home edukasi & pesantren

Tradisi Ruwahan, Mendoakan Leluhur dan Merawat Tali Silaturahmi

Kamis, 24 Maret 2022 - 11:23 WIB
Warga Srondol Kulon, Banyumanik Semarang mengikuti tradisi Ruwahan atau Nyadran (foto: istimewa)
Bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, atau Sya’ban dalam penanggalan Hijriah banyak dimanfaatkan masyarakat muslim yang tinggal di Pulau Jawa khususnya untuk mendoakan orang tua maupun para leluhurnya yang sudah menghadap sang khalik.

Mendoakan orang yang sudah meninggal biasa dilakukan langsung di makam maupun di rumah yang diikuti dengan keluarga dekat, dengan para tetangga, ataupun dilakukan di masjid atau musala dengan membaca doa.

Selain mengirim doa, kegiatan ruwahan atau nyadran tersebut biasanya juga dilengkapi dengan penyiapan aneka makanan. Selain itu, juga dibarengi pemberian makanan kepada para tetangga terdekat maupun saudara.

Baca juga:Kenali Tradisi Ruwahan jelang Ramadhan, Begini Kata Buya Yahya

Dengan tradisi ini, kerukunan antar warga di lingkungan makin terjaga. Tradisi saling tukar makanan juga menjadi mempererat tali silaturahmi.

Ketua MUI Jawa Tengah KH Ahmad Daroji mengatakan, pemberian sedekah makanan ini sangat dianjurkan dalam Islam, tidak hanya makanan tapi bisa dalam bentuk lain.

Terkait dengan tradisi ruwahan, selain mendoakan kepada orang tua yang sudah tiada, tentunya ada sisi-sisi untuk membina hubungan antarwarga.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
berdoa tradisi ajang silaturahmi bulan ramadhan ruwahan
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya