LANGIT7.ID, Jakarta - Ilmu dan praktik kedokteran merupakan salah satu tiang dalam peradaban Islam. Ilmu ini sudah berkembang sejak era Rasulullah SAW.
Setelah umat Islam bersentuhan dengan peradaban besar melalui futuhat (pembebasan), ilmu kedokteran berkembang pesat. Ini karena mereka mempelajari ilmu kedokteran yang berkembang di peradaban lain.
Perkembangan tahap awal dikenal sebagai era penerjemahan buku-buku kedokteran Yunani maupun Persia ke bahasa Arab. Buku-buku itu paling banyak berbahasa Suryani, bahasa di sekitar Syam, yang menjadi bahasa penghubung antara Yunani dan Arab.
"Maka di masa itu, di dalam catatan sejarah ini, banyak dokter Nasrani karena mereka yang menguasai buku-buku kedokteran dan praktik kedokteran yang berbahasa Suryani. Ini proses. Karena umat Islam tidak langsung menguasai bahasa Suryani," kata pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, di kanal
YouTube Sirah Community Indonesia, Rabu (25/1/2022).
Para khalifah mempekerjakan dokter-dokter tersebut, baik di Istana kekhalifahan maupun pusat-pusat penelitian umat Islam. Para dokter Nasrani ini menjadi salah satu penyangga tiang dalam peradaban Islam.
"Umat Islam, ketika membangun peradaban, membutuhkan pendukung-pendukung. Misalnya, pekerja Google saat ini banyak dari India, tapi itu bukan peradaban India, tapi peradaban Barat," kata Asep.
Di kalangan umat Islam, penerjemah paling terkenal adalah Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Dia disebut sebagai filsuf Bani Umayyah, karena cucu Muawiyah tapi tidak mau masuk dunia politik. Dia lebih menyukai dunia akademik.
Dia mengumpulkan ilmuwan-ilmuwan di Mesir untuk menerjemahkan beberapa buku, kemudian dipelajari. Dia sendiri disebut menulis beberapa buku. Dua buku yang paling menonjol yang paling dikuasai Khalid adalah Kimia dan Kedokteran.
Umar Ibnu Abdul Aziz juga dikenal sebagai khalifah yang sangat perhatian sebagai kesehatan masyarakat. Ia memiliki dokter pribadi bernama Abdul Malik bin Abi Abjar Al-Kinani, yang memeluk Islam.
"Dia lalu ditugaskan mengembangkan ilmu kedokteran di Antaqia dan Harran. Daerah ini sudah menjadi pusat kedokteran sejak era Romawi," ucap Asep.
Periode penerjemahan literatur kedokteran dari Yunani ke bahasa Arab ini berlangsung pada abad ke-7 hingga ke-8. Buah pikiran para tabib era Yunani gencar dialihbahasakan. Khalifah Al-Ma'mun dari Dinasti Abbasiyah mendorong sarjana menerjemahkan literatur penting ke bahasa Arab. Mereka ditawarkan bayaran sangat tinggi berupa emas.
Ada banyak sarjana yang berperan penting dalam proses ini seperti Jurjis Ibn-Bakhtisliu, Yuhanna Ibn Masawayh, serta Hunain Ibn Ishaq.
Tahap selanjutnya adalah tahap penulisan. Proses penerjemahan pada abad ke-7 dan ke-8 membuahkan hasil. Pada abad ke-9 hingga abad ke-13 dunia kedokteran Islam berkembang pesat. Banyak rumah sakit berdiri.
Pada masa itu, rumah sakit tak hanya menjadi tempat pengobatan pasien, tapi juga menjadi tempat menimba ilmu para dokter baru. Tak heran, bila penelitian dan pengembangan yang begitu gencar menghasilkan ilmu medis baru.
Era kejayaan peradaban Islam ini telah melahirkan sejumlah dokter terkemuka dan berpengaruh di dunia kedokteran hingga sekarang. Bahkan, hasil penelitian mereka menjadi pondasi ilmu kedokteran modern.
Ada banya nama besar yang memiliki peran penting dalam ilmu kedokteran. Seperti Ibnu Sina yang menulis setidaknya 450 buku dan kebanyakan bukunya berkaitan dengan ilmu kedokteran. Beberapa karya beliau adalah Kitab Penyembuhan dan Qanun Kedokteran.
Ada pula Muhammad bin Zakariya ar-Razi. Dia merupakan pelopor keilmuan bedah saraf dan bedah mata. Dia gemar menulis berbagai buku, termasuk di bidang kedokteran, dengan beberapa karyanya yang berjudul Keraguan pada Galen dan Penyakit pada Anak.
Tokoh ketiga ada Abul Qasim az-Zahrawi. Dia memiliki karya paling terkenal yani Al-Tafsiri. Buku itu merupakan kumpulan praktik kedokteran yang terdiri 30 jilid. Ada juga nama Ibnu Al-Nafis, orang pertama yang secara akurat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia.
Ibnu Al-Nafis juga merupakan orang pertama yang mendokumentasikan sirkuit paru-paru di dalam tubuh manusia. Selanjutnya ada Abu Zaid Al-Balkhi, yang pertama kali memperkenalkan konsep kesehatan mental.
Selain nama-nama tersebut, masih banyak ilmuwan muslim yang memiliki kontribusi besar dalam ilmu kedokteran.
(jqf)