home edukasi & pesantren

Psikolog: Demi Pertumbuhan Anak, Jangan Sering Sindir Mereka

Senin, 17 Januari 2022 - 09:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Psikolog Disya Arinda mengingatkan para orang tua agar tidak menjadikan sindiran sebagai bagian dari pola asuh. Sindiran kerap terlontar dari orang tua secara tak sadar meski dengan maksud menerapkan kedisiplinan.

Disya memberikan beberapa kalimat sindiran yang kerap ditujukan kepada anak. Misalnya, 'Wah keren banget pulang tengah malem. Gak sekalian tahun depan aja?', 'Tumbenputri raja nyapu pagi-pagi, biasanya jam segini molor, bangun-bangun tinggal makan."

Sindiran semacam itu bisa berpengaruh bagi kepribadian anak saat dewasa kelak. Sikap kepada orang tua pun demikian. Disya mengatakan, anak usia 9-12 tahun sebenarnya sudah paham dengan sindiran atau sarkasme.

Namun, berbeda dengan anak usia pra-remaja, anak pada usia ini belum sepenuhnya memahami makna dari sindiran. Mereka juga belum mengetahui apa yang perlu dilakukan ketika disindir oleh orang dewasa.

"Pun bentuk sindiran sesama anak-anak juga biasanya simpel. Contoh, 'Pelit banget sih gak minjemin pensil. Tau deh yang pensilnya baru beli.' Nah, kondisinya konkret di depan mata. Beda hal kalau orang dewasa yang menyindir. Mungkin butuh pemikiran yang lebih jauh, maknanya lebih luas dan tersirat," tulis Disya melalui akun Twitter-nya, dikutip Senin (17/1/2022).

Disya menilai, anak yang terbiasa disindir sejak kecil akan tumbuh dengan perasaan ragu dalam melakukan sesuatu, bahkan hal yang positif sekalipun. Anak tidak terbiasa yakin dengan keputusannya, karena maksud dari 'bahasa' orang tua tidak pernah jelas.

Pada beberapa anak, kebiasaan disindir menciptakan rasa bersalah. Ketika dewasa, saat ingin orang lain merasa bersalah terhadap dirinya, ia akan menggunakan sindiran. Kemungkinan lain ialah anak jadi sensitif berlebihan, sehingga mudah tersinggung.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
pendidikan anak parenting parenting muslim psikologi anak
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya