Gus Baha: Memanjakan Anak itu Sunnah
Muhajirin
Jum'at, 25 Februari 2022 - 14:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Mendidik anak itu susah-susah gampang. Tapi, tidak ada cara lain kecuali mendidiknya dengan kelembutan, meski harus berhadapan dengan tingkah anak yang nakal dan sukar diperintah.
Namun, keluarga Islam memiliki misi tertentu yang harus jadi standar dalam mendidik anak, yakni misi tauhid. Orang tua harus mengingat prinsip pewaris tauhid agar semangat mendidik anak. Prinsip pewaris tauhid ini telah dicontohkan oleh Allah melalui ayat-ayat parenting dalam Al-Qur'an.
"Jadi, kalau ada orang tua yang memanjakan anak demi mengawal tauhid yang ada pada anak, itu adalah ibadah," kata KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) melalui kanal Santri Gayeng, dikutip Jumat (25/2/2022).
Mengutip Kitab Fathul Muin, Gus Baha menjelaskan, disunnahkan memberi kelonggaran pada anak, yang dalam konteks ini mumpung tahap pertumbuhan mereka belum sampai pada kondisi mukallaf (sudah dikenai hukum).
Hal tersebut agar anak tak kecewa dengan sistem keluarganya sendiri. Itu dikhawatirkan nanti akan berujung pada kekecewaan anak pada sistem Islam. Ketika anak sudah mau beribadah seperti shalat dan membaca Al-Qur'an, maka orang tua mesti mendukung dengan cara yang arif.
Cara arif itu penting agar anak bisa meresapi nilai-nilai tauhid yang terkandung dalam ajaran Islam secara perlahan. Dari sisi ini, anak perlu dimanjakan dengan kemanjaan yang terukur. Misal, membelikan mainan jika melakukan kebaikan, dan seterusnya.
Teladan keluarga dalam memberi kelonggaran atau memanjakan anak sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau sangat menyayangi cucunya, Sayyidina Hasan dan Husein. Suatu ketika Hasan dan Husein pernah bermain-main dengan anak anjing.
Namun, keluarga Islam memiliki misi tertentu yang harus jadi standar dalam mendidik anak, yakni misi tauhid. Orang tua harus mengingat prinsip pewaris tauhid agar semangat mendidik anak. Prinsip pewaris tauhid ini telah dicontohkan oleh Allah melalui ayat-ayat parenting dalam Al-Qur'an.
"Jadi, kalau ada orang tua yang memanjakan anak demi mengawal tauhid yang ada pada anak, itu adalah ibadah," kata KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) melalui kanal Santri Gayeng, dikutip Jumat (25/2/2022).
Mengutip Kitab Fathul Muin, Gus Baha menjelaskan, disunnahkan memberi kelonggaran pada anak, yang dalam konteks ini mumpung tahap pertumbuhan mereka belum sampai pada kondisi mukallaf (sudah dikenai hukum).
Hal tersebut agar anak tak kecewa dengan sistem keluarganya sendiri. Itu dikhawatirkan nanti akan berujung pada kekecewaan anak pada sistem Islam. Ketika anak sudah mau beribadah seperti shalat dan membaca Al-Qur'an, maka orang tua mesti mendukung dengan cara yang arif.
Cara arif itu penting agar anak bisa meresapi nilai-nilai tauhid yang terkandung dalam ajaran Islam secara perlahan. Dari sisi ini, anak perlu dimanjakan dengan kemanjaan yang terukur. Misal, membelikan mainan jika melakukan kebaikan, dan seterusnya.
Teladan keluarga dalam memberi kelonggaran atau memanjakan anak sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau sangat menyayangi cucunya, Sayyidina Hasan dan Husein. Suatu ketika Hasan dan Husein pernah bermain-main dengan anak anjing.