Guru Besar UNY: Akses Minyak Goreng Munculkan Realitas Struktur Sosial
Redaksi
Senin, 09 Mei 2022 - 20:47 WIB
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
Bagi masyarakat Indonesia, minyak goreng menjadi salah satu kebutuhan pokok. Sebab, bahan ini dikonsumsi hampir sebagian masyarakat Tanah Air.
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Dr Marwanti mengatakan minyak goreng di Indonesia sudah digunakan sejak nenek moyang menggunakan minyak kelapa. Karena hal itulah, kemungkinan penggunaan minyak goreng tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Baca juga: Larang Ekspor Minyak Goreng, Mendag Terbitkan Permendag 22 tahun 2022
“Bahkan dalam kondisi minimal, ketika bahan-bahan mentah untuk sambal saja sebagian digoreng dulu sebelum diulek” kata Marwanti seperti dikutip dari laman resmi UNY, Senin (9/5/2022).
Namun, di sisi lain penggunaan minyak goreng yang berlebih bisa memunculkan sejumlah permasalahan kesehatan. Sebut saja obesitas, kolesterol berlebih, asam urat, gangguan jantung, diabetes, terganggunya fungsi otak, kanker dan sebagainya.
Menariknya, aksesibilitas minyak goreng pada akhirnya menghasilkan realitas struktur sosial masyarakatnya. Seperti minyak goreng murah yang mudah diakses masyarakat kelas bawah dengan harga dinamis. Tapi hal tersebut membawa efek buruk dari sisi kesehatan.
Sedangkan kelompok masyarakat kelas menengah mengakses pada minyak goreng kelas menengah juga. Dengan gaya akses pada minyak goreng jauh lebih sehat daripada kelas bawah yang umumnya mengakses minyak goreng curah, mereka justru mengelola konsumsinya atas minyak goreng ini secara terkendali.
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Dr Marwanti mengatakan minyak goreng di Indonesia sudah digunakan sejak nenek moyang menggunakan minyak kelapa. Karena hal itulah, kemungkinan penggunaan minyak goreng tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Baca juga: Larang Ekspor Minyak Goreng, Mendag Terbitkan Permendag 22 tahun 2022
“Bahkan dalam kondisi minimal, ketika bahan-bahan mentah untuk sambal saja sebagian digoreng dulu sebelum diulek” kata Marwanti seperti dikutip dari laman resmi UNY, Senin (9/5/2022).
Namun, di sisi lain penggunaan minyak goreng yang berlebih bisa memunculkan sejumlah permasalahan kesehatan. Sebut saja obesitas, kolesterol berlebih, asam urat, gangguan jantung, diabetes, terganggunya fungsi otak, kanker dan sebagainya.
Menariknya, aksesibilitas minyak goreng pada akhirnya menghasilkan realitas struktur sosial masyarakatnya. Seperti minyak goreng murah yang mudah diakses masyarakat kelas bawah dengan harga dinamis. Tapi hal tersebut membawa efek buruk dari sisi kesehatan.
Sedangkan kelompok masyarakat kelas menengah mengakses pada minyak goreng kelas menengah juga. Dengan gaya akses pada minyak goreng jauh lebih sehat daripada kelas bawah yang umumnya mengakses minyak goreng curah, mereka justru mengelola konsumsinya atas minyak goreng ini secara terkendali.