Hakikat Tasawuf dalam Islam, Satu Paket dengan Fikih dan Akidah
Muhajirin
Kamis, 24 Maret 2022 - 17:58 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Ilmu tasawuf di tengah masyarakat sedikit asing ketimbang ilmu fikih. Padahal, dua bidang keilmuan ini saling terkait dalam kehidupan pribadi seorang muslim.
Dai kondang Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, kata tasawuf berasal dari kata shafa yang berarti bersih dan suci. Dia menganalogikan istilah tasawuf dengan penyaringan. Keadaan penyaringan itu disebut shafa, kemudian hasil saringan itu disebut shufi.
“Shufi itu, sufi, adalah orang yang mengeluarkan yang buruk, lalu memasukkan yang baik. Proses penyaringan itu ditandai dengan huruf ta’. Kemudian jadilah tasawuf,” ucap UAH melalui Akhyar TV, dikutip Kamis (24/3/2022).
Istilah tasawuf sebenarnya tidak dikenal pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW dan khulafaur Rasyidin. Istilah itu baru muncul ketika Abu Hasyim al-Kufy (w. 250 H) meletakkan kata al-Sufi di belakang namanya, pada abad ke-3 Hijriah.
Abu Bakar al-Kattani mengatakan, tasawuf adalah budi pekerti. Barangsiapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal bagimu atas dirimu dalam tasawuf.
Baca juga: Yasin Ibn Isa al-Fadani, Ulama Indonesia yang Mendunia
Muhammad Amin Kurdi mendefinisikan tasawuf sebagai “Suatu yang dengannya diketahui hal ihwal dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, cara melaksanakan suluk dan perjalanan menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangannya.”
Dai kondang Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, kata tasawuf berasal dari kata shafa yang berarti bersih dan suci. Dia menganalogikan istilah tasawuf dengan penyaringan. Keadaan penyaringan itu disebut shafa, kemudian hasil saringan itu disebut shufi.
“Shufi itu, sufi, adalah orang yang mengeluarkan yang buruk, lalu memasukkan yang baik. Proses penyaringan itu ditandai dengan huruf ta’. Kemudian jadilah tasawuf,” ucap UAH melalui Akhyar TV, dikutip Kamis (24/3/2022).
Istilah tasawuf sebenarnya tidak dikenal pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW dan khulafaur Rasyidin. Istilah itu baru muncul ketika Abu Hasyim al-Kufy (w. 250 H) meletakkan kata al-Sufi di belakang namanya, pada abad ke-3 Hijriah.
Abu Bakar al-Kattani mengatakan, tasawuf adalah budi pekerti. Barangsiapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal bagimu atas dirimu dalam tasawuf.
Baca juga: Yasin Ibn Isa al-Fadani, Ulama Indonesia yang Mendunia
Muhammad Amin Kurdi mendefinisikan tasawuf sebagai “Suatu yang dengannya diketahui hal ihwal dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, cara melaksanakan suluk dan perjalanan menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangannya.”