Sejarah Banten 1888, Aturan Pengeras Suara Masjid sebabkan Pemberontakan Petani
Ummu hani
Kamis, 24 Februari 2022 - 14:52 WIB
Sampul buku berjudul Pemberontakan Petani Banten tahun 1888. Foto: Istimewa
Baru-baru ini, muncul masalah baru soal aturan pengaturan penggunaan pengeras suara masjid dan musala yang diterbitkan Kementerian Agama dalam Surat Edaran (SE) Nomor 05 Tahun 2022. Haltersebut menuai kontroversi usai Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas diduga menyamakan adzan dengan suara anjing.
Banyak pihak menganggap, kontroversi yang timbul disebabkan cara komunikasi pejabat publik yang dimaksud tidak tepat. Masalah tersebut merupakan persoalan sensitif.
Baca Juga:Yaqut Diduga Samakan Adzan dengan Gonggongan, Fadli Zon: Pejabat Cari-Cari Masalah
Ada sejarah yang terjadi hanya karena pengaturan pengeras suara di masjid dan musala, menyebabkan kerusuhan Geger Cilegon atau disebut sebagai Pemberontakan Petani Banten pada tahun 1888, versi sejarawan DR Sartono Kardodirjo. Mendiang Buya Hamka pun turut menulis soal Geger Cilegon.
Dalam tulisannya, disebut awal mula rusuh sosial itudipicu soal pengaturan suara adzan di sebuah masjid di wilayah tersebut. Kisah yang ditulis Buya Hamka tak ada dalam karya Sartono Kardodirjo. Hamka mengungkapkannya dalam buku berjudul Perbendaharaan Lama yang diterbitkan Pustaka Panjimas, 1982.
Dituliskan, pemicu kerusuhan itu adalah adanya pelarangan pembacaan shalawat, tahrim, dan adzan dengan suara keras.Menurut catatan dari Pangeran Ahmad Jayadiningrat, bekas regen Serang dan salah satu pegawai tinggi pemerintah Belanda yang amat terkenal, sebab pemberontakan ialah karena di belakang rumah resident Goebels di Jombang Tengah ada sebuah langgar. Langgar itu bermenara.
Baca Juga:Kemenag: Menag Yaqut Tak Bandingkan Adzan dengan Suara Anjing
Banyak pihak menganggap, kontroversi yang timbul disebabkan cara komunikasi pejabat publik yang dimaksud tidak tepat. Masalah tersebut merupakan persoalan sensitif.
Baca Juga:Yaqut Diduga Samakan Adzan dengan Gonggongan, Fadli Zon: Pejabat Cari-Cari Masalah
Ada sejarah yang terjadi hanya karena pengaturan pengeras suara di masjid dan musala, menyebabkan kerusuhan Geger Cilegon atau disebut sebagai Pemberontakan Petani Banten pada tahun 1888, versi sejarawan DR Sartono Kardodirjo. Mendiang Buya Hamka pun turut menulis soal Geger Cilegon.
Dalam tulisannya, disebut awal mula rusuh sosial itudipicu soal pengaturan suara adzan di sebuah masjid di wilayah tersebut. Kisah yang ditulis Buya Hamka tak ada dalam karya Sartono Kardodirjo. Hamka mengungkapkannya dalam buku berjudul Perbendaharaan Lama yang diterbitkan Pustaka Panjimas, 1982.
Dituliskan, pemicu kerusuhan itu adalah adanya pelarangan pembacaan shalawat, tahrim, dan adzan dengan suara keras.Menurut catatan dari Pangeran Ahmad Jayadiningrat, bekas regen Serang dan salah satu pegawai tinggi pemerintah Belanda yang amat terkenal, sebab pemberontakan ialah karena di belakang rumah resident Goebels di Jombang Tengah ada sebuah langgar. Langgar itu bermenara.
Baca Juga:Kemenag: Menag Yaqut Tak Bandingkan Adzan dengan Suara Anjing