LANGIT7.ID - , Jakarta - Anak korban perceraian atau
broken home akan berdampak pada tumbuh kembang mereka, terutama pada mentalnya seperti emosi tidak stabil hingga akan menyebabkan trauma.
Psikolog Klinis, Astrid Regina Sapiie menjelaskan trauma merupakan suatu kondisi dimana secara emosional seseorang merasa tidak berdaya.
Menurut dia, perasaan tersebut akan muncul pada anak berapa pun usianya. Ketika mereka melihat orang tuanya bertengkar kemudian berpisah dan mereka tidak tahu akan berbuat apa.
Baca juga: Bijaklah Sikapi Masalah Rumah Tangga, Jangan Asal Cerai"Ketika mereka berpisah, yang paling membekas pada anak ini bukan proses perceraiannya tetapi proses menuju ke sana. Karena biasanya saat proses tersebut orang tua selalu bertengkar," ujar Astrid saat
live acara
parenting, Bagaimana Mengelola Trauma pada Anak Korban Perceraian, Jumat (1/4/2022).
Ada studi yang mengatakan, tambah Astrid, bahwa anak yang masih balita ketika orang tuanya berpisah, cenderung menyalahkan dirinya sendiri. Karena seringkali ketika anak berbuat salah atau nakal, orang tua mengeluarkan kata-kata ancaman seperti 'Kalau kamu nakal, mama pergi ya'.
"Jadi ketika terjadinya perceraian mereka akan menyalahkan diri sendiri. Anak akan berpikir apa yang ia perbuat sehingga kedua orang tuanya berpisah," ucapnya.
Baca juga: Islam Punya 5 Cara Sembuhkan Trauma Hati, Apa Saja?Inilah kenapa kasus perceraian orang tua sangat membekas pada anak. Apakah ini bisa dicegah? Sangat bisa. Jika para orang tua ini berpikir tentang anak mereka. Lantas, bagaimana cara mengatasinya?
CEO Dear Astrid ini menyarankan saat ada ketidakcocokan dengan pasangan yang berpotensi pada perceraian, sebaiknya beri tahu anak sejak awal. Menurutnya, menjelaskan kepada anak kondisi orang tua merupakan solusi yang tepat.
"Jelaskan kepada mereka itu bukan salah mereka. Meskipun orang tua berpisah, ia akan tetap disayangi dan dicintai. Tidak sampai di situ, berikan mereka jaminan bahwa setelah kalian bercerai mereka masih bisa bertemu kalian berdua," ungkapnya.
"Nah, kalau orang tua bisa mengendalikan diri dan bisa mempersiapkan anak, maka
InsyaAllah tidak akan terjadi yang namanya trauma," pungkas Astrid.
(est)