Sejarah Perkembangan Ilmu Kedokteran Era Peradaban Islam
Muhajirin
Rabu, 26 Januari 2022 - 12:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Ilmu dan praktik kedokteran merupakan salah satu tiang dalam peradaban Islam. Ilmu ini sudah berkembang sejak era Rasulullah SAW.
Setelah umat Islam bersentuhan dengan peradaban besar melalui futuhat (pembebasan), ilmu kedokteran berkembang pesat. Ini karena mereka mempelajari ilmu kedokteran yang berkembang di peradaban lain.
Perkembangan tahap awal dikenal sebagai era penerjemahan buku-buku kedokteran Yunani maupun Persia ke bahasa Arab. Buku-buku itu paling banyak berbahasa Suryani, bahasa di sekitar Syam, yang menjadi bahasa penghubung antara Yunani dan Arab.
"Maka di masa itu, di dalam catatan sejarah ini, banyak dokter Nasrani karena mereka yang menguasai buku-buku kedokteran dan praktik kedokteran yang berbahasa Suryani. Ini proses. Karena umat Islam tidak langsung menguasai bahasa Suryani," kata pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, di kanal YouTube Sirah Community Indonesia, Rabu (25/1/2022).
Para khalifah mempekerjakan dokter-dokter tersebut, baik di Istana kekhalifahan maupun pusat-pusat penelitian umat Islam. Para dokter Nasrani ini menjadi salah satu penyangga tiang dalam peradaban Islam.
"Umat Islam, ketika membangun peradaban, membutuhkan pendukung-pendukung. Misalnya, pekerja Google saat ini banyak dari India, tapi itu bukan peradaban India, tapi peradaban Barat," kata Asep.
Di kalangan umat Islam, penerjemah paling terkenal adalah Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Dia disebut sebagai filsuf Bani Umayyah, karena cucu Muawiyah tapi tidak mau masuk dunia politik. Dia lebih menyukai dunia akademik.
Setelah umat Islam bersentuhan dengan peradaban besar melalui futuhat (pembebasan), ilmu kedokteran berkembang pesat. Ini karena mereka mempelajari ilmu kedokteran yang berkembang di peradaban lain.
Perkembangan tahap awal dikenal sebagai era penerjemahan buku-buku kedokteran Yunani maupun Persia ke bahasa Arab. Buku-buku itu paling banyak berbahasa Suryani, bahasa di sekitar Syam, yang menjadi bahasa penghubung antara Yunani dan Arab.
"Maka di masa itu, di dalam catatan sejarah ini, banyak dokter Nasrani karena mereka yang menguasai buku-buku kedokteran dan praktik kedokteran yang berbahasa Suryani. Ini proses. Karena umat Islam tidak langsung menguasai bahasa Suryani," kata pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, di kanal YouTube Sirah Community Indonesia, Rabu (25/1/2022).
Para khalifah mempekerjakan dokter-dokter tersebut, baik di Istana kekhalifahan maupun pusat-pusat penelitian umat Islam. Para dokter Nasrani ini menjadi salah satu penyangga tiang dalam peradaban Islam.
"Umat Islam, ketika membangun peradaban, membutuhkan pendukung-pendukung. Misalnya, pekerja Google saat ini banyak dari India, tapi itu bukan peradaban India, tapi peradaban Barat," kata Asep.
Di kalangan umat Islam, penerjemah paling terkenal adalah Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Dia disebut sebagai filsuf Bani Umayyah, karena cucu Muawiyah tapi tidak mau masuk dunia politik. Dia lebih menyukai dunia akademik.