transportasi darat, diklaim telah terkunci rapat. Urusan kantong pun disebutnya aman tanpa hambatan berarti.
Namun, di balik optimisme birokrasi itu, realitas geopolitik berbicara lain. Perang terbuka antara Iran dan aliansi Amerika Serikat-Israel telah mengubah peta langit Timur Tengah menjadi zona merah. Kabar burung mengenai penutupan ruang udara oleh otoritas Arab Saudi sempat menerbitkan cemas di dada para calon jemaah. Irfan menepisnya dengan fakta bahwa penerbangan langsung atau direct flight ke Jeddah dan Madinah masih membelah awan secara normal.
Meski begitu, nada bicara yang lebih berhati-hati datang dari Jakarta Pusat. Muhadjir Effendy, Penasihat Khusus Presiden bidang Haji, memberikan perspektif yang lebih teologis sekaligus praktis. Berbicara usai salat Id di halaman Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat, 20 Maret lalu, Muhadjir menyitir ayat suci tentang kesempurnaan haji dan umrah. Intinya: jika jalan menuju rumah Tuhan terganggu atau tidak aman, maka ibadah tersebut tidak boleh dipaksakan.
Muhadjir tak memungkiri bahwa skenario terburuk sudah masuk dalam laci meja kerja Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah Indonesia kini berdiri di atas tiga kemungkinan pahit dan manis. Skenario pertama adalah tetap berangkat dengan segala risiko. Jika ini yang dipilih, jalur penerbangan harus diputar jauh, menghindari wilayah udara Irak, Suriah, Iran, Israel, Uni Emirat Arab, hingga Qatar. Sebuah manuver yang dipastikan akan membengkakkan biaya avtur dan durasi tempuh.
Skenario kedua lebih pahit: Indonesia memilih membatalkan keberangkatan secara sepihak meski Arab Saudi masih membuka pintu. Keputusan ini akan diambil jika intelijen dan analisis risiko menunjukkan bahwa nyawa jemaah berada di ujung tanduk. Sementara skenario ketiga adalah kondisi kahar, di mana pemerintah Saudi sendiri yang menggembok layanan haji karena situasi sudah tak terkendali. Dalam kondisi ini, fokus pemerintah bergeser dari urusan ibadah ke urusan penyelamatan dana jemaah yang sudah terlanjur disetor ke penyedia layanan di sana.
Persoalannya bukan sekadar rute pesawat. Konflik di jantung energi dunia ini telah memicu krisis BBM global. Filipina sudah mengumumkan darurat energi, Thailand dan Vietnam mulai merumahkan pekerjanya demi hemat bensin. Indonesia pun tengah berjibaku mengatur nafas fiskal agar subsidi energi tidak jebol. Dalam konteks haji, kenaikan harga minyak adalah ancaman langsung bagi komponen biaya penerbangan dan akomodasi.
Irfan Yusuf dan kementeriannya memang terus menjalin komunikasi intensif dengan otoritas haji di Riyadh. Sejauh ini, pihak Saudi masih memberikan lampu hijau. Bahkan untuk urusan umrah, Irfan menjamin semua masih berjalan sesuai rel. Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) tetap diinstruksikan memenuhi ketentuan tiket penerbangan langsung demi kepastian jemaah.
Namun, bagi jemaah haji lansia dan penyandang disabilitas yang menjadi prioritas tahun ini, ketidakpastian geopolitik adalah beban mental tambahan. Di satu sisi, ada kerinduan yang membuncah pada Baitullah, di sisi lain ada bayang-bayang rudal yang melintas di langit Timur Tengah.
Pemerintah kini berada dalam posisi sulit. Menunda berarti menambah panjang antrean haji yang sudah mengular hingga puluhan tahun. Memaksakan berangkat berarti mempertaruhkan keselamatan ribuan warga negara di tengah zona konflik. Keputusan akhir kini berada di tangan Presiden Prabowo, yang harus menimbang antara ketaatan pada rukun agama dan kewajiban melindungi segenap tumpah darah.
Hingga fajar 22 April menyingsing, doa jemaah kini bukan lagi sekadar memohon haji mabrur, melainkan memohon agar langit di atas Padang Arafah tetap tenang, jauh dari gemuruh pesawat tempur.
(mif)