Begini Cara Kelola Trauma Anak Korban Perceraian
Fifiyanti Abdurahman
Senin, 04 April 2022 - 14:31 WIB
Ilustrasi anak korban perceraian. Foto: Langit7/iStock
Anak korban perceraian atau broken home akan berdampak pada tumbuh kembang mereka, terutama pada mentalnya seperti emosi tidak stabil hingga akan menyebabkan trauma.
Psikolog Klinis, Astrid Regina Sapiie menjelaskan trauma merupakan suatu kondisi dimana secara emosional seseorang merasa tidak berdaya.
Menurut dia, perasaan tersebut akan muncul pada anak berapa pun usianya. Ketika mereka melihat orang tuanya bertengkar kemudian berpisah dan mereka tidak tahu akan berbuat apa.
Baca juga: Bijaklah Sikapi Masalah Rumah Tangga, Jangan Asal Cerai
"Ketika mereka berpisah, yang paling membekas pada anak ini bukan proses perceraiannya tetapi proses menuju ke sana. Karena biasanya saat proses tersebut orang tua selalu bertengkar," ujar Astrid saat live acara parenting, Bagaimana Mengelola Trauma pada Anak Korban Perceraian, Jumat (1/4/2022).
Ada studi yang mengatakan, tambah Astrid, bahwa anak yang masih balita ketika orang tuanya berpisah, cenderung menyalahkan dirinya sendiri. Karena seringkali ketika anak berbuat salah atau nakal, orang tua mengeluarkan kata-kata ancaman seperti 'Kalau kamu nakal, mama pergi ya'.
"Jadi ketika terjadinya perceraian mereka akan menyalahkan diri sendiri. Anak akan berpikir apa yang ia perbuat sehingga kedua orang tuanya berpisah," ucapnya.
Psikolog Klinis, Astrid Regina Sapiie menjelaskan trauma merupakan suatu kondisi dimana secara emosional seseorang merasa tidak berdaya.
Menurut dia, perasaan tersebut akan muncul pada anak berapa pun usianya. Ketika mereka melihat orang tuanya bertengkar kemudian berpisah dan mereka tidak tahu akan berbuat apa.
Baca juga: Bijaklah Sikapi Masalah Rumah Tangga, Jangan Asal Cerai
"Ketika mereka berpisah, yang paling membekas pada anak ini bukan proses perceraiannya tetapi proses menuju ke sana. Karena biasanya saat proses tersebut orang tua selalu bertengkar," ujar Astrid saat live acara parenting, Bagaimana Mengelola Trauma pada Anak Korban Perceraian, Jumat (1/4/2022).
Ada studi yang mengatakan, tambah Astrid, bahwa anak yang masih balita ketika orang tuanya berpisah, cenderung menyalahkan dirinya sendiri. Karena seringkali ketika anak berbuat salah atau nakal, orang tua mengeluarkan kata-kata ancaman seperti 'Kalau kamu nakal, mama pergi ya'.
"Jadi ketika terjadinya perceraian mereka akan menyalahkan diri sendiri. Anak akan berpikir apa yang ia perbuat sehingga kedua orang tuanya berpisah," ucapnya.